Search and Hit Enter

Asuransi Membawa ABG Keliling Dunia (Bagian 4 – Habis)

Foto : Colombo , September 2018

Pernik pernik literasi

Ia  lebih banyak bertemu dengan masyarakat yang berkumpul di komplek masjid dalam rangka kegiatan literasi di daerah Meulaboh Aceh . Bertemu dengan mereka sungguh membuat ia  menjadi kaya akan cara berkomunikasi. Di suatu desa  65 km dari Meulaboh, ia  datang dengan mobil dilanjutkan dengan menyeberangi sungai atau krueng besar. Melewati jembatan gantung tetapi jarak lebih jauh atau melewati tali tambang dengan menyeberangi sungai untuk sampai lokasi. Memberanikan diri berjalan di atas tambang, baru berjalan tidak lebih dari 50 meter, dibawah melihat derasnya sungai dan angin menerpa kencang, membuatnya ciut dan mengurungkan  diri  dengan mengambil jalan memutar. Sampai di kampung, ia  disambut dengan hangat, menghisap rokok dari daun nipah Bersama masyarakat, meminum kopi dengan cara unik dan menikmati suasana keterbukaan yang indah.

Diterima di kelompok perumahan dan tidak ada bapak-bapak, karena semua bekerja dan tinggal ibu-ibu di sebuah komunitas ibu ibu di Medan.  Bersama anak-anak memenuhi rumah kosong yang  digunakan  sebagai tempat berdiskusi. Amat menarik dari sisi pola metodik didaktik, menjelaskan suatu masalah dengan  bahasa dan ungkapan  sederhana, di depan para ibu-ibu dan anak anak yang riuh , membuatnya   tidak boleh menyerah. Menjelaskan asuransi dengan cara santai dan bermain menjadi pola yang memerlukan keahlian tersendiri.

Di Jogya, kota dimana ABG  tinggal,  berhadapan dengan sikap marah dan menolak  dari  warga yang tidak mau mendapatkan penjelasan  terkait  asuransi. Seorang bapak dengan penuh emosi berkata dalam bahasa jawa “bapak ibu bade njelaske asuransi nggih….. edan tenan, asuransi niku asu tenan  (Bapak dan ibu ini mau bicara asuransi ya….asuransi itu benar benar anjing). ABG  mendengarkan ungkapan kemarahan,  bagaimana ia  mencoba menenangkan sang bapak dan akhirnya ia minta maaf. Bersyukur sang bapak tersebut  tenang kembali mengikuti acara sampai akhir dan bisa memahami apa yang dijelaskan.  Ternyata bapak tersebut    mempunyai pengalaman  sangat mengecewakan dengan petugas  asuransi  ketika setelah membayar premi ditinggalkan begitu saja.

Di pesisir Sumatra, ia  bertemu dengan kelompok petani dan nelayan. Ternyata mereka  sudah mengenal asuransi dan menjadi kebanggaan mereka karena tahu asuransi telah dikenal dan  dimiliki oleh masyarakat di situ. Mereka pun  sadar bahwa perusahaan dimana  mereka  menaruh harapan sudah tidak beroperasi . Dengan nada sedih, mereka bertanya “ bagaimana nasib uang kami  yang ditempatkan di sana ?….”. Pengalaman pilu yang tidak mudah untuk mendapatkan jawaban.

Manado menjadi kota dengan   pengalaman unik  ketika mendapatkan tanggapan yang mengagetkan saat berbicara tentang asuransi mikro dengan premi murah  . Ibu ibu yang hadir dalam pertemuan tersebut, dengan penampilan mewah  bercerita bahwa sudah  memiliki asuransi dengan premi jutaan rupiah dari perusahaan asing  besar. Mereka berbicara asuransi unit link  yang premi bulanannya  jutaan rupiah .

Bersama tim menikmati suasana kehangatan yang luar biasa  di pulau Tanimbar . Setiap kali  menyampaikan presentasi dalam forum resmi yang difasilitasi oleh pemerintah daerah  disambut gegap gempita oleh warga . Menjelaskan asuransi mikro menjadi menarik dan  mengagetkan menjumpai ungkapan bahwa mereka berminat dengan asuransi mikro . Timbul pertanyaan apakah ada perusahaan asuransi yang mau datang ke pulau yang kecil dan terpencil. Terbukti sampai sekarang belum ada yang bersedia  masuk ke daerah tersebut.

