Search and Hit Enter

Mendorong Akselerasi Budaya Asuransi

TAK perlu mengeluhkan kesadaran berasuransi (insurance awareness) masyarakat Indonesia yang rendah. Rendahnya kesadaran itu, menampilkan sisi positif-negatif. Tergantung bagaimana memandangnya.

Positifnya, dapat dimaknai bahwa potensi asuransi di Indonesia masih sangat besar. Harus digali optimal sehingga dapat mengejar dan menyamai negara-negara maju. Negatifnya? Orang sering beranggapan bahwa menumbuhkan kesadaran berasuransi di Indonesia merupakan upaya yang sangat sulit. Dapat memicu pesimistis, sekaligus mereduksi dorongan untuk mengembangkan industri asuransi.

Bagi pelaku dan stakeholders industri asuransi, tentu saja pandangan positif adalah keharusan. Jangan sampai potensi besar justru secara gamblang dilihat oleh orang asing. Lihat saja agresivitas asuransi asing berbondong-bondong hadir di sini.

Kita layak optimis. Perkembangan industri asuransi Indonesia cukup menggembirakan. Data Lembaga Riset Media Asuransi menyatakan bahwa asuransi umum tumbuh 20,86 persen dan asuransi jiwa tumbuh 26,02 persen di tahun 2011. Pertumbuhan ini jauh di atas rerata asuransi dunia. Asuransi umum dunia hanya tumbuh 1,9 persen. Bahkan asuransi jiwa minus 2,7 persen (Sigma, 2012). Pertumbuhan pada tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan hal serupa. Asuransi Indonesia selalu tumbuh jauh di atas pertumbuhan asuransi dunia.

Lebih lanjut Sigma (2007; 2012) melaporkan kenaikan posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Total premi tahun 2011, industri asuransi di Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 88 negara. Posisi ini naik 7 level dibandingkan di tahun 2006 yang bertengger di nomor 42 dunia.

Ke semua ini mengindikasikan secara pasti industri asuransi di Indonesia terus bergerak mendekati negara-negara yang masyarakatnya insurance minded. Namun begitu, harus terus diupayakan akselerasi kesadaran berasuransi. Akselerasi dibutuhkan bukan hanya untuk kepentingan industri asuransi. Tetapi juga untuk kepentingan membantu masyarakat dan bangsa ini dalam mengendalikan risiko.

 

Faktor Pendorong dan Penarik

Pertumbuhan industri asuransi dipengaruhi banyak faktor seperti politik, ekonomi, sosial-budaya dan keamanan.

Dari faktor sosial-budaya, secara garis besar setidaknya permintaan asuransi sangat ditentukan tiga hal. Pertama, adalah tingkat kesadaran masyarakat (Mony, 2006). Penyebab rendahnya kesadaran masyarakat adalah faktor ketidaktahuan. Masyarakat tidak mengetahui (dengan baik) manfaat asuransi sehingga tidak merasa butuh. Bahkan masih ada kesan negatif terhadap asuransi. Seperti banyak keluhan tak tertangani dengan baik dan adanya klaim tidak dibayar.

Kedua, menurut Outreville (2011), tingkat pendidikan berkorelasi positif dengan permintaan asuransi. Makin tinggi tingkat pendidikan, makin besar permintaan asuransi. Di Indonesia ada harapan besar tetap tumbuh tinggi karena kini ada pendidikan wajib sembilan tahun dan naiknya anggaran pendidikan.

Ketiga, respon terhadap keyakinan (agama). Sebagian masih menganggap bahwa kerugian atau bencana adalah persoalan takdir, tak perlu asuransi. Menurut Park & Lemaire (2011), permintaan asuransi memiliki korelasi negatif pada agama Islam. Namun dengan hadirnya asuransi syariah, pendapat di atas perlu diuji lagi. Asuransi syariah sudah sesuai konsep Islam. Apalagi pertumbuhan asuransi syariah di dunia dan di Indonesia melesat meninggalkan pertumbuhan asuransi konvensional (Bapepam-LK, 2012; Swiss Re, 2012). Artinya, agama (Islam) tidak menjadi penghalang orang berasuransi.

