Search and Hit Enter

Menjadi Kanak-kanak

Medio Maret 2017. Kami pindah ke kantor baru. Ini bukan hanya tentang gedung dan furnitur baru yang mengkilap. Ia datang dengan cara baru untuk bekerja di kantor. Agile system atau sistem gesit, begitu mereka menyebutnya.

Di kantor lama, semua orang memiliki stasiun kerja khusus yang luas. Meja besar berbentuk L lebih dari cukup untuk telepon meja, docking laptop, monitor layar lebar, keyboard, dan mouse. Sisa permukaan masih bisa menyimpan tumpukan dokumen bergerak dan hal-hal lain. Setiap orang memiliki laci dan dua kabinet untuk menyimpan lebih banyak dokumen, buku dan barang-barang lainnya. Semua milik Anda. Anda bebas untuk menempatkan barang-barang sentimental pribadi di atas meja (foto keluarga misalnya), karena Anda pasti akan kembali ke sana besok pagi. Para atasan memiliki ruang kantor sendiri, tidak berbaur dengan karyawan yang lain.

Apa yang berubah dengan sistem gesit? Tidak ada lagi yang memiliki meja khusus, bahkan Bos kehilangan kantor mereka. Semua orang bekerja di aula besar yang sama tanpa partisi. Semua meja identik, persegi panjang sederhana sekitar setengah dari ukuran yang ada di kantor lama. Hanya ada docking laptop, keyboard, mouse dan dua layar lebar atau satu layar monitor melengkung yang sangat lebar di atas meja. Tidak ada kabinet atau laci.

Meja itu dapat diubah ketinggiannya dengan menekan tombol. Maka Anda dapat bekerja sambil berdiri.

Telepon meja menghilang. Semua panggilan atau konferensi sekarang dilakukan melalui Skype. Setiap orang memiliki headset stereo nirkabel dan terhubung ke laptop dengan bluetooth. Jika pembicaraan Anda tiba-tiba berubah menjadi rahasia, Anda hanya perlu dengan cepat menyelinap ke ruang Think-Tank yang kosong sembari tetap menyalakan headset. Think-Tank adalah beberapa ruang kecil kedap suara yang berjejer di sisi area kerja, untuk mengakomodasi percakapan rahasia seperti itu. Think-Tank hanya bisa menampung dua orang. Ia adalah salah satu fitur penting dari kantor gesit.

Setelah beberapa hari memasuki sistem baru, beberapa tempat menjadi favorit karena berbagai alasan seperti pemandangan terbaik, dekat dapur, dekat toilet, dekat printer, di sudut dan tidak ada yang dapat melihat layar Anda, dll. Menariknya, tidak ada satu meja pun yang bisa disetujui oleh semua orang sebagai tempat terbaik. Setiap orang jelas memiliki selera dan preferensi yang berbeda.

Kantor gesit menerapkan first come first serve basis. Senioritas atau tingkatan tidak relevan. Anda tidak dapat memesan meja apa pun sebelumnya. Yang perlu anda lakukan untuk mendapatkan tempat impian adalah tiba sepagi mungkin. Anda tidak dapat memilih siapa yang akan duduk di sebelah Anda. Kabar buruk bagi mereka yang membenci bos.

Ia juga menerapkan clean desk policy. Saat tiba waktunya pulang atau dinas luar untuk waktu yang agak lama, Anda harus tinggalkan meja dalam keadaan bersih. Anda tidak dapat meninggalkan apa pun di atas meja.

Di mana Anda menyimpan barang-barang pribadi? Setiap orang memiliki loker, diamankan secara digital dengan nomor PIN. Ini dia, kata sandi lain yang perlu diingat. Anda juga diberikan ‘hot box‘, sesuatu seperti kotak peralatan untuk menjaga barang-barang milik Anda seperti laptop, kalkulator, tablet, notebook, alat tulis, dll, dan memindahkannya di antara loker dan meja Anda.

Ngomong-ngomong, Anda masih bisa meletakkan foto keluarga yang imut di atas meja, hanya saja ia harus disimpan lagi di dalam loker saat anda meninggalkan kantor.

Tak Ada Meja Untukmu, Bekerjalah di Rumah

Saya suka sistem gesit ini. Setiap hari unik dengan tempat baru, tampilan baru, dan tetangga baru. Bahkan untuk kantor kecil seperti kami dengan jumlah karyawan dua puluhan orang saja, masih ada begitu banyak kombinasi yang dapat Anda nikmati.

Saya juga suka sisi egaliternya. Terkadang saya merasa seperti berada di masjid, siapa pun Anda, Anda bebas duduk di mana pun suka. Seorang syaikh yang datang terlambat ketika shaf depan telah penuh, harus berlapang dada duduk di barisan belakang.

