Search and Hit Enter

Menyiasati Cara Kerja di Masa Pandemi

Bekerja merupakan salah satu kebutuhan sekaligus kewajiban kita selama hidup. Bekerja mempunyai tujuan luhur agar kita mampu menghidupi diri sendiri dan tidak menjadi beban orang lain. Dengan bekerja, kita mempunyai penghasilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun keluarga. Pada saat bersamaan, kita juga dapat membantu kebutuhan orang lain. 

Mungkin banyak di antara kita yang telah menyisihkan penghasilanannya untuk membantu orang tua, mertua dan sudara lainnya. Ada juga yang menjadi orang tua angkat untuk menyekolahkan anak-anak kurang mampu, memberi sokongan dana ke panti-panti asuhan atau membantu kebutuhan dana rumah-rumah ibadah, termasuk menyisihkan sebagaian penghasilan untuk membantu mereka yang terdampak pandemi COVID-19.  Ada nasehat dari seorang pemimpin yang mengatakan bahwa jauh lebih bahagia memberi daripada menerima. 

Bertitik tolak dari pemahaman tersebut, kita terpanggil menjadi pribadi yang mandiri sekaligus menjadi pribadi yang senang berbagi. Berbagi telah menjadi kesadaran baru saat ini, kesadaran yang timbul akibat dari keprihatinan terhadap berbagai kesulitan yang dialami oleh sesama. Oleh karena itu, tidak sedikit orang telah membiasakan diri untuk menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu orang lain. Dengan membantu orang lain kita akan bahagia sekaligus membahagiakan orang yang kita bantu. Semua itu dapat kita lakukan apabila kita memiliki pekerjaan atau usaha yang dapat menghasilkan uang. 

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika tiba-tiba pekerjaan kita terganggu akibat peristiwa yang tidak pernah dibayangkan seperti pandemi COVID-19. Akankah kita tetap bisa membantu orang lain seperti biasa, sementara kita pun mengalami kesulitan yang sama?

Pandemi COVID-19 telah meluluh-lantakkan perekonomian dunia. Bisnis perjalanan wisata, satu bentuk usaha yang telah terhenti sejak beberapa bulan lalu, diikuti bisnis penerbangan, bisnis perhotelan, bioskop, mal, retail, entertainment dan juga bisnis pengangkutan logistik antar negera. Tidak sampai di situ, dikabarkan beberapa perusahaan besar telah mengurangi kegiatan operasinya sehingga banyak buruh saat ini harus dirumahkan. Khusus di Indonesia tidak kurang dari 2 juta buruh telah dirumahkan akibat pandemi ini. Jika kita bekerja atau berusaha pada beberapa bisnis yang disebutkan di atas, lalu bagaimana kita bisa berbagi lagi kepada orang lain jika penghasilan kita telah tertanggu atau bahkan ada penghasilannya turun drastis akibat pandemi COVID-19 ini? 

Di saat-saat seperti inilah kita benar-benar dituntut memeras otak dan memeras keringat. Tuhan menciptakan kita dengan berbagai kelebihan. Namun kelebihan-kelebihan yang kita miliki sering tidak muncul pada situasi tenang. Sebagai contoh, dalam kondisi tenang mungkin kita tidak dapat melompati pagar dengan ketinggian satu setengah meter. Namun beda ceritanya ketika kita dikejar anjing gila, kita bisa melompati pagar karena didorong naluri menyelamatkan diri. Secara alami adrenalin, keberanian dan kemampuan luar sadar kita akan muncul dengan sendirinya pada saat kepepet. Hal yang sama juga dapat terjadi ketika kita akan bepergian ke luar kota. Di saat-saat genting dengan waktu yang kepepet, ternyata kita dapat mengerjakankan banyak hal seperti menyiapkan koper dan pakaian yang hendak dibawa, meeting dengan karyawan, menelepon customer, menyelesaikan pending matters, menitipkan tugas yang akan ditindaklanjuti, menyiapkan segala keperluan seperti oleh-oleh, memasukkan tiket dan paspor pada tempat yang mudah dijangkau sebelum berangkat ke airport. Situasi kepepet seperti ini ternyata dapat memunculkan inisiatif, kreativitas, ide-ide baru, bekerja lebih cepat dari biasanya, menjadi organisator yang baik, dan lain-lain.

Demikianlah di masa-masa sulit seperti ini, kita dituntut untuk kreatif dan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru. Kondisi yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mungkin kita tidak pernah membayangkan jika saat ini kita harus bekerja dari rumah (work from home). Dengan bekerja dari rumah, maka semua peralatan kantor yang diperlukan harus dibawa ke rumah dan semua pekerjaan juga harus bisa dikerjakan dari rumah. Begitu pun dengan meeting-meeting rutin yang biasa dilakukan di kantor, sekarang harus dilakukan secara virtual  dari rumah. Perubahan ini, menuntut setiap kita untuk bisa mengoperasikan platform virtual meeting secara mandiri tanpa bantuan staff IT. 

