Search and Hit Enter

Tentang Senyum yang Bukan Virtual

SENIN, 16 Maret 2020, seharusnya saya melakukan taping acara Talk Show untuk Insurance TV (youtube.com/insurancetv) di kantor AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia). Tapi sehari sebelumnya, Pak Erwin Noekman, Direktur Eksekutif AASI, mengirim kabar jika Graha AASI terhitung Senin mulai tutup. Keputusan itu mendadak. Work from home (WFH) dilaksanakan sebagai bagian dari protokol PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diterapkan di Jakarta. Saya mengontak kru, mengabarkan pembatalan shooting. Dan sejak hari itu pula, saya dengan sukarela menjadi ‘tahanan rumah’. 

Semula saya menganggap semuanya biasa saja. Sejak tidak lagi menjadi eksekutif di perusahaan asuransi, saya menyulap sebagian rumah saya menjadi kantor. 

Tapi WFH kali ini ternyata berbeda. Ini bukan soal bekerja di rumah atau di kantor. Ini soal bagaimana merentang jarak, memotong mata rantai penularan COVID-19. Dan untuk itu, setiap orang layak dicurigai membawa virus. Wajar jika beberapa narasumber program saya menolak ditemui, janji meeting terpaksa dibatalkan. Dan tiba-tiba saja saya menemukan sejumlah rencana yang dicanangkan berbulan-bulan lalu, rontok satu-satu. 

Sementara masih mereka-reka apa yang sedang terjadi, volume percakapan melalui WhatsApp dan media sosial meningkat tajam. Segala hal bersliweran di situ. Dari kepanikan akan langkanya masker di pasar, sekadar tebak-tebakan nama artis jadul, hingga jualan berbagai produk. Belum pernah terjadi ledakan penggunaan teknologi komunikasi sedahsyat sekarang.

Di masa pandemi ini, tiba-tiba semua orang menjadi produsen informasi dan hiburan. Tiba-tiba semua orang menjadi artis, motivator, produser, trainer, presenter/host. Wajah dan suara bermunculan di mana-mana. Di WA group, di Youtube, di Zoom, di IGTV. Tak peduli sedap atau tidak sedap dipandang. Enak atau tidak enak didengar. Penting atau hanya sekadar nyampah.

Kreativitas vs Keterbatasan

Keterbatasan, sejatinya menawarkan dua wajah: membuat kita lebih kreatif berpikir – karena dipaksa oleh keadaan; atau sebaliknya tersingkir, sekadar menjadi penonton, tergilas tak berdaya, karena tak mampu berdamai dengan perubahan. 

Saya mengetahui kiprah beberapa mantan staf saya di kantor dulu, dari algoritma media sosial yang berbaik hati mengantarkannya ke beranda akun facebook atau instagram saya. Diam-diam kekaguman saya mencuat. Mereka tampak begitu mudah beradaptasi. Ada yang sibuk membuat kelas webinar dan live di IG. Ada yang berdagang secara online. Dan ada yang berinisiatif bergiat di kegiatan filantropi – mengumpulkan bantuan untuk membeli alat-alat kesehatan. 

Saya ingat ketika dulu masih memimpin unit kerja departemen di perusahaan, 12 tahun lalu. Secara sadar saya sebenarnya sudah memberlakukan masa kerja yang fleksibel untuk diri saya dan unit kerja saya. Meski saya tahu orang-orang di HRD mungkin tidak senang, mengingat kantor saya cukup konservatif dalam hal jam kerja. Saya, misalnya, menghabiskan hampir seluruh masa kerja dengan daftar presensi yang kacau. Sangat tidak taat terhadap jam masuk dan keluar kantor. Atasan saya bukan tidak tahu. Tapi mereka mungkin pura-pura tidak tahu. Karena saya termasuk pekerja yang militan – dalam pengertian mau berusaha kerja keras untuk memberikan kinerja terbaik yang saya bisa. Saya juga taat deadline. Sehingga tidak mengganggu ritme pekerjaan yang berhubungan dengan unit kerja lain. Itu juga mungkin yang membuat HRD berpikir ulang untuk melayangkan surat teguran atau peringatan. Ketika saya akhirnya menjadi leader, tentu saja saya pun tidak mempersoalkan staf saya kesiangan masuk kantor – sepanjang mereka ada pemberitahuan. Karena saya tahu mereka bakal mengganti jam kerja yang hilang itu di waktu berbeda. Mereka juga tidak pernah mempersoalkan ketika saya harus menahan mereka bekerja hingga malam hari. Tanpa menganggap itu lembur. Buat saya, bukan soal kapan dan berapa lama karyawan bekerja. Tapi pekerjaan apa yang dihasilkan, seberapa baik kualitasnya, dan apakah karyawan bisa memenuhi tuntutan standar dan deadline pekerjaan. 

