Search and Hit Enter

Asuransi dan Risiko Perubahan Iklim

CUACA tak menentu. Di beberapa daerah terkadang masih saja panas. Padahal seharusnya sudah masuk musim penghujan.  Hujan pun kadang datang terlambat atau tidak tepat waktu. Begitu datang, membawa curah sangat tinggi. Cuaca gampang berubah, makin sulit diramalkan.

Masalah perubahan iklim sebenarnya sudah menjadi ajang pembicaraan semenjak 30 tahun lalu. Akan tetapi, kala itu, pergerakan perubahan iklim tidak begitu cepat seperti yang kita rasakan saat ini.

Pembahasan perubahan iklim biasanya dikaitkan dengan efek rumah kaca. Suatu keadaan dimana atmosfir bumi berfungsi seperti atap kaca. Sinar matahari bisa menembus masuk, namun panasnya tidak dapat keluar dari rumah kaca tersebut. Atmosfir bumi meningkat akibat kandungan yang ada dalam rumah kaca seperti karbondioksida dan metan yang mempunyai kemampuan untuk menangkap sinar infra merah dari sinar matahari yang direfleksikan oleh bumi.

Karena itu semakin besar jumlah rumah kaca semakin panas suhu di bumi kita. Hal ini akan berakibat pada meningkatnya temperatur dan mengakibatkan pemanasan global. Professor Kerry Emanuel, ahli meteorologi di Massachusetts Institute of Technology, AS, juga berpendapat bahwa ancaman badai meningkat karena pemanasan global.

Perubahan iklim menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas dan menjadi fokus bagi para ahli. Dampaknya sudah kita rasakan. Hingga tidak mengherankan jika pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon hingga 26% pada tahun 2020. Keseriusan pemerintah sudah selayaknya disambut baik. Ini karena dampak perubahan iklim merupakan risiko yang bisa terjadi pada seluruh umat manusia.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perubahan iklim bisa berpengaruh pada pola kehidupan manusia. Dari segi kesehatan, meningkatnya gelombang panas bisa menyebabkan serangan panas (heat stroke), kardiovaskuler dan gangguan pernapasan. Pola curah hujan yang beragam akan mengganggu ketersediaan air bersih. Pada akhirnya bisa menimbulkan penyakit kolera dan wabah diare.

Melelehnya lempengan es di Antartika akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut hingga 1,4 meter pada akhir abad ke-21. Akibatnya, terjadi rob di pesisir. Efek selanjutnya adalah menciptakan perpindahan penduduk, potensi kehilangan pekerjaan dan berdampak negatif pada sosial-ekonomi.

Dampak perubahan iklim juga mengakibatkan nelayan yang tidak dapat melaut karena perubahan cuaca ekstrim. Juga petani yang gagal panen karena curah hujan yang berlebihan atau kemarau yang berkepanjangan. Termasuk daerah pemukiman yang terus tergenang banjir, yang tidak lagi menjadi layak huni.

Menurut para ahli di Perserikatan Bangsa Bangsa, pada tahun 1950 penduduk di kota-kota di Asia lebih dari 231 juta jiwa. Sedangkan pada tahun 2050 nanti, diperkirakan akan mencapai 3,5 milyar manusia. Ini berarti ancaman bencana terhadap kehidupan manusia akan makin besar.

 

Belajar dari Negara Tetangga

Bulan Oktober 2011, Thailand dilanda banjir besar. Banjir yang melumpuhkan semua gerak kegiatan ekonomi ini mengakibatkan kerugian tidak kurang dari US$ 45,7 milyar. Total klaim asuransi mencapai hampir US$ 22 milyar.

Di Provinsi Ninn Binh, Vietnam juga mengalami musibah banjir. Lagi-lagi banjir ini dipercaya karena pengaruh perubahan iklim. Namun ada yang mencengangkan. Patut mendapatkan acungan jempol. Hanya dalam waktu dua minggu setelah banjir bandang, para petani kembali beraktifitas seperti sedia kala.

Pemerintah dan masyarakat di sana mempunyai program penanggulangan banjir yang dinamakan “Bertandang dengan Banjir“. Suatu program terpadu yang mengerahkan polisi, tentara, LSM dan komponen masyarakat. Mereka bekerja bahu-membahu, siaga 24 jam mengawasi pembuangan sampah, mengeruk parit, siaga terhadap bencana (khususnya musibah banjir). Hasilnya tidak kurang dari 2 juta kubik sampah dan lumpur berhasil dikeruk sehingga sungai Hoang Long  normal kembali. Ini sangat penting karena di samping untuk kepentingan dalam negeri, Vietnam juga merupakan negara pengekspor beras nomor dua di dunia.