Ini menjadi pengalaman baru yang menantang. Di lain pihak sesuai anjuran protokol kesehatan, kita harus memakai masker setiap keluar dari rumah maupun selama bekerja di kantor. Harus menjaga jarak (physical distancing) dengan orang lain. Harus mengikuti ibadah-ibadah dari rumah. Harus sering-sering mencuci tangan. Harus rela meninggalkan kebiasaan untuk bersalaman dan cipika-cipiki saat bertemu dengan sahabat atau keluarga. Harus menghindari kerumunan, menghindari upacara-upacara adat termasuk upacara penghormatan terakhir bagi keluarga dekat maupun sahabat yang meninggal karena COVID-19. Harus segera mandi dan mengganti pakaian setelah kembali ke rumah. Semula pola kerja dan pelaksanaan protokol kesehatan di atas, sangat mengganggu kenyamanan kita. Namun setelah menjalaninya lebih dari satu bulan, kita mulai terbiasa dengan kebiasaan baru tersebut, bahkan kita dapat menjalaninya tanpa beban. Memang pada awalnya agak sulit, tetapi kemudian menjadi terbiasa dan menjadi pola hidup baru bagi kita.

Kembali ke masalah pekerjaan, kita dituntut untuk bisa survive di masa sulit ini. Dalam keadaan tertekan, kita dipaksa berpikir mencari jalan keluar agar dapat bertahan sekaligus menjamin keberlangsungan hidup keluarga.

Mungkin bagi sebagian orang masih merasa nyaman dengan pekerjaannya saat ini, karena perusahaan atau institusi dimana mereka bekerja tergolong perusahaan atau institusi yang kuat dan sudah mapan. Mungkin juga ada sebagian dari kita yang tidak terlalu memusingkan pandemik ini karena masih tersedia tabungan dan deposito cukup untuk meng-cover segala kebutuhan hidup selama masa sulit ini. Tetapi bagaimana nasib mereka yang belum bekerja alias pengangguran, lalu bagaimana keadaan mereka yang harus dirumahkan dengan jangka waktu yang tidak jelas. Adakah harapan bagi mereka yang baru di-PHK, bagaimana nasib para karyawan yang harus bekerja dari rumah serta bagaimana pengalaman berbagai usaha mulai dari UMKM sampai dengan Multi Nasional Corporation menghadapi pandemic Covid-19 ini.

Pada pembahasan kali ini, penulis akan menyoroti 7 (tujuh) kelompok yang benar-benar merasakan dampak dari pandemi COVID-19. Tujuh kelompok pekerjaan dan usaha tersebut terdiri dari mereka yang belum mendapatkan pekerjaan atau pengangguran, mereka yang baru saja di-PHK, mereka yang harus bekerja dari rumah, mereka yang masih diijinkan bekerja sesuai ketentuan pemerintah, usaha mikro  kecil menengah (UMKM), perusahaan besar nasional dan perusahaan multi national corporation (MNC).

Belum Bekerja atau Menganggur

Kelompok ini adalah para lulusan baru dari berbagai perguruan tinggi maupun SLTA dan juga beberapa rekan mereka yang telah terlebih dahulu lulus namun belum berhasil mendapatkan pekerjaan atau pengangguran. Bagi mereka ini disarankan untuk menambah skill atau keahlian terlebih dahulu sebelum lanjut mencari pekerjaan. Banyak skill yang bisa dipelajari seperti kursus Bahasa Inggris, kursus menghadapi interview, kursus membubut, kursus reparasi peralatan elektronik, kursus bengkel motor, kursus memasak (kuliner), kursus menjadi agen asuransi, kursus pialang saham, kursus pertanian, kursus peternakan, kursus perikanan, kursus business online, dan lain sebagainya. 

Terkadang muncul pertanyaan, untuk mengikuti kursus seperti disebutkan di atas kan perlu biaya, lalu bagaimana cara mendapatkannya? Salah satunya mungkin bisa melalui program Kartu Pra-Kerja yang disediakan pemerintah. Di program pra-kerja ini, calon pekerja dapat mengikuti bermacam-macam training atau pelatihan yang pembiayaannya disediakan pemerintah.

Seperti pengalaman anak pertama penulis, sebelum pandemi dia menjabat sebagai Sales Manager pada perusahaan tour & travel. Tapi setelah merebaknya pandemi ini, sesuai instruksi pemilik perusahaan, semua karyawan terpaksa dirumahkan. Untuk menambah wawasan selama tidak ada aktivitas, anak saya mendaftar mengikuti program Kartu Pra-Kerja dengan mengikuti pelatihan di bidang investasi. Setelah mengikuti semua program training secara online dan juga mengikuti ujian, sekarang anak saya telah mendapatkan sertifikat kelulusan dari training investasi tersebut. Sertifikat ini tentunya dapat memperkaya portofolio curriculum vitae-nya bila kelak akan melamar pekerjaan baru.