Model kerja seperti ini tentu saja menuntut pendelegasian yang tinggi. Dan saya percaya betul bahwa inisiatif, kreativitas dan inovasi akan tumbuh jika karyawan memiliki ruang pikir dan ruang gerak yang cukup. Karyawan harus diberi kepercayaan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Termasuk (jika mungkin) memberikan keleluasaan memilih metode kerja yang paling nyaman buat dia.

Tak syak, orang-orang mandiri dan kreatif akan lebih cepat beradaptasi dengan ‘budaya baru’ di masa pandemi ini. Prinsip bahwa jika ada pintu tertutup pasti akan ada pintu lain yang terbuka, dihayati betul. Namun, sejumlah karyawan lainnya mungkin akan sedikit mengalami kesulitan. Terutama jika mereka terbiasa bekerja di bawah petunjuk dan pengawasan yang ketat dari atasan, dengan jam kantor yang sangat rigid. Dan tampaknya, inilah tantangan terbesar bagi para manajer level tengah saat ini: bagaimana menggerakkan anggota organisasi yang kurang mandiri dan miskin inisiatif, agar tetap bisa berkinerja tinggi di tengah keterbatasan koordinasi dan pengendalian atasan. Karena tidak semua karyawan bisa memimpin dirinya sendiri. Alih-alih produktif. Tanpa pengawasan memadai, sang karyawan yang bekerja dari rumah mungkin lebih sering bingung atau leyeh-leyeh, larut dalam pekerjaan domestik yang memang tidak memiliki batasan jam kerja. 

Yang Menetap, yang Pergi

Mengingat panjangnya masa pandemi ini, saya meyakini Covid-19 sedikit banyaknya membentuk kebiasaan baru. Wajah dunia berubah. Kita akan menemukan sebuah ekuilibrium baru. Bukan anti ekuilibrium. Tapi semacam jalan tengah. Dulu, banyak sekali eksekutif perusahaan yang workaholic – seseorang yang begitu hafal seluk-beluk perusahaan dan nomor sepatu sekretarisnya. Tapi sering lupa kapan putrinya berulang tahun. 

Tidak demikian pasca pandemi. Orang-orang sudah terbiasa berdiam di rumah. Ikatan keluarga yang semula mungkin longgar, kembali menguat. Ruang tengah kembali semarak dengan celotehan anggota keluarga. Televisi kembali menjadi tontotan bersama. Banyak kebiasaan baru yang berlangsung sepanjang pandemi, yang tidak akan ditinggalkan. Standar kebersihan keluarga misalnya, meningkat secara signifikan. Kita pasti tidak akan meninggalkan kebiasaan cuci tangan sesering mungkin. Bahkan mungkin termasuk menggunakan masker jika ke tempat ramai. Lalu ada kemudahan-kemudahan lain, seperti berbelanja kebutuhan sehari-hari melalui marketplace atau online shop lainnya, termasuk yang dikelola secara personal dan merupakan industri rumahan. Apakah kita masih akan menghabiskan waktu berjam-jam berputar-putar di mall atau nongkrong di kafe sekadar hang out? Saya kira tidak. Kecuali untuk urusan penting. 