Selain secara sosial budaya ditentukan faktor di atas, masyarakat berasuransi juga dapat disebabkan banyak faktor.

Pertama, ada kewajiban berasuransi berdasarkan undang-undang/peraturan. Ini asuransi wajib (compulsory insurance). Orang/organisasi tak lagi bisa menghindar berasuransi. Bila tak patuh, ada hukuman berdasarkan hukum positif. Contohnya adalah perusahaan penerbangan komersial harus mengasuransikan tanggung jawab kepada penumpang dan pihak ketiga yang dirugikan.

Kedua, adanya persyaratan dalam kontrak bisnis. Di dalam bisnis, pihak-pihak yang bertransaksi umumnya sadar asuransi. Proteksi asuransi dibutuhkan untuk mengendalikan risiko bisnisnya. Contohnya, di dalam transaksi jual beli barang, ada kondisi cost, insurance & freight (CIF). Dalam kontrak CIF, penjual barang harus mengasuransikan barang yang dikirim dengan asuransi pengangkutan (marine cargo).

Ketiga, orang berasuransi karena sudah merasakan manfaat asuransi. Loh, berarti sudah sadar dan ikut berasuransi? Bukan. Maksudnya, banyak orang mendapat manfaat asuransi dari fasilitas asuransi yang diterima secara ‘gratis’. Kita tahu banyak perusahaan membeli polis asuransi kesehatan untuk karyawannya. Ketika karyawan dan keluarganya sakit, dapat berobat secara gratis ke rumahsakit/klinik. Ini manfaat yang tak bakal diperoleh tanpa asuransi. Juga bentuk jaminan sosial tenaga kerja yang menyediakan asuransi kecelakaan kerja dan jaminan hari tua. Dari sini orang tahu bahwa asuransi itu ada manfaatnya. Setidak-tidaknya, mereka yang awalnya belum sadar asuransi, telah tersentuh manfaat asuransi. Asuransi menjadi akrab bagi mereka.

Keempat, orang berasuransi sebagai ‘manfaat sampingan’. Ingat produk unit linked? Ya, produk ini adalah kombinasi antara asuransi dan investasi. Produk ini menjadi pendongkrak produksi premi di industri asuransi jiwa. Hampir bisa dipastikan moncernya produk unit linked karena produknya berbalut investasi. Ada iming-iming hasil investasinya yang menarik. Karena ilustrasi hasil investasi yang meyakinkan tersebut, orang banyak membeli produknya. Asuransi yang bersifat proteksi di unit linked ikut dibeli karena pemegang polis ingin memperoleh hasil investasi yang menarik. Tentu tidak ada masalah. Melalui produk investasi yang dikombinasikan dengan asuransi, masyarakat bersentuhan dan tertarik untuk membeli polisnya.

Kelima, kesadaran tentang risiko dan risiko harus dikendalikan, menjadi pemicu orang ikut berasuransi. Orang/organisasi sadar bahwa risiko harus dikendalikan agar tidak mengganggu tujuan dan untuk masa depan yang lebih baik. Bila kesadaran tentang risiko telah melekat di dalam diri atau aktifitas organisasi, inilah risk culture. Budaya sadar risiko yang mengarahkan orang untuk mengendalikan risiko, termasuk melalui asuransi.

Bila kita lihat kelima hal di atas, maka semuanya berkontribusi memicu berasuransi. Hanya kadar pengaruhnya berbeda-beda. Penyebab pertama (asuransi wajib) dan kedua (syarat kontrak bisnis) adalah kondisi yang tak terelakkan. Keduanya menimbulkan konsekuensi langsung bila tak dipatuhi. Keduanya mendongkrak premi asuransi dengan cepat. Tapi sifatnya terpaksa.

Asuransi wajib juga hanya diterapkan dalam kondisi, institusi atau risiko tertentu. Sama halnya pada kontrak bisnis yang hanya pada transaksi bisnis yang terbatas. Keduanya tak menyentuh masyarakat secara luas.