Dalam masa sulit seperti sekarang ini, mencari pekerjaan tidak harus ke kota. Di kampung atau desa pun tersedia banyak lapangan pekerjaan seperti usaha pertanian, perkebunan dan perikanan. Anak-anak milenial tidak perlu malu bekerja di kampung halaman. Berbekal pengalaman dan keahlian di bidang business online, Anda bisa sukses menjual hasil-hasil pertanian, perkebunan dan perikanan melalui jaringan internet. Gunakan akal sehat dan kemampuan akademik yang mungkin tidak dimiliki teman-teman sebaya Anda di desa untuk berkarya di desa sambil mengembangkan usaha. Ciptakan kelompok-kelompok tani untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan yang sudah ada sekaligus menggarap tanah yang belum dimanfaatkan. Dalam kaitan ini, pemerintah selalu berusaha memberikan bantuan sepanjang usaha-usaha yang dilakukan di desa dapat meningkatkan produktivitas pertanian untuk tujuan swasembada pangan. Usaha-usaha semacam ini, bila serius ditangani dapat memberikan hasil yang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan gaji seorang karyawan di kota. Anak-anak milenial yang bisa menangkap peluang ini bukan saja akan menjadi enterpreuner muda tetapi sekaligus menjadi pahlawan pembangunan di desanya.

Penulis teringat ketika berkunjung ke kawasan wisata Danau Toba, akhir tahun lalu. Penulis bertemu dengan sebuah keluarga yang dulu hidup nyaman di ibu kota Jakarta, tetapi sekarang telah kembali dan berdomisili di kampung halaman. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat dan aktif terlibat dalam pembangunan desa di sekitar danau Toba. Mulanya mereka menggarap bidang pertanian dan perkebunan dengan menanam sayur-mayur dan buah-buahan. Oleh karena keuletan mereka bekerja, orang-orang desa memberikan lahan mereka yang kosong untuk ditanami sayur-mayur, buah-buahan termasuk tanaman Kopi Siborongborong dan tanaman “Andaliman” sejenis bumbu makanan khas Batak dengan cita rasa yang sangat unik. Sekarang hasilnya telah melimpah ruah. Tanah yang dulu tidak produktif diubah menjadi tanah yang sangat produktif dan menjanjikan. 

Setelah tanah yang mereka kelola menghasilkan, mereka kemudian membangun sebuah café yang berada di atas lahan pertanian tersebut. Café yang menjual berbagai macam makanan dengan bahan baku yang bersumber dari lahan mereka. Mereka punya menu makanan rakyat tetapi ada menu andalan mereka yaitu “Pizza Andaliman” dan “Juice Andaliman” yang sangat nikmat dan belum pernah penulis temui di tempat pariwisata lainnya. Selain menjual produk-produk mereka sendiri, mereka juga bekerjasama dengan pelaku usaha setempat yang menitipkan barang-barangnya di café tersebut dengan sistem bagi hasil. 

Setelah sukses dengan perkebunan dan café, mereka juga membangun penginapan yang tidak jauh dari lokasi tersebut. Penginapan dengan view hutan-hutan di atas danau Toba tersebut mereka bangun cukup sederhana tetapi sangat disukai oleh orang-orang bule yang senang berpetualang. Di tempat yang sepi dan syahdu itu disediakan tempat-tempat khusus untuk merenung, tempat yang sangat cocok untuk menulis cerita atau buku. Mereka juga menyediakan motor dan mobil dua gardan yang dapat disewa untuk menikmati indahnya danau Toba sambil mengelilingi desa-desa yang ada di sekitar kawasan wisata danau Toba. Ternyata pengalaman-pengalaman mereka yang pindah dari ibu kota ke daerah danau Toba telah ditulis di dalam blog yang mereka punyai. Blog itu sangat disukai oleh wisatawan manca negara dan oleh karena itu pulalah networking mereka menjadi mendunia. Keuangan mereka saat ini sangat melimpah, bahkan mereka sering berwisata ke luar negeri sambil belajar di sana terkait pengembangan pariwisata. Mereka telah mampu mempersiapkan dana untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke luar negeri dari bisnis yang mereka kerjakan saat ini. Mereka juga banyak membantu pembangunan di sekitar desa dimana mereka tinggal termasuk memberi pelatihan di bidang pertanian dan pariwisata. Mereka juga membuka lapangan pekerjaan bagi masayarakat setempat untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Pada percakapan terakhir kami dengan suami-istri pemilik perkebunan dan café tersebut, mereka mengatakan sangat bahagia sekarang tinggal di desa. Selain udaranya sangat segar, tanpa polusi seperti di Jakarta; mereka juga masih terlibat mengurus kebun walaupun hanya sekadar mengeluarkan keringat. Membersihkan kebun sambil memandangi tanaman yang sedang bertumbuh dan berbuah tentu sangat mengasyikkan. Terlebih dari lokasi perkebunan mereka dapat memandang indahnya danau Toba. Yang ingin penulis ceritakan di sini adalah, jangan pernah malu untuk pulang ke daerah. Di sana masih banyak potensi yang bisa digarap dan dikembangkan. Yang tidak kalah pentingnya, ternyata berusaha sambil membangun desa penghasilannya tidak kalah dari ibu kota. Yang penting di sini adalah kemauan, karena di mana ada kemauan di situ ada jalan.

