Search and Hit Enter

Mari Membincang Kematian dengan Santai

MEMBINCANG kematian? Dengan santai? Dahi anda seketika mungkin mengerut. Ya, mengapa tidak?

Kematian sesuatu yang tidak terelakkan, sebuah keniscayaan. Tidak seorang pun bisa menampiknya saat dia datang. Tak juga bisa ditawar. Jika pun ada penangkalan terhadapnya, itu hanya sebatas kesadaran seseorang. Begitu kesadaran itu hilang, maka pergulatan batin itu selesai.

Lalu, mengapa kita sulit membahas kematian dengan santai? Mengapa setiap kali berbincang tentang kematian, selalau ada ‘pemberontakan batin’ dan harus terdera perasaan sedih, gentar, dan takut?

Menurut Komaruddin Hidayat, dalam “Psikologi Kematian”, keengganan manusia untuk menjemput kematiannya disebabkan setidaknya dua hal. Pertama, manusia terlanjur dimanjakan dengan aneka kenikmatan duniawi yang telah dipeluknya erat-erat. Kedua, sifat kematian yang misterius. Kematian ditakuti karena manusia tidak tahu persis apa yang akan terjadi setelah kematian itu (2008 : 118).

Soal kenikmatan duniawi ini bisa kita telusuri dengan melihat upacara kematian yang digelar oleh berbagai etnik/suku bangsa di muka bumi ini. Bagi masyarakat tradisionil Cina – dan saya kira beberapa etnik lainnya, mereka tak pernah lupa memasukkan segala macam harta benda berharga ke dalam peti jenazah saat mengebumikan orang mati. Harapannya, di alam ‘sana’, sang arwah tetap dapat hidup ‘layak’ sebagaimana saat mereka masih berada di dunia fana.

Kematian sesuatu yang misterius. Pada banyak orang, kematian mungkin seperti terra incognito, sesuatu yang tidak terpetakan. Pencapaian akal budi manusia yang telah melahirkan peradaban dengan iptek supercanggih, tetap tidak mampu menelusuri jejak malaikat maut. Bahkan, ketika setiap agama merumuskan apa yang dimaksud dengan ‘hari sesudah mati’, tetap saja tidak mampu menggambarkan dunia kematian secara eksplisit.

Bagi saya, hal yang paling absurd ketika kita membahas kematian adalah karena kita merumuskan kematian dengan menggunakan logika orang hidup. Secara bercanda dengan teman, saya pernah membahas lirik sebuah lagu dangdut milik Jaja Miharja, “mau bunuh diri, tapi takut mati”. Saya berargumen bahwa sesungguhnya, bukan kematiannya yang ditakuti, tapi justru proses bunuh dirinya. Bunuh diri dengan mengiris urat nadi misalnya, pasti sakitnya tak terperi. Tapi tidakkah setelah kita mati, kita tidak merasakan kesakitan sebagaimana kesakitan yang dirasakan orang hidup? Bahkan jika kita berasumsi akan sakit saat di alam kematian pun, tentu dengan kesakitan yang berbeda saat kita masih hidup – sebuah rasa sakit yang tak bisa kita definisikan saat ini. Karena itu, mengacu pada logika itu, maka lirik di atas menurut hemat saya, seharusnya berbunyi, “mau mati, tapi takut bunuh diri.”

Anda, tentu, boleh setuju boleh tidak.

Harapan yang Tak Diinginkan

Terlepas dari perdebatan atas asumsi dan logika tentang kematian, apa boleh buat, kita masih harus menerima kenyataan bahwa sebagian masyarakat kita masih sangat sulit diajak berbincang santai tentang kematian.

