Search and Hit Enter

#dirumahaja

Berbagi catatan sepanjang masa pandemi dari sudut pandang seorang Kepala Keluarga, Dosen dan Karyawan dalam menjalani aktivitas bekerja, mengajar dan menjaga kebersamaan keluarga. 

COVID-19 menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi semua orang. Semenjak ter-expose di awal Desember tahun lalu, virus ini sudah merenggut banyak korban jiwa di seluruh dunia. Selain itu, jutaan manusia di ratusan negara lain juga terserang penyakit akibat virus tersebut. Lebih dahsyat lagi, dampak pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang kehilangan mata pencarian, termasuk di Indonesia. 

Terlepas dari kejadian yang menjadi keprihatinan bagi kita semua, kita tetap wajib mengucap syukur akan kondisi yang kita jalani. Bukan tidak mungkin, ini merupakan momentum paling pas bagi semua orang untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan kembali kepada nilai-nilai sosial dalam berempati dan membantu sesama.

Bekerja jarak jauh atau lebih populer dikenal sebagai work from home (WFH), saya jalani sejak 16 Maret 2020 lalu. Artinya, sudah 67 hari hingga tulisan ini tayang pada 22 Mei 2020. Di tahap awal masa pandemi, sebagian besar orang – termasuk saya – mengalami sebuah culture shock

Kebiasaan bersiap diri sejak dini hari, sempat menimbulkan rasa canggung di awalnya. Biasanya, setelah mendirikan shalat, sudah mulai bersiap untuk menuju tempat aktivitas. Semenjak WFH, terjadi perubahan jam kerja. Iya, sejak pagi hari pun sudah berada di “kantor” alias di depan komputer. 

Dengan WFH ini, kontan, frekuensi dan durasi indera mata saya di depan layar komputer pun meningkat pesat. Untuk mengurangi dampak radiasinya, saya pun kerap menggunakan kacamata khusus untuk itu. Selain itu, saya mendisiplinkan diri dengan mengambil jeda setiap 1-2 jam, baik untuk peregangan maupun menyisipkan dengan aktivitas lain. 

Di satu sisi, WFH membutuhkan extra effort, salah satunya dalam pengkondisian anggota keluarga lain, terutama bagi yang memiliki anak usia dini. Keberadaan seorang ayah di rumah bagi seorang anak, tentunya dianggap sebagai precious moment yang harus dimanfaatkan untuk bermain bersama. Sebagai seorang ayah, kondisi ini tentunya membutuhkan high-level skills agar bisa tetap multi-tasking — bekerja dan bermain dengan anak. 

Hal lain seperti pengkondisian “ruang kerja” dengan memanfaatkan space di rumah. Bagi yang mempunyai kelapangan rizki dengan rumah yang luas, barangkali bukan merupakan issue. Namun, bagi yang tinggal di rumah sederhana, bekerja di “ruang kerja” tentunya sarat dengan “gangguan” di atas. Kembali, dibutuhkan kreasi dan inovasi agar bisa mengubah “ruang kerja” menjadi layak. 

Dalam kondisi ini, sebenarnya sudah timbul sebuah “new normal”. Di mana setiap peserta rapat online harus siap menerima kondisi adanya “sound effect” berupa suara candaan, teriakan anak, suara pedagang sayur atau tukang ice cream yang melintas atau bahkan suara bising dari tetangga sebelah. Walau sedikit, namun faktor kondisi pandemi ini telah mampu meruntuhkan aspek formalitas, bahkan ketika rapat berlangsung secara resmi sekalipun.

Pengkondisian ritme dan formalitas bekerja sudah mengalami sedikit shifting. Beberapa orang dapat menikmatinya, karena tidak harus grooming sebelum hadir di meeting online. Sebagai catatan positif, waktu pekerja menjadi lebih “efektif” tanpa membuang waktu di kemacetan jalan. 

Kondisi normal juga dialami sebagai orang tua yang mempunyai anak usia sekolah. Setiap anak harus membiasakan diri dalam “new normal” dengan belajar jarak jauh (school from home = SFH). Anak-anak yang terbiasa mendengarkan dan melihat langsung sosok seorang guru, harus beradaptasi dengan melakukan pekerjaan secara mandiri. Di sini kesiapan mental anak diuji. Apakah dalam keluarga, seorang anak dikondisikan untuk mandiri, atau tetap orang tua membantu mengerjakan tugas atau ujian sang anak. 