Terdampak PHK

Selain mengikuti program pra-kerja di atas, rekan-rekan yang baru saja kehilangan pekerjaan (di-PHK) dapat juga memulai bisnis baru, bisnis kecil-kecilan dengan cara memanfaatkan relasi di tempat kerja Anda sebelumnya. Mungkin Anda bisa memulai usaha pembuatan kue, usaha pengolahan ikan teri, cumi dan udang dalam kemasan, penyalur sembilan bahan pokok, penyalur air mineral dalam kemasan galon, membuka usaha mikro dan lain-lain. Untuk penjualan produk dari usaha baru ini, Anda dapat menawarkannya ke relasi Anda di perusahaan sebelumnya atau ke tetangga sekitar Anda. Produk juga dapat ditawarkan via group WA atau media social dengan menampilkan gambar produk lengkap dengan daftar harganya. Usaha seperti ini setidaknya dapat dipergunakan sebagai usaha antara sebelum Anda mendapatkan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Namun jika usaha ini ternyata berkembang, maka sebaiknya usaha ini jangan ditinggalkan, tetapi terus dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi usaha yang dapat memberikan lapangan pekerjaan baru kepada orang lain.

Gunakan sebagian pesangon Anda untuk mengembangkan usaha baru ini. Tidak perlu berkecil hati atau mempertahankan gengsi. Situasi saat ini telah berubah, orang juga paham kalau masing-masing kita ingin survive di masa-masa sulit ini. Para artis sekalipun, sudah tidak segan-segan banting setir menjadi penjual makanan atau kuliner secara online agar dapat bertahan hidup di masa sulit ini. Dari pada meminta-minta belas kasihan orang, lebih baik berusaha. Usaha yang didasari niat yang baik akan diberkati oleh Tuhan. Jadi buat rekan-rekan yang baru di-PHK, jangan kecewa, jangan putus asa. Masih ada masa depan yang indah yang penuh harapan sepanjang kita mau berusaha.

Penulis teringat pada percakapan santai dengan seorang teman, saat berolah raga dua minggu lalu. Di usianya yang ke-64 tahun, dia masih diberikan kepercayaan memimpin dua pabrik kemasan obat dengan jumlah karyawan lebih dari 800 orang. Yang menarik dari percakapan kami, teman ini bercerita bahwa turnover karyawan di perusahaannya selama puluhan tahun adalah nol. Itu artinya tidak satu pun karyawan yang mengundurkan diri atau di-PHK. Kalaupun suatu saat nanti terjadi, selaku presiden direktur di perusahaan tersebut, dia telah mempunyai kebijakan bahwa uang pesangon yang akan diberikan kepada karyawan yang di-PHK harus dengan jumlah yang memadai. Tetapi sebagian dari uang pesangon tersebut diserahkan dalam bentuk sarana usaha produktif, seperti gerobak bakso atau sejenisnya. Tujuannya adalah agar tidak satu pun dari karyawan yang di-PHK melarat karena tidak memiliki usaha atau pekerjaan. Sungguh mulia dan bijaksananya cara berpikir seorang pemimpin seperti ini.

Cerita ini sengaja penulis sampaikan guna menyemangati rekan-rekan yang baru saja di-PHK dan sekaligus memberikan inspirasi bagi para pimpinan perusahaan agar lebih perhatian terhadap karyawan-karyawannya yang telah berjasa membangun dan mengembangkan perusahaan selama ini.

Bekerja dari Rumah

Bagi rekan-rekan yang harus bekerja dari rumah (work from home) biasanya akan mengalami turunnya pendapatan. Mungkin saja ada dari rekan-rekan yang harus kehilangan uang transport dan uang makan karena semua pekerjaan telah dilaksanakan dari rumah. Begitu pun dengan rekan-rekan sales yang lebih mengutamakan pendapatan komisi dari gaji pokok, akan mengalami situasi yang sama. Dengan bekerja dari rumah dan tidak lagi melakukan penjualan ke luar, otomatis pendapatan Anda akan berkurang. Untuk menanggulangi penurunan pendapatan, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama Anda harus mengencangkan ikat pinggang dimana pengeluaran harus disesuaikan dengan pendapatan yang telah menurun tersebut. Harus belajar berhemat dan berani menunda pembelian yang tidak perlu. Artinya penghasilan yang didapat sekarang harus dapat dikelola sedemikian rupa agar jangan sampai berhutang oleh karena tidak mampu mengubah kebiasaan lama yang cenderung konsumtif. Dalam kaitan ini, rekan-rekan harus menggunakan pengahsilannya secara produktif dan tidak konsumtif.

