Search and Hit Enter

Asuransi di Tengah Kecamuk Perang Dunia ke-2

Kemarin 8 Mei, masyarakat Eropa memperingati hari kemenangan dalam perang dunia II dimana sekutu mengalahkan kubu Axis pimpinan Nazi Jerman. Kemenangan yang sangat berharga bukan saja bagi masyarakat Eropa tetapi seluruh masyarakat dunia. Pada 8 Mei 1945 itu, Sekutu secara formal menerima penyerahan tanpa syarat angkatan bersenjata Jerman Nazi dan merupakan akhir dari Reich Ketiga Adolf Hitler. Penyerahan formal pasukan pendudukan Jerman dilakukan di Kepulauan Channel pada 9 Mei 1945.

Selama lebih dari 6 tahun, yaitu sejak tahun 1939 sampai dengan tahun 1945 hampir seluruh bagian dunia dilibatkan dalam perang besar yang menewaskan lebih dari 50 juta manusia dan menghancurkan berbagai infrastruktur, termasuk bangunan-bangunan bersejarah. Namun perang ini juga telah mengubah wajah dunia, negara-negara baru bermunculan, teknologi lebih maju, memunculkan perang dingin antara dua ideologi yang berlawanan, dan keinginan untuk menjaga perdamaian dunia dengan sungguh-sungguh, serta ancaman bom nuklir.

Bagaimana kehidupan perusahaan asuransi di Eropa saat perang terjadi itu? Mari kita lihat pengalaman salah satu perusahaan asuransi besar di dunia yang bermarkas di Jerman, yaitu Allianz.

Allianz, sebagaimana dilansir Allianz.com, didirikan 5 Pebruari 1890 di Munich yang kemudian membuka kantor pusat di Berlin. Dengan demikian, perusahaan ini telah melewati dua kali Perang Dunia (PD), yaitu PD I, tahun 1914-1919 dan PD II tahun 1939-1945. Pada saat PD I dimulai berhenti pulalah pertumbuhan perusahaan. Pendapatan premi turun hingga 20% dan setelah itu mengalami stagnasi, akibat dari pelanggan yang kehilangan mata pencaharian, cacat dan devaluasi mata uang. Jumlah karyawan Allianz yang meninggal/hilang dalam PD tersebut mencapai 92 orang dari seluruh karyawan yang berjumlah 800 orang pada awal masa perang.

Pada awal masa pemerintahan Nazi Jerman, Allianz termasuk dalam pendukung Pemerintahan tersebut, salah satu pimpinan Allianz masuk dalam kabinet Hitler, namun tidak lama kemudian mengundurkan diri karena kesehatan. Allianz juga dilibatkan dalam kampanye pembersihan etnis Yahudi di Eropa, khususnya Jerman. Atas keterlibatannya itu, Allianz mengaku bertanggung jawab secara moral kepada para penyintas, dan oleh karena itu menyatakan komit untuk membantu penyelesaian klaim secara adil dan sah.

Sebagaimana perusahaan asuransi dan keuangan lainnya, selama masa perang Allianz diwajibkan untuk memberikan pinjaman (investasi pada surat berharga yang diterbitkan Pemerintah), untuk membiayai perang. Allianz juga mengembangkan layanan usahanya ke negara-negara yang baru dikuasai Jerman, sebagai bagian dari upaya penjajahan Jerman terhadap negara-negara tersebut.

Dalam masa tersebut, pasukan khusus Nazi, yaitu Schutzstaffel (SS) menjadi nasabah Allianz, baik asuransi personal maupun bangunan-bangunan perang yang didirikan  SS, termasuk Kamp Konsentrasi. Schutzstaffel, disingkat atau SS, adalah organisasi keamanan dan militer besar milik Partai Nazi Jerman. SS didirikan Adolf Hitler pada April 1925, sebagai satuan pengawal pribadi.

Seperti kita ingat, Pemerintahan Nazi Jerman memiliki kebijakan untuk menghilangkan ras Yahudi dalam kehidupan Jerman. Hal ini dilakukan dengan memulainya melarang ras Yahudi memegang jabatan dalam struktur pegawai negeri. Hal ini berimbas juga ke pegawai swasta. Orang Yahudi yang memegang posisi penting di perusahaan kemudian menjadi korban pertama dari kebijakan ini. Hal itu terjadi juga di Allianz. Sebagai contoh, James Freudenburg harus dicopot dari jabatannya selaku pimpinan anak perusahaan Allianz di Frankfurt tahun 1934. Tahun 1994 beliau dikirim ke Auschwitz dan meninggal dalam kamp konsentrasi tersebut.

Contoh lain adalah Maximilian Eichbaum, keturunan Yahudi, pemimpin kantor cabang Allianz di Magdeburg dicopot tahun 1935. Semula direncanakan akan diposisikan sebagai pemimpin anak perusahaan di Austria, namun gagal. Tahun 1937, yang bersangkutan dikirim ke Afrika Selatan dan Allianz memberikannya pekerjaan dalam perusahaan yang masih terkait dengan usaha asuransi.