Kerap kita dengar keluhan orang tua, yang “tidak sanggup” menjadi guru di rumah. Mereka rindu dan berharap kondisi kembali normal. Mungkin salah satunya, agar bisa terbebas dari proses belajar anak di rumah (?). 

Sebagai pengajar, saya pun harus beradaptasi dengan proses perkuliahan jarak jauh (lecture from home = LFH). Beda kampus, beda aturan. Beda aplikasi pula. 

Sebagaimana artikel KUPASI-an sebelumnya, STMA Trisakti menggunakan system Moodle dalam menjalani LFH. Walau merupakan hal yang baru, namun adaptasi berhasil dijalankan dengan baik. Bagi mahasiswa, aplikasi ini relatif ringan dan tidak terlalu memberatkan untuk paket data mereka. Namun di sisi lain, interaksi antara mahasiswa/i dengan dosen cukup terbatas karena media yang digunakan adalah “forum”. 

Sementara kampus STIMRA (masih saudara KUPASI – sebagai sesama anggota Dewan Asuransi Indonesia), memberikan kebebasan proses LFH. Untuk ini, saya sesuai dengan kesepakatan dengan mahasiswa/i, kami pun menggunakan Zoom meeting. Untuk aplikasi ini memang cukup memakan kuota data, sehingga salah satu solusinya agar mahasiswa/i tidak terlalu terbebani adalah mematikan feature video call. Dengan voice call, relatif penggunaan data menjadi lebih sedikit.  

Sementara kampus lain Universitas Azzahra, dengan karakter mahasiswa/i yang merupakan beasiswa BAZNAS, saya mengkombinasikan penggunakan aplikasi whatsapp group dan zoom meeting. Zoom meeting dimanfaatkan untuk share file presentasi atau untuk sesi tanya-jawab. Selebihnya, pembahasan dilakukan di WAG. 

Kampus Vokasi UI dan IPB Bogor, juga pun terdampak atas COVID-19 ini. Mahasiswa/i  yang menetap di asrama atau sekitar kampus juga dipulangkan sejak pertengahan bulan Maret lalu. Alhasil sejak itu, mereka menjalani LFH.

Kondisi ini juga dialami bagi santri/wati yang juga dipulangkan dan menjalani SFH. Setidaknya ini yang saya pahami bagi pondok pesantren di Kawasan Ponorogo, Jawa Timur. Pemulangan pun sudah dilakukan sebelum pembatasan akses masuk ke daerah masing-masing. 

Setelah menjalani WFH, SFH atau LFH di atas, saya meyakini untuk masa-masa awal merupakan sebuah kebahagiaan bagi anggota keluarga. Bisa berkumpul bersama keluarga menikmati waktu, barangkali merupakan momen langka, apalagi bagi yang tinggal di ibukota. 

Sifat alami manusia yang mudah bosan dan sulit terpenuhi keinginannya kembali menimbulkan kondisi lain. Seiring waktu, setelah puluhan hari menjalani WFH, SFH atau LFH, timbul efek samping akibat COVID-19 yaitu beban psikologis. Seseorang yang berada dalam “kurungan” untuk waktu yang cukup lama rentan menghadapi gangguan mental. Istilah ini dikenal sebagai cabin fever. Contoh sederhana bisa terlihat bagi seseorang yang duduk dan diam di kursi pesawat long-haul, cenderung mengalami depresi. Bahkan sesudahnya masih rentan mengalami jet lag

Bagi orang-orang yang “terkurung” selama masa pandemi, barangkali bisa melewati masa-masa awal. Sehari, sepekan, sebulan – barangkali masih bisa dilalui dengan baik. Namun, semakin ke akhir, orang-orang (baca: anak-anak muda) semakin tidak sabar. Keberanian (baca: kenekatan) mendorong mereka memilih mengikuti hasrat dan nongkrong, ketimbang menjaga jarak dan #dirumahaja

Kondisi ini patut disayangkan. Masih ada saja masyarakat yang tak acuh akan kondisi yang belum bisa dibilang “aman”. Akhir-akhir ini mulai banyak warga yang tak acuh dan mengabaikan protokol kesehatan. Setidaknya ini yang terlihat di kawasan rumah saya, di bilangan Tebet – Jakarta Selatan, yang notabene kawasan nongkrong anak-anak usia muda. 