Celakanya, asuransi sangat dekat dengan bahasan tentang kematian. Apalagi, asuransi jiwa. Saat memberikan pencerahan pada pembukaan Rapat Pimpinan Nasional AJB Bumiputera 1912, 17 Oktober 2012 lalu, Wakil Presiden RI periode 2004-2009, Jusuf Kalla, menyebut asuransi sebagai bisnis yang menawarkan “harapan yang tidak diinginkan”. Menurutnya, menjual asuransi adalah pekerjaan paling sulit. Bayangkan, jika Anda memberikan harapan kepada seseorang, tapi harapan itu justru tidak diinginkan: menawarkan sejumlah uang dengan ‘menukar’ jatah hidupnya. “Maaf, sekiranya Bapak nanti meninggal, kami akan memberikan santunan sekian… wah, saya pasti akan tersinggung!” kata JK dengan gayanya yang santai sambil tertawa lebar.

Ya, tapi kalau mau jujur, itulah faktanya. Meski kompensasi yang ditawarkan perusahaan asuransi bukan untuk menukar nyawa seseorang dengan sejumlah rupiah. Tapi bukan perkara mudah juga untuk menjelaskan bahwa asuransi pada prinsipnya mengganti “nilai ekonomi” seseorang jika mengalami kecelakaan, cacat, atau bahkan meninggal, misalnya. Bahwa perusahaan asuransi ingin agar kualitas hidup masyarakat tidak mengalami penurunan dari sisi ekonomi, hanya karena tiang keluarga mengalami kecelakaan, cacat atau meninggal hingga tidak ada lagi pencari nafkah. Tetap saja ujung-ujungnya bicara tentang kematian, kan? Dan kembali lagi: itu perbincangan yang mendebarkan, perbincangan yang tabu!

Dekatnya hubungan asuransi dan kematian, ditengarai menjadi salah satu penyebab seretnya penetrasi pasar asuransi di Indonesia. Usia industri asuransi Indonesia sudah lebih satu abad – jika kita menjadikan tanggal berdirinya Jiwasraya dan Bumiputera sebagai titik tolak. Tapi penetrasi asuransi masih berkisar 1,7 persen. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang mencapai 4 persen. Atau negera maju seperti Amerika Serikat dan Inggris yang asuransinya menyumbang lebih dari 8 persen atas produk domestik brutonya. Di Indonesia, terutama masyararakat yang masih berpandangan konservatif, jamak kita dengar bahwa mereka merasa seperti diharapkan atau didoakan kematiannya jika seseorang menawarkan produk asuransi jiwa kepadanya. Mereka bahkan tidak paham bahwa pelaku bisnis asuransi sedemikian khusuk berdoa agar pemegang polisnya semua berumur panjang. Karena makin tinggi jumlah kematian pemegang polis, makin merugi perusahaan asuransi.

Tidak heran jika pelaku industri asuransi harus memutar akal dan mengerahkan orang-orang kreatif untuk melakukan pendekatan ke masyarakat dan mengkomunikasikan asuransi dengan bahasa yang (sedapat mungkin) tidak menyerempet-nyerempet kematian. Asuransi lebih mudah dipasarkan dengan mengaitkannya pada hal-hal yang secara psikis dianggap lebih menyenangkan. Soal pendidikan, misalnya. Atau menyebut asuransi sebagai salah satu instrumen tabungan dan investasi. Saya kira, ini salah satu yang menjelaskan mengapa produk-produk hibrid seperti unit link lebih laku di pasaran ketimbang produk asuransi jiwa murni (konvensional).

Yang lebih ironis lagi, sejumlah pelaku asuransi jiwa bahkan seperti terserang ‘phobia’ jika harus menyebut kata asuransi di depan calon nasabah. Bayangkan, mereka menawarkan asuransi tapi pantang bicara asuransi! Tak percaya? Coba simak penawaran asuransi jiwa dari petugas telemarketing. Sia-sia Anda menunggu kata asuransi terlontar dari mulut mereka. kecuali Anda yang memulai menyebut kosa kata itu.

Aneh, kan?

