Search and Hit Enter

Bekerja dari Rumah dan Inisiatif Wirausaha

“Pa, tolong pesan online. Catatan belanja ada di meja.”
“Pa, bantuin adek bikin PR dong.”
“Nanti tolong angkat jemuran.”
“Pa, bolanya mau mulai!”
“Paket!!!”

Itulah beberapa kutipan percakapan selama work from home (WFH). Bisa dianggap selingan. Bisa dilabeli gangguan. Kehidupan normal sehari-hari ketika kita di rumah. Apa yang terjadi kalau kita di rumah untuk jangka waktu panjang? Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan tidak tahu kapan berakhir? Yang tadinya selingan jadi rutin. Yang tadinya hiburan jadi gangguan. Yang tadinya  kewajiban jadi beban. 

Memasuki PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) Jakarta tahap kedua warga Jakarta mulai terbiasa. Mulai jenuh malah. Karyawan rindu kantor. Pada awalnya WFH disambut antusias. Terutama bagi ibu pekerja. Waktu di rumah berlimpah. Nyaris seharian di rumah saja. Mengurus anak, memasak, bersih-bersih dan beres-beres. Sesekali ke toko atau warung terdekat. Kadang menyapu di jalan depan rumah.  Atau menyirami tanaman. Selebihnya, beraktivitas di dalam rumah. Hampir semuanya dilakukan dari rumah. Bahkan sebagian dikerjakan sambil rebahan.

Bekerja dan tinggal di rumah menuntut kedisiplinan. Pun memiliki seni sendiri. Tidak pandai membagi waktu, tidak fokus, menunda-nunda adalah beberapa contoh sifat yang harus dihindari. Bagaimana menghadapi rasa kesepian, rindu kantor, distraksi, godaan dan semua yang menghabiskan energi serta waktu. Saran yang paling sering diberikan adalah buatlah rencana kerja harian, mingguan bahkan bulanan. Disiplin menjadi kata kuncinya. Bekerjalah seolah-olah Anda berada di kantor. Istilahnya business as usual. Beraktivitas seperti biasa.

Keluhan paling umum selama bekerja di rumah adalah kecapaian karena begitu banyaknya rapat. Jam kerja tidak tentu, nyaris 24 jam. Tidak kenal waktu. Keluhan lain, jaringan internet lambat bahkan putus. Pulsa habis padahal perlu jaringan internet untuk bekerja. Tagihan telepon dan listrik membengkak. Mata lelah, kebosanan, berat badan naik; termasuk dalam daftar efek WFH terlalu lama. WFH mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Menarik dipikirkan pendapat Bloom, seorang pengajar dari Stanford University. Penelitiannya tahun 2015 memberikan kesimpulan cukup positif untuk bekerja dari rumah. Penelitian dilakukan selama 9 bulan. Dari perusahaan yang diteliti, separuh dari 1000 karyawan berpartisipasi dalam eksperimen itu. Respons karyawan bagus. Kinerja naik 13%. Tingkat pengunduran diri karyawan turun 50%. Namun hanya separuh dari partisipan yang menyatakan ingin tetap bekerja dari rumah.

Di samping kesulitan koordinasi, efektivitas dan produktivitas menjadi isu penting bagi perusahaan. Menulis tentang efektivitas dan produktivitas selama work from home memang menarik. Berbagi tip bagaimana mengatasi rasa jenuh stay at home tampaknya keren. Namun saya memilih tulisan tentang kewirausahaan (entrepreneurship) selama pandemi Covid-19.

Shane dan Ventarakaman (2000) mendefinisikan kewirausahaan adalah penemuan dan eksplorasi peluang yang menguntungkan. Selama pandemi ini, kita melihat wirausahawan baru muncul. Bisnis yang semakin marak adalah logistik, ecommerce, ICT, keperluan pribadi, makanan, pertanian dan kesehatan. Bisnis makanan bisa berupa penjualan produk buatan sendiri atau pihak lain. Selain itu semua jasa yang tadinya dilakukan secara offline, sekarang dilakukan online (daring). Contohnya pelatihan, kuliah, pembelajaran dan sosialisasi. 

Nah kembali ke Shane dan Ventarakaman, bagaimana menemukan atau mengeksplorasi peluang yang menguntungkan? Apakah peluang itu tercipta atau diciptakan? Ada dua pendapat. Kaum objektivis mengatakan peluang tersedia untuk ditangkap. Sementara kaum konstruktivis bilang peluang diciptakan wirausahawan. Dalam kasus pandemi Corona seperti sekarang, pendapat kedua kaum itu benar semua. Ambil contoh anak saya. Liburan sekolah bersamaan dengan PSBB memicu semangat wirausaha. Kemahirannya membuat brownies panggang menemukan saluran. Membeli bahan dan mengirimkan pesanan semuanya melalui jasa daring. Anak saya menangkap peluang sekaligus menciptakan peluang. Momen pembatasan aktivitas berskala besar ini adalah peluang yang ditangkapnya. Bisnis browniesnya terbentuk karena kebutuhan. Orang butuh makan. Juga perlu sekali-kali menyantap kudapan. Kue brownies adalah salah satu kudapan yang cukup banyak penggemarnya.

Para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19 menggeliat dengan wirausaha. Pemutusan hubungan kerja, turunnya penjualan, berkurangnya pendapatan, sepinya pesanan memicu semangat berbisnis. Jualan secara daring meningkat pesat. Baik secara transaksi maupun jumlah pelapak di marketplace. Jasa pengantaran barang kewalahan. Pesanan membanjir. Peluang bisnis yang ada ditangkap dan yang belum ada diciptakan. Orang berbondong-bondong berbisnis. Tidak mau kehilangan momentum.

Ke depannya, akan banyak terjadi eksplorasi peluang bisnis. Beberapa usaha yang biasanya disajikan secara fisik akan berubah. Dunia hiburan, yang lazimnya dilakukan secara live, akan menemukan jalannya. Karoke, konser musik, standup comedy dilakukan secara daring. Penyampaiannya secara langsung (live) melalui media sosial, Instagram, facebook, youtube, TV dan yang lain.

Bisnis yang tadinya tidak terbayangkan akan lahir di tengah pandemi dan pembatasan kegiatan luar ruang. Sebut saja, jasa kencan secara daring dan live. Jasa pemberi motivasi, jasa bantuan pangkas rambut mandiri, jasa curhat (curahan hati), jasa pembunuh waktu dan masih banyak lagi. Semuanya secara daring. Produksi barang rumahan meningkat pesat karena kebutuhan. Kebutuhan konsumen dan kebutuhan produsen mencari pendapatan.

Kreativitas dan inovasi akan merebak di tengah pandemi Covid-19. Akan lahir banyak pebisnis baru. Bakal muncul inovasi dan kreativitas jasa dan produk. Akankah mereka bertahan bahkan sukses. Apakah bisnisnya berlanjut setelah pandemi berlalu? Waktu yang akan menjawab.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespons Pandemi Covid-19)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up