Bagi rekan-rekan di level staff, manajer hingga direksi diperlukan keahlian baru yaitu keahlian dalam menggunakan multi media baik dengan komputer, laptop atau smartphone agar bisa mengadakan rapat atau meeting secara virtual.  Ada beberapa aplikasi virtual meeting yang dapat digunakan antara lain Zoom, Skype, Cisco Webex Meetings, Google Duo, Google Hangout Meets, Teams, dan lain lain. Menurut informasi, Zoom lebih mudah dioperasikan tetapi agak lemah dari sisi keamanan.

Mungkin sebelum terjadi pandemi Covid-19, kita jarang melakukan virtual meeting semacam ini karena secara rutin masing-masing kita telah mempunyai agenda meeting baik mingguan, bulanan, kwartalan, semesteran bahkan tahunan. Semua itu kita lakukan dengan physical meeting di kantor, di hotel atau tempat-tempat lain yang ditentukan. Sesekali, mungkin kita mengikuti video conference dengan business partners kita di luar negeri tetapi pada kurun waktu tertentu kita tetap harus bertatap muka atau bertemu secara langsung.

Namun dengan terjadinya pandemi COVID-19 ini, akhirnya kita terbiasa melakukan meeting secara virtual. Selain itu, jika kita mempunyai pekerjaan sampingan di luar jam kantor seperti mengajar atau memberikan materi kuliah, sekarang kita sudah tidak mengajar atau memberi kuliah dengan tatap muka secara langsung dengan mahasiswa. Semuanya sudah dilakukan secara online atau daring. 

Jadi sebenarnya, tanpa kita sadari banyak hal positif yang kita peroleh selama masa pandemi ini.

Tidak kalah pentingnya, kecanduan membaca dan menulis semakin meningkat selama masa WFH ini, termasuk berbagi cerita melalui media sosial. Tidak sedikit dari teman-teman yang kemudian muncul memberikan presentasi, tausiah, siraman rohani di media sosial selama masa pandemi ini. Semua itu menjadi catatan yang menggembirakan, ternyata di masa sulit pun orang masih bisa bekerja secara produktif. Bahkan dengan pemberlakuan WFH, malah sudah tidak ada lagi batasan waktu untuk bekerja. Orang bisa bekerja dari rumah mulai pagi sampai pagi lagi; yang penting tetap menjaga kesehatan dan harus beristirahat pada waktunya.

Istri dari seorang presiden direktur dengan rekan-rekan arisannya pernah bercerita kepada penulis. Sebelum pandemi Covid-19, dia sangat rajin ke salon untuk perawatan. Pengeluaran yang tidak sedikit harus selalu dianggarkan setiap bulan untuk memelihara kecantikan. Tetapi dengan adanya pandemi ini, dia tidak lagi memilikrkan perawatan dan kecantikan, tidak lagi menggunakan parfum dan kosmetika saat beperguian. Kenapa? Karena ketika yang bersangkutan ke luar rumah, dia wajib memakai masker, lalu untuk apalagi kosmetika. Alhasil dalam waktu 3 bulan terakhir, dia bisa menghemat banyak uang dan bahkan dari dana yang dihemat tersebut dia berhasil menambah jumlah depositonya di bank. Ini sisi lain dari dampak Covid-19 yang memberikan dampak positif bagi sebagian orang yang menyadarinya.

Mereka yang Masih Bekerja 

Bagi mereka yang masih diizinkan bekerja sesuai peraturan pemerintah, bersyukurlah. Artinya Anda masih bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan setiap bulan karena perusahaan Anda masih diijinkan pemerintah untuk melakukan kegiatan usaha. Beberapa usaha yang masih diijinkan pemerintah untuk beroperasi selama masa pandemi yaitu: sektor Kesehatan, sektor Pangan, Makanan dan Minuman; sektor Energi, sektor Komunikasi, Teknologi, dan Informaasi; sektor Keuangan, sektor Logistik, sektor Konstruksi, sektor Industri Strategis, sektor Pelayanan Dasar dan Utilitas Public serta Industri yang ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional atau Objek Tertentu dan sektor Usaha yang Melayani Kebutuhan Sehari-hari.

Namun begitu penghasilan Anda tetap akan menurun karena semua sektor usaha di atas akan mengencangkan ikat pinggang. Sejauh mungkin perusahaan akan menunda pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting untuk mempertahankan keberlangsungan perusahaan.