Jika Kematian Lebih Berharga

Kendati demikian, tidak semua lho masyarakat Indonesia menabukan perbincangan asuransi yang dikaitkan dengan kematian. Saya pernah ngobrol dengan salah seorang agen asuransi berprestasi dari Bali. Di Pulau Dewata itu, menurutnya, tidak sulit menjual asuransi jiwa. Tidak dibutuhkan kerja keras untuk merumuskan bahasa yang digunakan petugas asuransi agar tidak menyerempet-nyerempet kematian. Di sini, perbincangan asuransi dan kematian bisa dilakukan dengan santai.

Apa pasal?

Ini terkait dengan kepercayaan masyarakat Hindu Bali. Di Bali, orang yang meninggal diperlakukan seperti orang tidur. Keluarganya pun akan senantiasa beranggapan demikian. Tidak ada isak tangis, karena jenasah secara sementara waktu dianggap tidak ada karena akan menjalani proses reinkarnasi atau menemukan peristirahatan terakhir di moksha.

Lalu, pada hari tertentu yang disepakati para pemuka agama dan tetua adat, tubuh jenasah dimasukkan di dalam peti mati. Peti ini kemudian diletakkan di dalam sarcophagus yang mirip lembu atau dalam sebuah wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas. ‘Lembu’ atau vihara inilah yang diusung ke tempat kremasi melalui prosesi adat. Puncak dari prosesi ini dikenal dengan istilah “Ngaben”, pembakaran jenasah beserta wadahnya. Konon, api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi.

Lalu, di mana peluang asuransi? Pertama, dari kepercayaan masyarakat Hindu Bali yang menganggap bahwa kematian adalah bagian dari proses reinkarnasi. Ini menumbuhkan harapan bahwa kematian hanya sementara. Kedua, agar proses reinkarnasi berjalan, mereka akan patuh dan berupaya untuk melaksanakan upacara Ngaben. Ngaben, seperti diketahui, tentu memerlukan biaya ekstra. Kombinasi dari pemaknaan akan kematian dan pentingnya melaksanakan upacara Ngaben, memudahkan petugas asuransi untuk membantu calon nasabahnya melakukan perencanaan keuangan sebagai persiapan menjemput mati.

Di Bali, menurut sang agen, masyarakat umumnya membeli asuransi untuk mempersiapkan dana kremasi. Mereka tentu berharap Ngaben dapat dilaksanakan segera setelah seseorang wafat. Untuk anggota kasta yang tinggi, ritual ini umumnya dilaksanakan dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung, bersama-sama dikremasikan.

Hampir serupa dengan Bali, masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan juga menganggap kematian bukan sesuatu yang harus diratapi berlarut-larut. Di Toraja, kematian bahkan merupakan sesuatu yang perlu dirayakan secara besar-besaran. Lebih mewah dibanding perayaan pernikahan. Perayaan kematian – yang dikenal dengan istilah “Rambu Solok”, menurut adat setempat wajib dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum/almarhumah.

Rambu Solok, tak syak, memerlukan biaya perayaan yang tak bisa dibilang kecil. Bayangkan, untuk perayaan kematian bagi masyarakat biasa/non bangsawan, berlangsung paling sedikit 2-3 hari. Keluarga yang ditinggalkan diharuskan memotong 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi. Untuk kaum bangsawan, lebih fantastis lagi. Upacara bisa berlangsung hingga dua minggu, dan pihak keluarga disyaratkan memotong kerbau antara 24 hingga 100 ekor.

Bagi keluarga yang secara ekonomi tidak memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan upacara itu, tentu melahirkan persoalan tersendiri. Sebelum keluarga memotong kerbau sesuai aturan adat, jenazah tidak boleh dikuburkan. Karena itu, tak jarang jasadnya disimpan bertahun-tahun di Tongkonan – rumah adat Toraja, hingga pihak keluarga berhasil memotong hewan sesuai ketentuan adat.