Ketika wabah ini mereda (yang entah kapan), kita tidak sungguh-sungguh kembali pada kehidupan ‘normal’ sebagaimana sebelum wabah merebak. Kita akan menemukan keseimbangan baru ‘jalan tengah’ itu. Para karyawan mungkin akan kembali bekerja di kantor, tapi para pemilik dan manajemen puncak, telah menemukan perspektif baru. Bahwa tidak semua pekerjaan harus dikerjakan di kantor. Dan sebaliknya, tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan dengan teknologi. Sebagian karyawan dengan kompetensi tinggi juga mungkin sudah terlanjur nyaman bekerja dengan waktu yang fleksibel. Ini tentu memerlukan penyesuaian dan kebijakan baru. Struktur organisasi, misalnya, cenderung menjadi agile, semakin lentur. Sekat antar fungsi semakin tipis. Dan, sepertinya perusahaan akan sangat membutuhkan center of ecxellent untuk menemukan dan mengantisipasi setiap perubahan secara cepat. Sekaligus mengintegrasikan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya terpisah oleh struktur dan fungsi. 

Khusus untuk industri asuransi, tentu sudah bisa membaca peluang dalam hal penciptaan produk. Saya bukan orang teknik asuransi, saya tidak tahu bagaimana mewujudkan sebuah produk asuransi yang terintegrasi, namun sangat basic. Sebuah produk yang simpel. Yang bahkan bisa dibeli dengan mengandalkan online marketing. Dengan kejatuhan ekonomi – sebagian orang bahkan mengalami PHK, masyarakat lebih memilih membeli produk-produk asuransi yang meng-cover kebutuhan dasar, seperti kesehatan, pendidikan, jaminan hari tua, kendaraan dan properti. Tapi mereka enggan dilibatkan dalam sistem yang rumit. Masyarakat pasca pandemik adalah masyarakat yang terbiasa dengan kemudahan teknologi, pengambilan keputusan secara cepat dan independen, sekaligus mengandalkan dunia di ujung jarinya. Akankah asuransi umum dan jiwa bisa bernaung dalam satu sistem, dan pelanggan menerima semua layanan itu hanya dengan menggunakan telepon genggam? Entah.

Kita Masih Makhluk Sosial

Di luar itu, kita tetaplah makhluk sosial. Komunikasi dalam pekerjaan dengan memanfaatkan panca indera, tetap menjadi kebutuhan yang lebih penting dari teknologi apa pun. Karena kompetensi inti SDM perusahaan bukan hanya dibangun dari hard skill, tapi juga soft skill. Kepemimpinan, motivasi, kebutuhan untuk berprestasi, semua berangkat dari interaksi sosial secara langsung. 

Dalam studi komunikasi paling klasik sekalipun, efektivitas komunikasi ditentukan lebih banyak oleh unsur non verbal, bukan semata verbal. Komunikasi bukan hanya soal konten, tapi juga konteks. Bukan sekadar apa yang kita dengar dan ucapkan (auditory) atau lihat (visual). Tapi juga melibatkan haptik (sentuhan), kronemik (penggunaan waktu), kinesik atau gestur (gerakan tubuh), proxemik (pengaturan jarak dan ruang), vokalik (cara berbicara, paralinguistik), dan lain sebagainya. Tidak semua unsur itu bisa digantikan teknologi komunikasi.

Karena itu, saya ingin bilang, saya bukan rindu kantor. Tapi saya kangen bekerja di luar rumah. Bertemu dengan mitra bisnis, duduk bersama membuat perencanaan dan mewujudkannya. Menyerap semangatnya, dan menularkannya pada yang lain. Saya merindukan ketergesaan dan kehebohan di saat-saat deadline. Atau sekadar say hello dan menikmati senyum di sela meeting. Senyum? Ya, senyum Anda semua, yang bukan virtual.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

Saat ini CEO Maraja Communications, CEO Insurance TV dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Sastra & Gaya Hidup MAJAS. Pernah menjabat Direktur SDM dan Umum Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912, Direktur Eksekutif DPLK Bumiputera, CEO Dharma Bumiputera Foundation yang mengelola STIE Dharma Bumiputera dan Bumiputera Training Center; Kepala Departemen Komunikasi Korporat AJB Bumiputera 1912, dan dosen pada Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama) dan Universitas Paramadina, Jakarta  Selain aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, ia juga dikenal sebagai pembicara publik di bidang Komunikasi.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up