Search and Hit Enter

Jangan Mau Jadi Beban di Hari Tua

PENSIUN sejahtera tentu menjadi keinginan setiap orang. Sayangnya, dalam kenyataannya hanya sebagian kecil orang yang berhasil mencapai kondisi ini. Sebagian besarnya lagi, terpaksa terus bekerja seadanya hingga tua, atau hidup bergantung pada keluarga.

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya, karena sepanjang hidup, sebagian besar orang Indonesia cenderung melakukan kesalahan-kesalahan dalam mengelola keuangan. Banyak yang menganggap kesalahan ini tidak penting, sehingga tidak menyadari akibatnya fatal bagi keuangan di masa tua.

Karena itu, penting bagi kita  menata dan merencanakan keuangan guna mempersiapkan masa pensiun.

Pensiun Tidak Selalu Sejahtera

Pada tahun 2020 penduduk Indonesia yang berusia 55 tahun ke atas diproyeksikan Biro Pusat Statistik (BPS) mencapai 43 juta lebih. Secara ketenagakerjaan formal mereka adalah para kelompok manusia usia lanjut (manula) yang sudah pensiun atau sudah tidak bekerja. Dikatakan pensiun namum sebagian besar dari kelompok tersebut tidak memiliki uang pensiun.

Jumlah tenaga kerja pada tahun 2010 sebanyak 116 juta. Dari jumlah tersebut, yang bekerja pada sektor formal hanya sebanyak 33,74 juta atau sebesar 28,61 persen. Sedangkan sisanya, yakni 68,58 persen atau 73,6 juta orang, bekerja pada sektor informal. Sebanyak  53,31 juta dari total tenaga kerja tersebut berpendidikan sekolah dasar.

Tidak semua pekerja yang bekerja pada sektor formal memiliki program pensiun. Sebagai tolok ukur, pada tahun 2009, para pekerja yang menjadi peserta Dana Pensiun Pemberi Kerja maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan jumlahnya hanya sekitar 2 juta. Para pekerja informal yang jumlahnya lebih 70 persen dari jumlah tenaga kerja, pada umumnya tidak memiliki penghasilan tetap, tidak memiliki jaminan sosial, tidak memiliki program pensiun, serta tidak memiliki uang pesangon sebagai bekal hari tua. Berbeda dengan kelompok pekerja formal yang mempunyai jam kerja yang jelas, mempunyai perlindungan sesuai dengan UU Ketenenagakerjaan, sehingga memiliki gaji tetap, uang tunjangan hari raya, jaminan kesehatan serta uang pesangon.

Pada tahun 2009 jumlah pekerja formal yang menjadi peserta aktif Jaminan Hari Tua (JHT) Jamsostek hanya berjumlah sekitar 8,5 juta . Dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa meskipun mereka sebagai pekerja formal ternyata tidak otomatis menjadi peserta JHT Jamsostek.

Melihat kondisi di atas, tidak bisa tidak, perencanaan keuangan secara mandiri guna mempersiapkan masa pensiun, merupakan hal yang tak bisa ditawar. Itu jika Anda tidak ingin menderita di penghujung usia. Apalagi jika mengingat ‘masa depan, para pegawai swasta formal seringkali hanya berbekal duit pesangon yang besarnya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa tahun setelah pensiun. Bagi pekerja yang bekerja selama 24 tahun atau lebih akan mendapatkan uang pesangon maksimum sebesar 32,2 upah. Jika pada masa pensiun gaya hidupnya tidak disesuaikan dengan uang pesangon yang diterima  maka uang pesangon akan hanya cukup untuk hidup selama kurang dari 3 tahun.

Sementara itu, ada fenomena yang juga tidak kalah penting untuk diantisipasi. Dalam hal kualitas kesehatan, dalam kurun waktu relatif pendek, terjadi perubahan yang dramatis di Indonesia, yaitu dari awalnya banyak penyakit  infeksi yang merupakan ‘penyakit rakyat’, berubah menjadi ‘penyakit elit’ seperti jantung, stroke, diabetes dan kanker. Penyakit penyakit ini selain kronis, dapat menimbulkan gangguan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Ketergantungan (dependency) pada keluarga dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti mandi, makan ataupun bepergian ke luar rumah, sangat mempengaruhi mental seseorang yang biasa  mandiri.

 

Risiko di Usia Tua

Menjadi tua dengan dana pensiun yang tidak sebesar dengan jumlah penghasilan saat aktif bekerja, tentu menimbulkan persoalan tersendirii. Demikian pula dengan kondisi fisik yang pasti tidak memiliki stamina sekuat pada saat masih berusia muda.

Kondisi keuangan dan kondisi fisik yang berubah menimbulkan sejumlah risiko yang mungkin Anda rasakan sepanjang hidup. Namun khusus pada masa tua, permasalahan dan risiko itu menjadi lebih spesifik. Secara sederhana, beberapa kondisi hari tua yang mungkin menimpa Anda, di antaranya: 

Pertama, permasalahan pada masa tua. Contohnya, dipecat (dipensiunkan), sakit yang berkepanjangan, sulit mencari pekerjaan, biaya tinggi, pendapatan semakin berkurang.