Tingginya biaya pelaksanaan upacara kematian di Toraja kerap melahirkan gurauan di antara teman-teman saya semasa sekolah di Makassar. “Jangan pacaran dengan orang Toraja, seumur-umur kamu akan dibebani utang!” Tentu saja, ini hanya gurauan yang tidak dimaksudkan bertendensi negatif. Bagi masyarakat Toraja, tentu ada filosofi yang jauh lebih tinggi nilainya dibanding pengorbanan mereka saat merayakan upacara kematian. Dan itu hanya bisa Anda pahami jika menjadi bagian dari keluarga besar suku Toraja.

Meski saya belum pernah melakukan riset menyeluruh tentang tingkat partisipasi masyarakat Toraja dalam program asuransi, namun berdasarkan data pemegang polis di sebuah perusahaan asuransi jiwa, khususnya untuk wilayah Sulawesi Selatan, cabang Toraja tergolong penyumbang premi dengan hasil yang signifikan, relatif lebih tinggi dibanding daerah tingkat dua lainnya di Sulawesi Selatan – di luar Makassar. Orang Toraja tidak sulit diajak untuk berasuransi, karena memandang kematian bukan sesuatu yang menakutkan, bahkan memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding perkawinan. Dan bahwa kematian mutlak membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai upacara Rambu Solok.

Asuransi melalui Pendekatan Budaya

Dalam pandangan Komaruddin Hidayat, keyakinan dan ketidakyakinan manusia bahwa setiap saat kita bisa dijemput kematian memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Begitu pula dengan keyakinan adanya kehidupan setelah kematian. Dengan harapan memperoleh kebahagiaan di akhirat, misalnya, maka raja-raja Mesir membangun Piramida dengan pucuknya runcing dan menjulang ke langit agar memudahkan perjalanan arwahnya menuju surga (halaman 117).

Orientasi dan pemaknaan tentang kematian bagi seseorang atau sekelompok masyarakat, pada akhirnya akan menentukan apakah kematian bisa diperbincangkan secara santai atau tidak. Tingkat partisipasi masyarakat di negara maju terhadap program asuransi yang demikian tinggi, berkorelasi pada tingkat rasionalitas penduduk yang juga tinggi. Kematian adalah sesuatu yang pasti, dan karenanya harus direncanakan antisipasinya – dengan salah satunya melalui program asuransi, agar kematian tidak menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan.

Di Indonesia, selayaknya kadar religiusitas masyarakat membawa kita ke tingkat perbincangan yang lebih lentur tentang kematian – tanpa harus dibebani perasaan sedih, gentar atau takut. Kematian selayaknya menjadi sesuatu yang perlu dipersiapkan dan dijemput secara damai. Jika itu terjadi, maka saya yakin perbincangan tentang asuransi pun – khususnya asuransi jiwa murni, akan lebih mudah dilakukan.

Namun demikian, kalau pun itu masih sulit terlaksana, pelaku asuransi mungkin harus lebih menyelami dalam-dalam tradisi dan budaya yang hidup di masyarakat kita. Indonesia sangat kaya dengan kultur, dan saya yakin, banyak celah dan cara yang bisa dilakukan untuk memasyarakatkan asuransi melalui pendekatan budaya. Bali dan Toraja hanya sedikit dari banyak contoh yang ada. ***

Saat ini CEO Maraja Communications, CEO Insurance TV dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Sastra & Gaya Hidup MAJAS. Pernah menjabat Direktur SDM dan Umum Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912, Direktur Eksekutif DPLK Bumiputera, CEO Dharma Bumiputera Foundation yang mengelola STIE Dharma Bumiputera dan Bumiputera Training Center; Kepala Departemen Komunikasi Korporat AJB Bumiputera 1912, dan dosen pada Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama) dan Universitas Paramadina, Jakarta  Selain aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, ia juga dikenal sebagai pembicara publik di bidang Komunikasi.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up