Penyebab ketiga (manfaat asuransi ‘gratis’) dan penyebab keempat (‘manfaat sampingan’ investasi) memberi pengaruh secara lebih luas. Banyak orang yang terlibat dalam transaksi asuransi tersebut. Namun efeknya pada permintaan asuransi tak bisa secepat penyebab pertama dan kedua.

Sementara itu membentuk budaya risiko dan budaya berasuransi akan memberikan dampak secara massif. Pengaruhnya sangat kuat dan bertahan lama. Namun tidak mudah merealisasikannya. Butuh upaya sistemastis dan waktu panjang.

 

Membangun Budaya Asuransi

Dari data pertumbuhan asuransi Indonesia, tak perlu ragu bahwa Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalan. Akselerasi pembentukan budaya berasuransi perlu digiatkan. Syaratnya, pembentukan budaya harus dilakukan secara sistematis, terstruktur/terintegrasi, dan berkesinambungan.

Pertama, melalui pendidikan dan kampanye. Sosialisasi tentang risiko dan asuransi dilakukan pada target anak-anak. Ini memberikan efek kesadaran jangka panjang.

Cara ini mengimitasi sosialisasi reduksi bencana yang pernah dilakukan oleh International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). Lembaga PBB ini mengampanyekan reduksi bencana di dunia tahun 2006-2007 bertema, “Disaster Risk Reduction Begins at School”.

Sasaran kampanye adalah anak-anak SD. Tujuan ISDR adalah membentuk budaya pencegahan risiko. Dalam konteks kampanye asuransi, maka ditargetkan anak-anak paham tentang risiko dan mengendalikan risiko sejak dini. Tak harus mengenalkan asuransi secara langsung. Kesadaran tentang risiko bisa berimbas pada kesadaran asuransi.

Kampanye asuransi secara langsung dapat dilakukan di tingkatan SMP hingga perguruan tinggi. Tak perlu dengan menambah mata pelajaran. Namun butuh metode menarik, disesuaikan dengan target kampanye dan level pendidikan. Upaya ini dapat dilakukan bekerja sama dengan institusi lain, misalnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau ISDR. Seperti diketahui bahwa Indonesia adalah salah satu wilayah di bumi ini yang sangat rawan bencana.

Dalam jangka panjang, efeknya terekam dalam. Akhirnya ketika dewasa dan memiliki daya beli, maka sangat mungkin mereka akan membeli polis asuransi sesuai dengan kebutuhan.

Cara kedua adalah melalui bukti empirik manfaat asuransi. Masyarakat perlu diberikan bukti bahwa asuransi sangat membantu bila terkena musibah. Di atas telah dijelaskan manfaat asuransi kesehatan yang diterima oleh karyawan perusahaan. Industri atau asosiasi asuransi perlu membuat kesepakatan ‘memberi’ asuransi kepada masyarakat.

Konsep besarnya adalah corporate social responsibility (CSR). Perlu membuat model CSR khas asuransi. Khas artinya tak semua industri atau korporasi dapat melakukannya.

Industri asuransi semestinya tak hanya fokus bentuk CSR seperti bantuan bencana, pembangunan rumah ibadah, bantuan pendidikan, program amal, atau program lain serupa. Ini model CSR umum. Dilakukan oleh banyak korporasi.

Model CSR khas asuransi tersebut konsepnya masih mengadopsi teori CSR secara umum. Namun tujuannya adalah penyadaran asuransi. Realisasinya bisa macam-macam, seperti bantuan asuransi untuk wilayah rawan bencana atau asuransi kecelakaan diri (personal accident/PA) relawan kemanusiaan.

Beberapa bulan lalu misalnya, sebuah perusahaan asuransi berbasis syariah melakukan CSR seperti ini. Mereka memberikan asuransi PA gratis untuk para ustadz (guru agama). Idealnya program seperti ini dikoordinir asosiasi, sehingga efeknya luas.

Hal yang sama juga dapat dilakukan untuk para relawan kemanuasiaan di daerah perang/konflik atau bencana. Mereka tanpa jaminan asuransi. Bila terjadi hal buruk pada mereka, hanya ucapan bela sungkawa. Perusahaan asuransi pun mungkin ogah menjamin asuransinya. Sebagai info, risiko perang dan sejenisnya umumnya dikecualikan di dalam standar polis.