Setelah Jerman menduduki Polandia tahun 1939, sebagai awal dari PD II, usaha asuransi  sangat dipengaruhi oleh risiko-risiko yang terkait dengan perang. Menurut Allianz, usaha dalam masa perang haruslah didasarkan pada prinsip sedapat mungin mengurangi bahaya-bahaya baru dan semaksimal mungin memanfaatkan peluang yang muncul. Perang akan menghancurkan bisnis secara keseluruhan dan Allianz pun tidak terkecuali, hampir bankrut. Namun dengan menggunakan prinsip tersebut, hingga tahun 1943 Allianz masih dapat menikmati pertumbuhan pendapatan dan memperoleh laba yang cukup besar.

Dalam masa perang tersebut, jenis usaha yang paling penting menguntungkan adalah asuransi marine, konstruksi, kebakaran dan asuransi jiwa. Dalam rangka memenuhi permintaan yang terus meningkat, maka dibentuk pool asuransi  untuk meng-cover seluruh risiko yang terkait dengan perang. Namun demikian, kerusakan berarti (material) sebagai akibat langsung dari pertempuran tidak ikut di-cover. Di samping itu perusahaan asuransi menerapkan premi tambahan. Perusahaan asuransi jiwa juga menerapkan adanya tambahan premi (surcharges). Dengan upaya-upaya tersebut, Allianz dapat menikmati pertumbuhan premi yang stabil hingga tahun 1943 walaupun jumlah orang yang meninggal dan menimbulkan klaim meningkat empat kali lipat dalam periode 1941-1943. Perlu dicatat, sampai saat itu Jerman masih menikmati berbagai kemenangan di berbagai medan pertempuran.

Terdapat perbedaan mendasar cara Jerman menjajah negara-negara lain di Eropa. Untuk Eropa Barat Jerman menjajah dengan cara yang lebih beradab, sedangkan untuk Eropa Timur, Jerman melakukannya dengan cara yang lebih barbar. Hal itu membedakan pula cara ekspansi  perusahaan-perusahaan asuransi Jerman, termasuk Allianz di negara-negara tersebut. Sebagai contoh, polis-polis yang sebelum perang diterbitkan oleh perusahaan asuransi Jerman dan Inggeris di Polandia, maka setelah negara tersebut dikuasai Jerman, polis-polis tersebut dengan begitu saja seluruhnya ditransfer ke perusahaan-perusahaan asuransi Jerman, termasuk Allianz.

Sebagai hasil dari pemusatan kekuatan, jutaan anggota Partai Nazi menjadi kaya dan sejumlah seksi dan bagian dari partai tersebut memegang peranan penting dalam perekonomian Jerman. Kelompok masyarakat ini memegang peranan penting dan memberikan keuntungan yang besar bagi industri asuransi.

Unsur-unsur partai seperti Organisasi Wanita Nazi dan Ferderas Polisi dan Federasi Guru NAZI banyak menggunakan asuransi jiwa dari Allianz. Banyak dari polis yang diterbitkan bersifat kelompok dimana organisasi menjadi semacam agen bagi perusahaan asuransi untuk menjangkau para anggotanya. Dengan cara ini perusahaan memperoleh kelompok-kelompok pelanggan dalam jumlah yang cukup besar.

Setelah tahun 1943 pasukan Jerman mulai mengalami kekalahan di sana sini, yang dimulai dengan kekalahan di arena Stalingrad dalam Operasi Barbarosa. Kekalahan demi kekalahan ini serta perang yang begitu panjang akhirnya berdampak kepada Allianz. Mesin-mesin usaha berupa gedung dan peralatan banyak yang hancur terkena bom, sementara personal pun banyak yang tewas atau pun hilang. Pendapatan pun menurun drastis yang tadinya bagai air bah berubah menjadi tetesan. 

Pada masa akhir PD II kekayaan Allianz yang berupa properti sebagian besar hancur atau direbut dan dinasionalisasi sekutu. Di sisi keuangan juga demikian, investasi besar-besar dalam obligasi Pemerintah pada tahun 42, dimana sekitar 75% kekayaan perusahaan dalam bentuk tersebut, pada tahun 1945 menjadi tidak ada harganya sama sekali. Oleh karena itu, pada bulan Mei tahun tersebut sesungguhnya secara teknis Allianz telah mengalami kebangkrutan. Namun demikian, pada bulan itu pula para karyawan membersihkan sisa-sisa bangunan dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting serta menyiapkan kembali dokumen perangkat usaha untuk mengajukan permohonan ijin usaha kepada instansi berwenang yang baru pasca perang.

Setelah Jerman kalah, Sekutu melakukan denazifikasi. Nazi menjadi partai terlarang. Semua undang-undang dan peraturan hasil pemerintahan Nazi dibatalkan. Logo dan simbol-simbol Nazi dihilangkan. Personal-personal Nazi maupun pendukungnya dibawa ke pengadilan perang. Dalam proses tersebut, dari 240 karyawan Allianz yang tersisa, 31 di antaranya terkena program denazifikasi tersebut, termasuk salah satu pucuk pimpinannya, yaitu Kurt Schmitt.

Demikianlah perjalanan sebuah perusahaan asuransi yang mengikuti gelombang perang yang diayunkan oleh para politisi negaranya, dari perusahaan besar, kemudian hancur berantakan dan kemudian bangkit kembali dan eksis saat ini. 

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up