Dampak perubahan iklim juga dirasakan  di Indonesia. Kebakaran hutan  yang terjadi di wilayah Aceh selama tahun 2012 saja terjadi tidak kurang dari  745  kasus. Jumlah tersebut setara dengan 65 persen dari seluruh kejadian kebakaran hutan antara  2007 hingga 2011 yang totalnya sekitar 1129 kasus.

Ini menunjukkan bahwa ada peningkatan jumlah yang cukup besar dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan asap kebakaran hutan ini, di samping mengganggu penerbangan, dampaknya dirasakan hingga ke negeri jiran.

Kebakaran hutan dan lahan yang kerap kali terjadi menunjukkan bahwa instansi pemerintah yang berhubungan dengan hal ini (Kementerian Kehutanan) telah gagal mengatisipasinya. Juga kurangnya pengawasan. Padahal kebijakan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan ini telah dituangkan dalam Inpress nomor 16 tahun 2011 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Pelajaran dari negara tetangga jelas memberi pesan bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara sistematis dan terencana. Upayanya mulai dari tindakan pencegahan, tanggap darurat hingga rehabilitasi. Dipelopori oleh pemerintah dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Penting bagi Asuransi

Apakah perubahan iklim penting bagi usaha asuransi? Tentu saja. Usaha asuransi adalah suatu jenis usaha pengelolaan risiko. Utamanya adalah bentuk pengelolaan suatu kejadian yang tidak bisa diketahui kapan, di mana dan akan seperti apa dampaknya. Risiko dari ketidakpastian semacam inilah yang ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Karena mengelola ketidakpastian, maka diperlukan kehati-hatian di dalam pengelolan risiko. Segala hal yang berkaitan dengan peningkatan suatu risiko (hazard) sudah selayaknya menjadi perhatian kalangan industri asuransi, baik asuransi umum maupun asuransi jiwa.

Bencana adalah peristiwa yang tidak pasti. Awalnya, kerugian bencana tak bisa diasuransikan karena kerugiannya bersifat katastrop, yakni sangat besar. Namun kemudian bencana menjadi bagian penting dalam industri asuransi. Tiap ada bencana, kerugian bisa bersifat korban jiwa, luka badan, kerusakan materi dan penderitaan.

Tiap kali ada bencana, industri asuransi termasuk yang menanggung kerugian besar. Badai Katrina yang melanda Amerika Serikat, Teluk Meksiko, Bohamasa, dan Atlantik Utara pada 25 Agustus 2005 disebut-sebut sebagai bencana dengan klaim asuransi terbesar di dunia sepanjang periode 1970-2011, yakni mencapai 74.686 dolar AS. Disusul gempa bumi dan tsunami yang melanda Jepang pada 11 Maret 2011 yang memaksa industri asuransi menggelontorkan klaim tidak kurang dari 35.000 dolar AS. Bencana alam lainnya yang tidak kalah besar klaimnya adalah Badai Andrew di Amerika Serikat dan Bahamas yang menelan dana 25.641 dolar AS, serta Serangan Teroris yang dikenal dengan peristiwa 9 September 2001 di Amerika Serikat yang membukukan klaim sebesar 23.848 dolar AS. Swiss Re, Sigma No 2/2012, juga mencatat Gempa bumi Northridge di Amerika Serikat pada 17 Januari 1994 sebagai bencana dengan jumlah klaim terbesar kelima di dunia, yakni 21.239 dolar AS.

Klaim-klaim besar tersebut didominasi badai, banjir dan topan. Semuanya terkait perubahan iklim, kecuali gempa bumi dan serangan teroris 9/11. Klaim di atas tentu saja belum memasukkan badai Sandy pada akhir Oktober 2012 di wilayah sekitar Amerika Serikat. Dahsyatnya badai tersebut merenggut banyak nyawa dan memporak-porandakan properti.

Setiap ada bencana yang menghasilkan klaim besar, efeknya tak cuma dirasakan oleh perusahaan/industri asuransi. Tetapi juga ditanggung oleh pemegang polis (tertanggung). Industri asuransi adalah industri yang saling terkoneksi jaringan global. Hal ini karena ada sistem reasuransi. Klaim asuransi yang terjadi di suatu belahan dunia, akan dirasakan juga oleh belahan dunia lainnya.

Ada market cycle  di industri asuransi dan reasuransi global. Bila ada klaim besar, maka dipastikan akan terjadi kenaikan premi (re)asuransi dunia. Inilah yang terjadi pascabadai Katrina, Wilma dan Rita tahun 2005.