Pertemuan menjadi sangat menarik karena mereka menyambut tim dengan sangat antusias. Dari mulut ke mulut mereka bercerita bahwa ada penjelasan tentang perlindungan yang terjangkau . Ketika  diijinkan untuk memberikan paparan di tengah pasar, tak pelak lagi  para pedagang menutup kios dan mendengarkan paparan  . Demikian juga ketika diundang di suatu desa   disambut dengan penuh kehangatan. Namun sampai sekarang mereka masih menunggu  orang asuransi datang menjual produk yang terjangkau dan sangat mereka butuhkan.

Berbagai pertemuan, diskusi dengan berbagai macam komunitas menjadi keunikan dan pengalaman yang sangat berharga   . Terjun ke masyarakat lapisan   bawah dan berbicara dengan bahasa  dan ungkapan yang sederhana menjadi kekuatan.

Dalam suatu peristiwa, di suatu pesantren Jawa Timur,  seorang kyai berhasil memperkenalkan asuransi mikro kepada para santri dan masyarakat setempat.  Demikian semangat   bahkan sempat menegur dan berbicara dengan nada tinggi   tetapi  ABG   diterima dengan ikhlas dan dengan keunikan jawa timuran bisa tergelak bersama. Peristiwanya cukup unik karena  saat terjadi klaim, pembayaran yang cepat diserahkan kepada yang berhak menerima dalam suatu upacara di pesantren. Beliau  kirim foto dan  tanpa meminta ijin, beliau membuat  spanduk dengan segala macam logo yang diperlihatkan saat presentasi. Ia  kaget dan menegur  namun dengan santai  kyai  menjawab “biar tambah keren pak, maaf ya” .

Di kota  Ende  melakukan sosialisasi diterima oleh Kapolres, para alim ulama dan upacara sangat resmi dan dilakukan di lapangan. Bagaimana ia  bisa meyakinkan perlunya asuransi mikro didepan warga  seperti penonton sepak bola, tetapi karena ia  melihat bahwa semua itu adalah antusiasme dan kesempatan yang harus dimanfaatkan.

Saat ABG berkunjung ke Mexico , hari terakhir diundang kunjungan lapangan  untuk melihat bagaimana masyarakat di sana memiliki asuransi mikro dengan  mengunjungi komunitas. Ada komunitas ibu ibu yang setiap minggu berkumpul untuk berdiskusi tentang kegiatan  seperti arisan.  Mereka juga mendiskusikan program asuransi mikro yang mereka miliki, lalu membayar premi kepada agen yang datang dalam pertemuan tersebut. Pertemuan berlangsung  di  lingkungan  peternakan kuda, sehingga kita bisa membayangkan kondisi tempat.  Begitulah  pola itu menjadi cara mereka mengenal asuransi mikro. Ia  juga diajak ke suatu perusahaan asuransi dan mendengarkan testimoni pengguna asuransi mikro. Cukup menarik bahwa asuransi ini sesuai dengan kebutuhan mereka dan  terjangkau. Ada juga cara mereka membayar preminya melalui warung yang punya alat pembayaran, seperti model laku pandai. Mexico memerlukan waktu  sembilan  tahun untuk meyakinkan bahwa asuransi mikro perlu untuk masyarakat.

Hal yang sama ia alami waktu ke Colombo, dibawa ke suatu kelompok masyarakat yang sudah begitu memahami perlunya asuransi mikro bagi kehidupan masyarakatnya dan kesetiaan perusahaan asuransi untuk mendampingi mereka.  Sehingga komunitas tersebut percaya bahwa saat mereka mengalami musibah, mereka tidak akan dikecewakan. Kepercayaan yang telah dibina dengan ketekunan menghasilkan buah yang baik bagi masyarakat.