Kedua, penggerus kesejahteraan pada masa pensiun. Misalnya, anak belum mampu mandiri, biaya pesta perkawinan anak, biaya pengobatan, dililit hutang, menghadapi tuntutan hukum, gagal menjadi pengusaha, salah investasi pada masa pensiun, dan lain-lain.

Ketiga, aneka kebutuhan biaya pada masa tua. Contohnya, membayar zakat, amal jariyah, sedekah, biaya pemeliharaan kesehatan, biaya pemeliharaan rumah, biaya sewa rumah, biaya makan dan lauk-pauk, biaya pendidikan, biaya kegiatan sosial, biaya telepon, air dan listrik, biaya hadiah untuk cucu, biaya olah raga, biaya rekreasi.

Keempat, aneka godaan penyebab tidak sejahtera pada masa tua. Misalnya godaan menjadi konsumtif, tergiur hasil investasi yang luar biasa, boros, judi, dan lain-lain.

Kelima, penyebab atau faktor-faktor risiko itu sendiri, antara lain faktor pribadi, kecelakaan, sakit yang berkepanjangan, pencari nafkah meninggal dunia pada usia dini, perang, bencana alam, perampokan/penipuan/pencurian, kebakaran, krisis ekonomi, inflasi , adanya tuntutan pihak ketiga, dan lain-lain.

Ke semua kondisi di atas menimbulkan masalah. Dan dari sisi ekonomi, risiko-risiko itu sanggup menjungkirbalikkan kondisi keuangan Anda dan membuat Anda menderita di usia senja Anda.

Antisipasi dengan Program Asuransi

Agar kita bisa mengantisipasi risiko-risiko di atas, beberapa cara dapat ditempuh  untuk menata dan merencanakan keuangan guna mempersiapkan masa pensiun, antara lain:

Pertama, Menjadi Pemegang Polis Asuransi Jiwa

Salah satu cara untuk menjamin hari tua adalah  dengan membeli polis asuransi jiwa untuk menjamin  risiko meninggal di hari tua. Seiring dengan bertambahnya usia, maka tingkat risiko kematian pada seseorang semakin tinggi. Apabila kita yang sudah pensiun dan sudah tua ini masih menjadi tulang punggung keluarga, yang disebabkan oleh belum mandirinya anak dan masih butuh biaya sekolah, maka risiko kematian pada kita akan menjadi beban yang berat bagi keluarga yang ditinggalkan. Oleh karena itu, pentingnya membeli polis asuransi jiwa pada masa kita aktif bekerja merupakan solusi terbaik untuk menjamin  risiko kematian di hari tua nanti.

Kedua, Memiliki Polis Asuransi Kesehatan Pasca Kerja

Menurut data WHO (World Health Organization) penyakit yang paling berbahaya seperti jantung, stroke, kanker dan tumor menduduki peringkat pertama dalam hal kematian. Bukan hanya kematian saja, akan tetapi memerlukan biaya pengobatan yang cukup besar.

Menurut data PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indoenesia) biaya yang diperlukan untuk pengobatan tersebut rata-rata sebesar 100 juta lebih. Sedangkan Indonesia rawan penyakit kritis dibandingkan negara-negara maju lainnya. Berbeda dengan kondisi di negara maju lainnya, di Indonesia, 80 persen masyarakatnya jauh dari harapan hidup sehat. Banyak masyarakat kita akhirnya menderita penyakit kritis karena tidak kunjung berobat, akibat kekurangan uang. Sementara itu, 20persen masyarakat menengah ke atas uangnya habis untuk mengobati penyakit berat.

Asuransi kesehatan pasca kerja adalah solusi atas biaya kesehatan pada masa tua. Perusahaan asuransi tidak bisa menyembuhkan orang yang sedang sakit tetapi perusahaan asuransi akan mengganti biaya perawatan ketika tertanggung dirawat dirumah sakit.

Ketiga, Memiliki Polis Anuitas pada Perusahaan Asuransi Jiwa

Anuitas merupakan instrumen keuangan yang digunakan sebagai sumber keuangan bagi para pensiunan. Anuitas menawarkan jaminan penghasilan seumur hidup bagi pesertanya dan janda/dudanya, bahkan sampai dengan anak usia tertentu.

Anuitas memberikan pembayaran secara berkala dalam periode tertentu. Produk anuitas pada dasarnya adalah sama dengan asuransi jiwa, yaitu memberikan proteksi terhadap kehilangan penghasilan. Tetapi antara asuransi jiwa dengan anuitas berbeda fungsi utamanya. Bila asuransi jiwa memberikan proteksi atas kemungkinan kehilangan penghasilan karena meninggal dunia terlalu cepat, maka anuitas memberikan proteksi atas kemungkinan seseorang membutuhkan penghasilan karena hidup terlalu lama. Jadi anuitas ini dapat dijadikan alternatif bila kita takut kehilangan pendapatan selama kita menjalani masa pensiun atau hidup kita lebih panjang dari pada dana yang kita miliki.