Di sinilah dibutuhkan kepedulian. Toh yang diberikan hanya perlindungan asuransi. Artinya, perusahaan asuransi belum mengeluarkan dana sepeserpun. Bila mereka selamat, perusahaan asuransi tak harus merogoh kocek. Perusahaan asuransi baru bayar klaim bila kecelakaan atau kematian terjadi pada para relawan.

Bentuk lain adalah jaminan asuransi bencana. Sasarannya, masyarakat kurang mampu di daerah rawan bencana. Jaminannya untuk kerusakan harta benda, cidera badan, atau kematian akibat bencana. Masyarakat bisa digratiskan bayar premi atau ada diskon premi.

Contoh bentuk CSR di atas akan memberikan dampak positif terhadap asuransi. Kesadaran berasuransi akan terkerek naik. Dalam jangka panjang, akan meningkatkan permintaan asuransi, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Cara sistematis ketiga dalam mendongkrak kesadaran berasuransi adalah memaksa melalui asuransi wajib. Loh kok memaksa? Ya, awalnya bisa dipaksa. Selanjutnya, dengan dibarengi kampanye, akan memudahkan kesadaran muncul. Bukankah memakai helm bagi pengendara motor dulu juga dipaksa oleh aturan pemerintah? Kini memakai helm sudah menjadi bagian dari kemanan berkendara. Orang sudah sadar pentingnya helm, tanpa perlu dipaksa lagi.

Sebagian aturan asuransi wajib ini sudah ada. Di dalam beberapa undang-undang atau peraturan turunannya, ada banyak disinggung asuransi wajib. Sekedar menyebut adalah UU no. 17/2008 tentang Pelayaran dan UU no. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Sayangnya pengaturannya serba tanggung. Misal, dalam UU No. 22/2009 tidak secara tegas dinyatakan bahwa setiap kendaraan harus memiliki asuransi tanggung jawab kepada pihak ketiga. Juga penegakan hukumnya yang masih loyo. Butuh komitmen dan penegakan hukum yang tegas.

Asuransi wajib ini bukan akal-akalan industri asuransi dengan menggunakan tangan pemerintah. Namun muncul dari kesadaran pembuat peraturan dan untuk melindungi masyarakat.

 

Butuh Proses Panjang

Membangun budaya sadar risiko dan sadar asuransi adalah proses lama. Butuh kesabaran. Ini adalah investasi jangka panjang. Tidak instan hasilnya.

Dalam konteks Indonesia, ketika masyarakat sadar asuransi, tak serta-merta mereka berasuransi. Ada persoalan lain. Ada masalah daya beli yang masih rendah. Kita sadar bahwa pendapatan masyarakat Indonesia masih rendah. Permintaan asuransi ditentukan oleh level pendapatan masyarakat (Outreville, 2011; Park & Lemaire, 2011). Semakin tinggi pendapatan masyarakat, permintaan asuransi juga makin besar.

Persoalan paling mendasar yang mengganjal akselerasi perkembangan industri asuransi harus dipecahkan, yakni mendongkrak kesadaran berasuransi. Mewariskan budaya berasuransi dan penyadaran sejak usia dini akan memberikan rekaman memori yang dalam bagi anak-anak. Hasilnya butuh waktu dan akan dituai bertahun-tahun kemudian.

Usulan-usulan di atas perlu komitmen dari pelaku industri dan dukungan pemerintah. Aksi sporadis dan tak terstruktur tidak bakal mengangkat kesadaran berasuransi secara optimal. Harus dilakukan berkelanjutan, tak terbatas pada aktivitas (misalnya) insurance day. Butuh upaya sistematis.***

(Dari Buku “Asuransi Buat Apa, Mari Berdamai dengan Risiko”, Diterbitkan KUPASI – Gagas Bisnis Indonesia, 2012)

Bekerja di Otoritas Jasa Keuangan, salah seorang pendiri KUPASI.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up