Saat ia  di Lima, Peru, dibawa ke komunitas pedagang seperti halnya  di daerah Tanah Abang. Mereka pedagang kecil  yang berjualan berbagai macam keperluan  dan sangat tertib dalam melaksanakan kewajiban.  Manakala  tiba waktu  membayar premi untuk program asuransi mikro yang mereka miliki  mereka percaya bahwa asuransi walaupun kecil nilainya tidak akan meninggalkan mereka saat mereka mengalami musibah. Di dalam acara tersebut ia  juga dibawa ke suatu komunitas peternakan di luar kota Lima seperti padang gurun. Mereka mengembangkan peternakan ayam dan buruh puyuh.  Mereka juga sangat mengandalkan petugas asuransi yang rajin mendampingi mereka baik dalam mengumpulkan premi maupun saat terjadi klaim. Relasi kepercayaan menjadi kunci berkembangnya asuransi mikro ini.

Pengalaman lain  di Yangon, para pelaku industri mau belajar banyak bagaimana bisa mengembangkan asuransi mikro di negerinya dan mereka lihat bahwa komunitas keagamaan bisa menjadi komunitas yang akan menjadi sasaran untuk program mereka. Dalam salah satu kunjungan ke komunitas keagamaan di kota tersebut, ia  mendengar bahwa mereka ingin mendapatkan program tersebut, namun belum ada yang mau mendatangi mereka. Kesempatan tersebut ia  manfaatkan untuk menyampaikan kepada beberpa pelaku  industri dan dalam komunikasi terakhir mereka sudah menemukan suatu program yang nampaknya sesuai dengan harapan komunitas itu dengan prinsip sederhana, mudah, terjangkau dan klaimnya cepat dibayar kalau terjadi peristiwa.

Di Lusaka  menarik  karena penduduk hanya 14 juta.  Salah satu perusahaan asuransi kecil memiliki program asuransi mikro dan sudah memiliki polis sejumlah 1.4 juta .  Kiat yang ia dapatkan dan lihat sendiri adalah ketekunan mereka untuk mencari produk yang tepat untuk kehidupan mereka. Produk tersebut adalah asuransi pemakaman, bagian kehidupan yang memerlukan biaya sehingga produk asuransi pemakaman menjadi menarik dan berkembang. Ia  diajak ngobrol di stasiun bis dan angkutan antar kota. Ia  bertemu dengan para sopir  yang menjadi pemegang polis .  Menarik bahwa dalam testimoni mereka adalah bahwa dengan asuransi pemakaman, ia  bisa melaksanakan upacara pemakaman dengan kepantasan dan tidak perlu cemas karena memiliki Asuransi. Ia  juga diberitahu bagaimana peran para ibu-ibu yang sangat berperan dalam menyampaikan pentingnya asuransi pemakaman yang terjangkau bagi masyarakatnya dan ia bertemu beberapa ibu yang dengan tulus meyakinkan warga  agar mereka mau menyisihkan dana bulanan untuk asuransi pemakaman.

ABG  mensyukuri nikmat semua itu . Di negeri orang  berjuang agar mereka sadar perlunya perlindungan yang terjangkau, sebelum memiliki program perlindungan yang bukan mikro. Jembatan itu perlu dan saat terjadinya musibah dan klaim diselesaikan dengan cepat dan tepat menjadi program  penyadaran yang tepat guna. Indonesia sangat berbeda dengan negeri negeri yang ia  kunjungi. Indonesia begitu luas dan jumlah penduduk yang sangat besar. Ia  juga memahami pemahaman masyarakat Indonesia tentang asuransi masih  beragam. Tetapi kita tidak boleh berhenti. Ibaratnya air menetes di gua melalui stalagnit, tetes demi tetes membuat batu dibawahnya berlubang. Kesetiaan dan pantang menyerah walau apa yang diterima  kecil menjadi suatu cara bahwa kemauan untuk mengeluarkan dana sebagai biaya untuk pengalihan risiko menjadi pola yang harus dipikirkan.