Keempat, Memiliki Polis Asuransi Perawatan Jangka Panjang (Long-Term Care)

Dalam menghadapi masalah ini ternyata  asuransi kesehatan saja tidak mencukupi, dimana pasien  harus atau dapat dirawat di rumah (lumpuh  pasca stroke, patah pinggul karena osteoporosis, penyakit kanker, Alzheimer, dan lain lain) sehingga memerlukan perawatan pembantu atau anggota keluarga yang terlatih khusus, perawat ataupun peralatan seperti kursi roda.

Pada saat ini Indonesia merupakan negara ke empat dengan penduduk terbesar di dunia, termasuk jumlah orang tuanya. Berkat kemajuan teknologi kedokteran,  akses pada fasilitas kesehatan dan pertumbuhan ekonomi di masa silam yang mencapai 7 persen lebih, sehingga standar hidup menjadi lebih baik (gizi, pendidikan, sanitasi, dan lain lain), menyebabkan angka harapan hidup waktu lahir telah meningkat dengan pesat.

Pada tahun 1976  angka harapan hidup  waktu lahir hanya 50,64 tahun bagi laki-laki dan 53,69 tahun bagi perempuan. Pada tahun 1990 angka harapan hidup telah mencapai rata-rata 60 tahun bagi laki-laki dan perempuan. Sekarang angka harapan hidup di Indonesia mendekati 70 tahun.

Akibatnya adalah bahwa jumlah usia lanjut di  Indonesia pada tahun 2000 telah mencapai 17,7 juta orang atau 7,97persen dan akan meningkat dengan lebih pesat di masa depan. Ini berarti pula bahwa jumlah usia lanjut yang menderita penyakit kronis seperti kurang pendengaran dan penglihatan, patah pinggul karena osteoporosis,  lumpuh sebelah atau total pasca stroke, parkinson, kanker, pikun , menderita alzheimer, dan lain lain meningkat pula.

Indonesia belum mempunyai rumah sakit khusus untuk geriatri, walaupun beberapa rumah sakit telah mempunyai bagian geriatri. Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya pemeliharaan kesehatan di rumah sakit semakin mahal, apalagi saat tua kebutuhan akan perawatan dan pengobatan meningkat. Adalah ironis bahwa waktu income-nya berkurang atau terhenti, biaya kesehatannya malahan meningkat.

Jaminan Perawatan Jangka Panjang merupakan konsep baru untuk membantu orang tua yang sangat tergantung pada bantuan orang lain, baik karena lumpuh sebelah atau total, pasca stroke, penyakit kronis seperti kanker, pikun ataupun alzheimer, dan lain lain  sehingga tidak dapat melakukan hal pribadi seperti mandi, ke toilet, ataupun  melakukan kegiatan domestik.  Melalui Jaminan Perawatan Jangka Panjang – yang tidak lain merupakan salah satu program asuransi, diharapkan masalah-masalah di atas terpecahkan dan tidak menjadi beban bagi para manula maupun keluarganya. Dengan perawatan oleh pembantu atau anggota keluarga yang telah terlatih khusus ataupun perawat, para usia lanjut akan tertolong  dan tidak tergantung pada keluarganya.

Bahagia, Mandiri dan Sejahtera

Saat ini penduduk Indonesia berjumlah 237 juta lebih dan merupakan negara keempat berpenduduk terbesar di dunia. Seiring dengan menuanya penduduk, penyakit degeneratif/ kronis pun menimpa dengan segala akibatnya, terutama jika mengalami gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sebagai seseorang yang memiliki ikhtiar dapat menikmati masa-masa tua dengan bahagia, kita tentu tidak ingin hidup dengan menjadi beban bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara.

Karena itu, seyogyanya kita tidak menunda untuk merancang program asuransi yang dapat dinikmati pada masa pensiun nanti. Selagi kita  masih berusia produktif dan kesehatan terjaga dengan baik, segera lengkapi diri dengan polis asuransi  demi sejahteranya hidup kita di hari tua.

Manfaat asuransi bisa menjadi teman setia kita  dalam menjalani masa pensiun. Konsultasikan perencanaan keuangan anda di masa pensiun dengan melibatkan agen asuransi  yang profesional. Semakin cepat anda merencanakannya, semakin pasti kualitas kehidupan anda di hari tua nantinya. Dengan cara itu, kita bisa tersenyum lebar dan menyatakan siap menyongsong hari tua, dengan menjadi manula yang bahagia, mandiri, dan sejahtera.***

(Dari Buku “Asuransi Buat Apa, Mari Berdamai dengan Risiko”, Diterbitkan KUPASI – Gagas Bisnis Indonesia, 2012)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up