Dalam kondisi ini, rekan-rekan juga harus mengencangkan ikat pinggang sekaligus mencari pengahasilan tambahan. Penghasilan tambahan dapat diperoleh melalui usaha penjualan produk secara online, membuka usaha kuliner bekerjasama dengan Gofood, menawarkan produk-produk yang sedang dibutuhkan masyarakat di saat pandemi seperti masker, sanitizer, pembersih udara di ruangan ber-AC sampai peralatan cukur mandiri. Rekan-rekan harus kreatif, tidak perlu malu memulai sesuatu yang baru sepanjang pekerjaan tersebut halal, tidak melanggar hukum dan etika kesusilaan.

Beberapa teman, mencoba mengasah kemampuan dan talenta mereka yang selama ini terkubur. Sebagian dari mereka mulai menulis buku dan atikel. Sebagian membikin training secara online dan mulai mengajar di perguruan tinggi secara online. Sebagian lagi mengembangkan usaha pertanian dengan mengolah tanah peninggalan orang tua yang belum pernah digarap selama ini.

Usaha-usaha tersebut tersebut di atas tentunya sangat baik dikerjakan pada masa-masa sulit seperti ini. Selain menjadi sumber mata pencaharian baru bagi kita dan keluarga, juga dapat memberikan kempatan kerja bagi orang lain. Artinya lewat usaha dan kerja keras, Anda akan dapat menghidupi keluarga dan di saat bersamaan dapat meringankan beban orang lain. Saya kira memang itulah tujuan Tuhan menciptakan kita agar kita saling membantu, tolong-menolong antar sesama umat ciptaan-Nya.

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008, usaha mikro adalah badan usaha perorangan yang memiliki aset atau kekayaan bersih hingga Rp. 50.000.000,- tidak termasuk tanah atau bangunan tempat usaha. Omzet penjualan tahunan usaha mikro setiap tahunnya paling banyak Rp. 300.000.000,- 

Usaha kecil merupakan suatu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, baik yang dimiliki perorangan atau kelompok dan bukan sebagai badan usaha cabang dari perusahaan utama. Dikuasai dan dimiliki serta menjadi bagian baik langsung meupun tidak langsung dari usaha menengah. Yang masuk kriteria usaha kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih Rp. 50.000.000,- dengan maksimal yang dibutuhkannya mencapai Rp. 500.000.000,- Hasil penjualan bisnis setiap tahunnya antara Rp. 300.000.000,- sampai paling banyak Rp. 2.500.000.000,-

Sedangkan Usaha Menengah adalah usaha dalam ekonomi produktif dan bukan merupakan cabang atau anak usaha dari perusahaan pusat serta menjadi bagian secara langsung maupun tak langsung terhadap usaha kecil atau usaha besar dengan total kekayaan bersihnya sesuai dengan yang sudah diatur dengan peraturan perundang-undangan. Usaha Menengah sering dikategorikan sebagai bisnis besar dengan kriteria kekayaan bersih yang dimiliki pemilik usaha mencapai lebih dari Rp. 500.000.000,- hingga Rp. 10.000.000.000,- dan tidak termasuk bangunan dan tanah tempat usaha. Hasil penjualan tahunannya mencapai Rp. 2.500.000.000,- sampai dengan Rp. 50.000.000.000,- 

Pandemi COVID-19 telah menghantam berbagai sendi perekonomian. Penyebaran virus ini mengharuskan aktivitas manusia dilakukan dengan selalu menjaga jarak (physical distancing) dan dengan pemberlakukan PSPB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) akan berdampak pada pelambatan aktivitas ekonomi berupa suppy dan demand. Risiko terganggunya sektor ekonomi yang dapat terjadi sewaktu-waktu harus mulai disadari oleh pemerintah dengan melakukan pemetaan terhadap sub-sektor yang terdampak.

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sub-sektor yang tentunya perlu mendapat perhatian karena peran sentral dalam menopang perekonomian di Indonesia. Sesuai penelusuran penulis, sekitar 90% tenaga kerja di Indonesia terserap pada sektor ini dan kontribusinya terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 60%. Jika dirupiahkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional Indonesia pada tahun 2018 cukup besar yaitu sebesar Rp. 8.400 Trlliun.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa UMKM adalah salah satu sub-sektor yang  terdampak secara signifikan terutama untuk usaha berskala mikro. Usaha mikro yang selama ini menopang aktivitas pariwisata terutama yang berkaitan dengan sektor makanan, minuman, serta kerajinan kayu dan rotan.

UKMK yang bergerak pada jenis usaha makanan dan minuman mikro yang terdampak berada di kisaran 27%. Sementara, usaha makanan dan minuman berskala kecil terdampak 1,77%, sedangkan usaha berskala menengah terdampak cukup kecil hanya sekitar 0,07%. Namun usaha UKMK yang bergerak di bidang usaha pengolahan kerajinan kayu dan rotan terdampak cukup signifikan yaitu 17,03% akibat dari pandemi Covid-19 ini.