Dalam suatu pertemuan di Madura, seorang tokoh memberi pencerahan buat ABG dengan bentuk ungkapan yang sangat menyentuh . “Kalau kita mengalami kematian dari seorang warga, setiap kali kita akan memakamkannya, kita selalu meminta agar memaafkan almarhum atau almarhumah semasa hidupnya. Kalau ada urusan hutang piutang agar segera diselesaikan. Ini urusan duniawi yang perlu dipikirkan. Program ini harus menjadi program bela rasa, program berbagi,  menyerahkan sejumlah uang, bukan untuk berjudi atau untung rugi, kita harus ikhlas, karena dengan menyerahkan dana tersebut, ia  ingin meringankan beban mereka yang mengalami kesusahan  di tempat lain yang mungkin tidak ia ketahui, Ikhlas dan tidak merasa kehilangan dana, karena dengan program itupun ia juga ingin tetap diberi umur panjang, tetapi ia ikut berbagi dengan mereka yang sedang kesusahan. Tidak ada istilah uang hangus atau hilang, kalau ada kesadaran berbagi dan berbela rasa”.

Terjun di dunia asuransi mikro ditengah masyarakat, ABG belajar langsung dari masyarakat dan menjadi kekayaan untuk menjelaskan lebih tepat guna arti  asuransi pada umumnya  dan asuransi mikro khususnya . Suatu cara untuk berbagi dan berbela rasa. Kalau semangat ini ditangkap oleh pelaku industry  dan peserta asuransi ia  yakin program perlindungan akan menjadi menarik.

Tiga  dasawarsa  penuh syukur

ABG yang mendapat pembinaan ketat dan disiplin  di biara selama lebih dari lima belas tahun, akhirnya dicemplungkan dalam dunia asuransi ,  menjadi bagian hidup tak terpisahkan selama lebih dari tiga puluh tahun .

Duapuluh tahun  ia jalani di asuransi pasar tradisional dan sejak 2011 hingga sekarang ia jalani dengan bergulat memperkenalkan dunia asuransi mikro bagi masyrakat. ABG sudah berkeliling  dari desa ke kota di Indonesia, dan satu  dasawarsa  ia berkeliling dari kota ke kota  di berbagai penjuru dunia. Memahami bagaimana masyarakat di negara lain perlu diyakinkan pentingnya asuransi mikro sebelum memiliki Asuransi konvensional yang canggih. Dunia pasar tradisional membawanya bertemu dengan masyarakat pedagang dan pembeli dan dunia asuransi mikro ia bertemu dengan berbagai tokoh yang memiliki komitmen untuk tidak menyerah memperkenalkan masyarakat perlunya perlindungan yang sederhana, murah, mudah dan cepat dalam penyelesaian claim.

Ia merasa hidup sebagai “pohon pisang” yang bisa hidup dan tumbuh dimanapun ia ditanam. Ia sudah mencoba dan menjalani sejenak dunia pendidikan yang telah mempersiapkannya sebagai seorang pelayan umat menjadi gembala. Bergulat menjadi guru dari berbagai tingkatan. Hidup ditengah pengungsi yang menderita, terbuang dari negeri asal  dan terdampar,  bersemai di ladang baru.

Menjadi kertas putih dengan perjalanan hidup   menjadi tinta mengisi  kertas putih  dengan tulisan.  Belajar, mendengarkan, memperhatikan orang lain dan berani melakukan karena mendapat pembinaan dasar yang baik dan benar menerapkan apa yang ia ketahui. Prinsip asuransi yang ia pelajari menjadi bagian dari hidupnya dan ia mengaliri hidup dengan prinsip prinsip hakiki yang ada sebagai pelayan  dalam dunia asuransi. Kepercayaan harus dijaga, integritas harus menjadi kekuatan hidup dan akhirnya ABG menyakini dirinya bahwa rejeki yang diperoleh dari keringat akan menjadi daging yang meneguhkan.

 Epilog

Tercenung  melihat banyak pasar tradisional digusur dan dirombak menjadi pasar modern. Ada yang hilang dari keunikan pasar tradisional, pedagang dan pembeli yang  beraneka perangai dan karakter serta aroma yang campur aduk. Menikmati makan di tengah kumuhnya lokasi, ocehan dan kadang-kadang perdebatan antar pedagang,  tidak dijumpainya di pasar modern. Gerak langkah para penagih utang dari lapak ke lapak, sungguh menjadi pemandangan menarik. Memasuki pasar daging sungguh mengerikan melihat kelebat parang tajam dan kaos pedagang berlumuran darah . Melihat ulah pedagang nakal agar  dagangannya menarik, belajar membedakan daging segar dan daging suntikan atau diawetkan dengan formalin.