Satu lagi, jumlah meja di kantor baru lebih sedikit dari pada jumlah karyawan. Lho, kok bisa? Fakta membuktikan bahwa hampir tidak pernah satu hari di mana semua karyawan berada di kantor. Paling-paling hanya 80% saja yang hadir di kantor. Sisanya ada yang cuti, travelling, sakit, mengunjungi klien atau sedang bekerja di rumah.

Ya, bekerja di rumah. Ia adalah elemen penting dari sistem gesit ini. Karyawan didorong untuk bekerja di rumah, bila tidak ada keperluan untuk berada di kantor dan semua tugas bisa diselesaikan dari rumah. Banyak kolega telah memanfaatkan fasilitas ini, terutama karyawan wanita. Paling tidak satu atau dua hari dalam sepekan, mereka bekerja dari rumah.

Adapun saya, bekerja di rumah adalah satu-satunya yang tidak saya sukai dari sistem gesit ini. Sebagai frontliner, aktivitas saya di dalam dan luar kantor berimbang. Kerap pula melakukan perjalanan mengunjungi klien di negara lain. Sesungguhnya memungkinkan bagi saya untuk sehari dua dalam sepekan bekerja dari rumah. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya bekerja di rumah hanya bila situasi memaksa. Saat istri tercinta sedang bepergian atau ketika saya merasa tidak begitu sehat. Selebihnya saya selalu datang ke kantor gesit itu.

Bukan tak suka rumah sendiri. Justru karena rumah terlalu ‘homy’ , saya merasa produktivitas bekerja di rumah tidak setinggi di kantor. Di rumah, terlalu banyak godaan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih menyenangkan.

Bermain dan Bersenang-senanglah

Dan tibalah Corona …

Di awal Maret 2020, saat kasus positif mulai melonjak, seluruh karyawan diminta untuk selalu membawa laptop pulang, setiap hari. Benar saja, terhitung sejak 16 Maret 2020, perusahaan memutuskan bahwa semua karyawan dilarang keras datang ke kantor. Dua hari lebih awal dari Perintah Kawalan Pergerakan (lockdown) yang diperintahkan oleh Kerajaan Malaysia guna memutus rantai penularan virus corona.

Perintah berkurung di rumah tidaklah membawa dampak yang signifikan terhadap pekerjaan bagi kami. Semua berjalan seperti biasa. Bedanya saya terpaksa lebih kerap melakukan pembicaraan telepon atau video call dengan rekan kerja, sebagai pengganti rapat tatap muka atau diskusi ringan di samping expresso machine di staff lounge kantor. Kami telah terbiasa dengan konsep bekerja di rumah sejak tiga tahun lalu.

Meski lebih suka bekerja di kantor, saya pun tak punya pilihan selain memastikan tingkat produktivitas mestilah setara dengan saat bekerja di kantor, setidaknya selama lockdown ini. Saya sempat khawatir bahwa ini mungkin sulit dicapai. Ternyata saya salah. Rumah yang “homy” dan “comfy” tidak sepatutnya menjadi alasan menurunnya efektivitas dan produktivitas. Itu hanya ‘excuse’ yang dipakai oleh orang yang malas berubah.

Pencerahan itu datang dari si bungsu, berusia tujuh tahun tapi masih sangat kolokan. Kami berdua berbagi ruang tamu untuk bekerja selama lockdown yang saat tulisan ini dibuat telah berlangsung selama 55 hari. Dua orang kakaknya belajar di kamar masing-masing. Si bungsu mengalami perubahan yang lebih drastis dari pada ayahnya. Rumah selama ini baginya adalah sepenuhnya taman bermain. Tempat belajar adalah sekolah. Kini sekolahnya ditutup paksa dan ia terpaksa belajar di rumah. Belajar online dengan guru kelasnya atau belajar sendiri mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Di hari normal, ia hampir tak pernah punya PR.

Di sinilah hebatnya anak-anak. Perubahan cara belajar dan tekanan PR tidak merisaukannya sama sekali. Tidak ada stress dan keluhan. Ia sangat lentur, berpikiran terbuka dan positif terhadap perubahan. Setiap hal baru ia lihat sebagai mainan baru dan ia cari kegembiraan di situ. Kadang ia bosan. Ia beralih ke permainan yang lain. Atau ia “ganggu” kakak-kakaknya dengan mengajak mereka bermain. Ia ceria kembali.

Trik itu saya ikuti. Saat lelah atau buntu, saya ajak si bungsu bermain. Lalu kembali ke pekerjaan dengan pikiran yang lebih cair. Dan mencoba mendapatkan kegembiraan darinya, sebagaimana kanak-kanak.

Harus jujur saya akui, saya kini telah menikmati bekerja di rumah dan belajar dari si bungsu yang kolokan itu. Memandang pekerjaan sebagai permainan dan mencari kebahagian darinya.*

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespons Pandemi Covid-19)

Vice President, Market Underwriter & Senior Client Manager, Swiss Re.

2 Comments

Leave a Reply

Scroll Up