Risiko yang dihadapi UKMK akibat pandemi COVID-19 ini membutuhkan intervensi pemerintah berupa kebijakan yang tepat, cepat, dan akurat. Bentuk intervensi pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan bantuan kredit dalam skala besar. Mekanisme pemberian kemudahan oleh lembaga perbankan konvensional hingga fintech.

Contoh pemberian akses kredit yang mudah dan cepat kepada UMKM terdampak pandemi COVID-19 telah dilakukan oleh Bank Mandiri. Dana portofolio kredit UMKM telah disiapkan oleh Bank Mandiri sebesar Rp. 103 Trilyun pada bulan Februari 2020 dan kan terus bertambah sesuai kondisi. Bank Mandiri juga telah memberikan relaksasi pembayaran angsuran, perpanjangan masa peminjaman hingga penyesuaian suku bunga UMKM.

Bentuk intevensi lainnya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengimplementasikan program bantuan khusus hingga membuka pasar baru bagi UMKM. Dalam situasi yang cukup mendesak ini, Kementrian Koperasi dan UMKM serta beberapa lembaga pemerintah terkait perlu mencari banyak alternatif kebijakan untuk UMKM seperti yang pernah dilakukan negara lain yang sama-sama menghadapi pandemi COVID-19. 

Rekan-rekan yang bergerak dibidang usaha mikro dan kecil, harus mengubah strategi pemasarannya dari yang menunggu pembeli menjadi penjual yang mengantarkan barang atau jasanya ke pembeli. Penjualan yang manual berubah menjadi penjualan secara online. Jadi di sini dibutuhkan kretivitas dari rekan-rekan untuk membuka pasar-pasar baru dengan cara-cara yang baru pula. Bila perlu ajak generasi milenial untuk mengembangkan usaha rekan-rekan dengan model-model bisnis yang lebih up-to-date atau kekinian.

Rekan-rekan yang bergerak di Usaha Menengah tentu merasakan juga dampak dari pandemi COVID-19 ini. Namun pemerintah tidak tinggal diam. Ada banyak inisiatif yang telah diambil mulai dari relaksasi pembayaran, keringanan cicilan bunga bank, penundaan pembayaran pajak penghasilan, dan lain-lain. Tentunya hal ini harus didiskusikan lebih lanjut dengan pihak bank dimana rekan-rekan mengambil kredit. Berkonsultasi dengan OJK bilamana rekan-rekan bekerja dalam Sektor Usaha IKNB dan juga berkonsultasi dengan konsultan pajak untuk mendapatkan solusi yang terbaik dalam hal pembayaran keringanan pajak.

Perusahaan Besar

Perusahaan Besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 10.000.000.000,- tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 50.000.000.000,- (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2018).  

Kementrian Perindustrian terus berupaya agar industri manufaktur mendapatkan kepastian berusaha serta mendapatkan perlindungan saat masa sulit akibat dampak pandemi COVID-19. Dalam merealisasikan upaya tersebut, Kemenperin melakukan pemetaan sekaligus menginisiasi stimulus agar sektor manufaktur mampu terus berkontribusi positif pada perekonomian nasional di tengah masa tanggap darurat Covid-19 ini.

Beberapa permasalahan yang dihadapi sektor industri yang terdampak oleh Covid-19 antara lain penundaan kontrak atau bahkan tak sedikit yang mengalami pembatalan pesanan. Hal tersebut menimbulkan multiplier effect karena industri mengalami penurunan utilisasi sehingga berimbas pada pengurangan pegawai, bahkan berpotensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) . Permasalahan lainnya adalah kelangkaan dan naiknya harga bahan baku karena terbatasnya akses ke negara asal.

Memperin menjelaskan, untuk menghadapi COVID-19, Kemenperin mengusulkan stimulus untuk mendukung industri yang terdampak, antara lain pemberian soft loan (pinjaman lunak) dari pemerintah untuk membantu cashflow perusahaan, pinjaman dana talangan untuk Tunjangan Hari Raya (THR), pemberian relaksasi kepada pelaku usaha dalam pembayaran utang untuk jangka waktu tertentu, dan keringanan penurunan bunga.

Jadi buat rekan-rekan yang bekerja di perusahaan besar, jangan ragu karena dengan adanya soft loan, pengusaha masih bisa memberikan THR kepada karyawan tanpa harus mencicil.

Multi National Corporation (MNC)

Multi National Corporation (MNC) merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan menjual suatu barang atau jasa yang berada lebih dari satu Negara. MNC memiliki dana yang sangat besar. Merekalah yang menjadi pemain utama dalam kegiatan ekspor, impor, transaksi internasional dan pola operasi internasional lain seperti usaha patungan, penanaman modal asing dan system lisensi.  