ABG menikmati semua itu, dan setiap akhir pekan kadang tidak ia lewatkan untuk memasuki pasar, membeli ketupat sayur, atau sego pecel, atau jajan pasar.pizza jawa yang disebut  gatot.  Pasar di  setiap daerah  menyimpan keunikan makanan yang patut  dinikmati.

Terima kasih kepada KARK yang membuat  ABG  menjadi begitu dekat dengan pasar. Tiidak terlupakan  sewaktu ikut berjualan kain di pasar Giritontro, dengan menaiki truk terbuka sampai di pasar berteriak teriak menjual kain  mengobral mulut  berusaha  menjual mahal  betapapun murah harganya . Sungguh  mengingatkan adagium bahasa latin pembeli harus berhati-hati, jangan sampai tertipu “caveat emptor”.

Ia juga berharap agar asuransi mikro konvensional maupun  syariah  jangan dipandang sebagai bisnis yang tidak menghasilkan  untung, bisnis  ecek ecek yang tidak menarik. Kelemahan yang ia  jumpai bahwa pelaku asuransi terbiasa dengan bisnis  yang berkaitan dengan perbankan,  premi besar dan kurang berani menyapa masyarakat langsung dengan program asuransi yang sederhana, mudah, terjangkau dan pembayaran kaim cepat .

Bersyukur ada satu atau dua perusahaan yang bersedia terjun menggeluti bisnis ini. Bersyukur ada yang mau menjelajahi negeri untuk memperkenalkan proteksi yang terjangkau dan membuka mata bahwa asuransi menjadi payung yang tersedia sebelum hujan. Bersyukur dapat belajar dari mereka yang memiliki pandangan yang luas, bahwa asuransi mikro bukan mencari untung rugi, bukan permainan judi, tetapi membangun semangat bela rasa, semangat berbagi. Mengeluarkan dana, bukan mengharapkan suatu keuntungan semata, tetapi ia ingin berbagi, mungkin dengan dana yang sedikit ada orang lain yang akan menikmati dan menerima manfaat  saat musibah  terjadi. Ikut meringankan beban sesama yang mungkin tidak ia kenal. Semangat berbagi perlu ditumbuhkan.

Berterima kasih bahwa regulator bersedia  bersusah susah menghidupkan dan mengembangkan  program ini.  Berharap agar regulator tidak pernah berhenti mengajak pelaku industri membuka diri melayani program ini . Regulator bersedia hadir dalam berbagai pertemuan internasional yang akan memberikan wawasan bagaimana negara lain yang sedang berkembang mengembangkan program asuransi buat kaum lemah . Kegiatan ini pada  akhirnya akan membebaskan warga  dari kemiskinan. Indonesia adalah pangsa pasar besar untuk program ini. Mexico, Srilangka, Peru, Zambia, Philipina dan negara  berkembang lain berhasil dalam program asuransi mikro  tidak dalam satu dua tahun, tetapi  presistensi bertahun tahun dengan kehadiran negara  untuk mendukung.

Bersyukur  bahwa dengan dicemplungkan ke dunia perlindungan ini membuat dirinya juga tumbuh, belajar, menghormati dan ingin berbagi dengan orang lain. Pendidikan metodik dedaktik yang benar yang dipelajari di IKIP semakin meyakinkan dirinya bahwa menjadi guru bukan semata mata mencari kekayaan tetapi memiliki semangat semakin kita memberi (ilmu) semakin kitapun akan diperkaya (dalam ilmu). Jangan pernah kecewa karena kita berbagi pengetahuan kepada yang lain.

Terima kasih KUPASI, yang memaksa  memberanikan diri membuat coretan ini. Apakah cocok untuk dimuat ABG tidak tahu. Dia bukan ahli menulis, bukan doktor dengan segala referensi. Baginya referensi adalah perjumpaan, diskusi, kumpul bersama ,  ngobrol dengan para senior, pelaku industri dan masyarakat pengguna asuransi.  Selamat ulang tahun KUPASI yang keenam, semoga semakin banyak tokoh mau berbagi karya yang tertuang dalam tulisan. God Bless You All   ( Habis )

 

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up