Ironis memang, di usia yang masih muda, namun mengedepankan hasrat ketimbang akal sehat. Bisa jadi, mereka merasa sehat dan memang kuat untuk menangkal serangan penyakit. Namun, apakah tidak terpikirkan, bahwa sepulangnya ke rumah masing-masing, mereka berpotensi besar membawa bibit penyakit kepada keluarga yang #dirumahaja

Di balik semua kisah di atas, selalu ada hikmah yang bisa diambil dari setiap peristiwa. Setidaknya bagi saya, saya bisa ifthar (berbuka puasa) sebulan penuh bersama keluarga di rumah. Tahun-tahun sebelumnya, setiap waktu ifthar penuh dengan undangan. Baik dari perusahaan, asosiasi, regulator, rekan, kerabat, dan lain-lain. 

Selain itu, masih ada kebaikan lain yang bisa dinikmati. Waktu yang tersedia untuk tilawah juga menjadi lebih banyak. Terakhir, saya sendiri bisa menjalankan peran sebagai imam keluarga saat tiba waktu-waktu shalat berjamaah. 

Ada satu lain yang patut kami syukuri. Sejak menikah kami menghindari berhutang. Apabila memang belum mampu, maka keinginan akan kami tangguhkan sampai dana mencukupi. Pola ketahanan keuangan yang kami lakukan sebenarnya sederhana, hanya berupa menahan keinginan, tanpa mengabaikan kebutuhan. 

Barangkali, dalam keadaan “normal” sebelumnya, memiliki mobil merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap keluarga. Tidak salah. Sebagai kebutuhan iya, sepanjang disesuaikan dengan fungsi dan peruntukkannya. Semisal, keluarga berjumlah 5-7 orang tentunya lebih pas menggunakan mobil 7-seater yang dapat mengangkut seluruh anggota keluarga. Namun bagi keluarga yang hanya berjumlah 3 orang, barangkali lebih pas memiliki city car yang lebih ringkas. 

Kebiasaan ini banyak menolong kami dalam menjalani hari-hari #dirumahaja, karena tidak terbawa hasrat untuk berbelanja berlebihan, apalagi sampai menimbun sembako. Tanpa beban cicilan, alhamdulillah, semua terasa ringan karena tidak perlu ada “cegukan”. Bahkan sekiranya pun terjadi penurunan pendapatan. 

Sebagai pelengkap, berbagai penelitian sudah menunjukkan peningkatan aksi sosial baik berupa donasi masker, alat pelindung diri, maupun pembagian makanan gratis. Hal ini menunjukan, pada dasarnya setiap orang masih ingin menapaki hirarki tertinggi di diagram Maslow yaitu menuju self-actualisation. Pada posisi ini, setiap orang lebih ingin berbagi (sifat filantropi), memposisikan tangan (memberi) di atas ketimbang di bawah (meminta-minta).  

Well, semoga musibah ini memberikan kebaikan buat kita semua. Semoga musibah ini cepat berlalu. Semoga kita semua dapat bangkit dan kembali berjaya. Aamiin.

Sebagai penutup, saya meyakini bahwa kalaupun dalam waktu dekat WFH, SFH atau LFH dicabut, maka setiap orang perlu beradaptasi dengan cepat kepada “new normal”. Phyiscal distancing, protokol pemeriksaaan kesehatan, sampai dengan “kekhawatiran” besosialiasi mungkin masih akan dirasakan di awal-awal waktu nanti. Saya sendiri merasa, sebagian besar orang akan menjalaninya dengan baby step — penuh kehati-hatian. Dan ini memang tetap harus dijalani. 

Sementara itu, sebelum dicabut maka baiknya #dirumahaja.

(Tulisan ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up