Industri asuransi global butuh recovery pascaklaim besar. Setelah labanya tergerus karena bayar klaim besar, maka butuh pemasukan untuk mengembalikan laba bisnisnya. Caranya dengan menaikkan premi asuransi bencana. Ini yang disebut sebagai kondisi ‘hard market’.

Tak cuma premi yang naik. Reasuransi dunia sering menerapkan limit atau batasan besarnya klaim atau menaikkan risiko sendiri (deductible). Siapa yang menanggung dampak negatif tersebut? Perusahaan asuransi dan tertanggung.

 

Insentif untuk Tertanggung

Menyikapi data di atas, tentunya harus diantisipasi oleh pelaku industri asuransi. Meski demikian, beberapa praktisi asuransi masih mempermasalahkan bahwa bencana seperti tersebut di atas banyak juga yang diakibatkan oleh ulah manusia. Akibatnya para penanggung itu tidak begitu peduli terhadap peningkatan risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Perusahaan asuransi dan reasuransi dunia, seperti Swiss Re, memperkirakan bahwa risiko yang berhubungan dengan cuaca atau perubahan iklim akan meningkat tajam pada dekade mendatang. Peningkatan ini bisa meliputi hampir di seluruh belahan dunia. Artinya, ancaman klaim asuransi juga makin besar.

Bencana akibat perubahan iklim meningkat yang bisa disebabkan oleh banyak hal, antara lain: ketidakpedulian akan risiko perubahan iklim, urbanisasi, konsumsi air tanah yang berlebihan, naiknya permukaan air laut yang menyebabkan banjir, dan lain-lain.

Sehubungan dengan hal itu, perlu kiranya dipersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi risiko perubahan iklim. Ini akan membuat peran dan langkah industri asuransi terasa manfaatnya bagi masyarakat.

Industri asuransi bisa saja melakukan upaya prudent underwriting (hati-hati) dengan seleksi risiko ketat. Caranya dengan selektif menerima risiko rawan bencana akibat perubahan iklim. Cara ini positif. Tetapi menghambat perolehan bisnis.

Bisa juga perusahaan asuransi menaikkan risiko sendiri atau membatasi besarnya jaminan untuk risiko bencana alam. Tapi, lagi-lagi ini bersifat reaktif.

Kalangan industri asuransi tidak akan sanggup menghentikan proses alam ini. Akan tetapi yang bisa dilakukan adalah ikut dalam langkah-langkah pencegahan/penanggulangan. Antara lain pengurangan emisi karbon dan menjaga keseimbangan alam. Hal ini guna mengerem pemanasan global dan munculnya bencana alam.

Bagaimana industri asuransi mengurangi emisi karbon? Industri asuransi dapat berperan tidak langsung. Ini adalah upaya proaktif dan nyata dalam berkontribusi mengurangi dampak pemanasan global. Cara proaktif ini dilakukan dengan menggalakkan para tertanggung untuk aktif ambil bagian dalam mengurangi emisi karbon. Insentif perlu diberikan kepada tertanggung yang aktif dengan cara memberi diskon premi.

Keterlibatan tertanggung dalam menjaga keseimbangan alam, misalnya penanggulangan bahaya banjir, juga perlu diberi insentif. Bentuknya bisa dalam bentuk diskon premi, no claim bonus atau sejenisnya. Insentif dari industri asuransi tersebut tak hanya turut membantu menjaga keseimbangan alam dan mencegah percepatan pemanasan global, tetapi juga secara tidak langsung berdampak positif pada industri asuransi. Dengan upaya menekan pemanasan global, maka klaim asuransi juga turut tertekan.

Bila saja hal semacam itu bisa dilaksanakan maka akan tercapai suatu langkah yang terpadu untuk menghindari dampak risiko perubahan iklim yang  yang lebih ekstrim. Keuntungan industri asuransi ada dua, klaim asuransi bisa dikendalikan dan turut aktif berkontribusi mengerem pemanasan global.***

 

(Dari Buku “Asuransi Buat Apa, Mari Berdamai dengan Risiko”, Diterbitkan KUPASI – Gagas Bisnis Indonesia, 2012)

Saat ini Presiden Direktur  PT Jardine Lloyd Thompson, perusahaan tempat dia berkarir sejak tahun 1984 dengan meniti berbagai jabatan strategis. Sebelumnya sempat menjadi PA Manager dan Kepala Cabang Surabaya ,Bandung, Semarang dan Medan di PT American International Assurance (AIA).

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up