Akibat dari pandemi COVID-19, perusahaan-perusahaan multinasional di China mendesak Presiden Xi Jinping dan kabinetnya untuk memberikan keringanan pajak bagi pelaku usaha guna menghindari kerugian yang lebih besar. Presiden Kadin Uni Eropa di China Joerg Wuttke mengatakan hampir setengah dari 577 anggotanya mengalami penurunan pendapatan hingga dua digit pada semester pertama tahun fiskal ini. Menurut Wuttke di berbagai media, penanganan virus adalah tugas yang paling penting, akan tetapi langkah-langkah yang lebih penting lainnya juga harus tetap dipriritaskan untuk mengembalikan ekonomi riil. (27/2/2020).

Kondisi yang sama juga terjadi di perusahaan asal AS di China. Menurut Kadin AS di China hampir setengah dari 169 perusahaan memprediksi pendapatan akan menurun tahun ini jika bisnis mereka tidak pulih pada akhir April 2020. Sementara seperlima dari total anggota Kadin AS di China memprediksi pendapatan akan tergerus 50% apabila isu Corona berlanjut sampai Agustus. Tak hanya itu, sebanyak 10% anggota juga sudah melaporkan kerugian hingga US$70.000 per hari. Ketua Kadin AS di China Greg Gilligan. Menyatakan bahwa dampak dari semua ini signifikan, misalnya terhadap operasional perusahaan, produktivitas staf, peningkatan biaya, penurunan pendapatan, dan lain sebagainya.

Kondisi yang terjadi belakangan ini juga membuat anggota Kadin AS pesimistis terhadap proses bisnis di China. Bahkan, 44% anggota Kadin AS menilai hubungan bisnis AS-China tampaknya akan rusak untuk dua tahun ke depan.

Dengan pelbagai survei yang dilakukan tersebut, para pengusaha multinasional mendesak pemerintah China untuk melakukan tindakan penyeimbangan antara penanggulangan wabah dan memulihkan kembali perekonomian Negara.

Dilansir dari Voanews, beberapa pemerintah daerah China telah meluncurkan beberapa kebijakan untuk membantu pengusaha, meski terlalu dini untuk menghitung dampak wabah Corona terhadap prospek bisnis jangka panjang. Kebijakan itu misalnya berupa keringanan pajak, serta mengurangi biaya sewa property untuk membantu keberlanjutan bisnis asing yang beroperasi di China (rig). (Sumber DDTC News, 28/02/2020).

Dari berbagai ulasan di atas, ternyata hampir semua kelompok pekerjaan dan usaha telah terkena dampak pandemi Covid-19. Pandemi ini tidak memilih-milih jenis pekerjaan yang hendak dia ganggu. Sama seperti pengganggu yang tidak kelihatan, dia mengganggu mereka yang belum mendapatkan pekerjaan sehingga bingung untuk memulainya dari mana. Mereka yang baru saja di-PHK juga kelimpungan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Mereka yang bekerja dari rumah harus menyesuaikan diri dengan cara kerja yang baru dan mereka yang masih diijinkan bekerja sesuai ketentuan pemerintah harus bersyukur dan menghargai kesempatan. Semua usaha mulai dari UMKM, perusahaan besar hingga multinational corporation harus berbenah diri untuk melakukan inisiatif-inisiatif baru selama berlangsungnya pandemi ini. Semua telah terdampak, tidak hanya di negara Indonesia tetapi juga di seratus lebih negara di seluruh dunia.

Pelajaran Penting

Apa yang dapat kita petik dari peristiwa pandemi COVID-19 ini? Menurut penulis sedikitnya ada tujuh hal penting yang dapat diperoleh di balik pandemi COVID-19 ini, antara lain:

Pertama, di balik setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Siapapun kita tidak pernah tahu kalau pandemi COVID-19 ini telah memporak-porandakan seluruh sendi-sendi kehidupan kita. Melalui pandemi ini, kita disadarkan bahwa tidak satupun dari kita yang berdaya untuk menolak penularan virus ini. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat jelata, pria-wanita, terpelajar-tidak terpelajar, di kota-di desa, di negara maju-negara miskin, semua telah terdampak pandemi yang merisaukan ini. Pandemi ini telah menghancurkan kemapanan, pandemi ini telah meruntuhkan dominasi dan pandemi ini mendera kesombongan. Setidaknya itulah hikmah yang kita peroleh dari pandemi ini. 

Kedua, ambillah hikmah tersebut sebagai pembelajaran. Keledai tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama. Meskipun keledai tergolong binatang yang bodoh, namun dalam kebodohannya dia masih tahu di lubang mana dia pernah jatuh dan dia pasti menghindar saat melewati lubang tersebut. Dengan analogi keledai bodoh tersebut, kita juga dituntut untuk mengambil hikmah dari kegagalan yang pernah kita alami dan memakainya sebagai pembelajaran. 

Banyak hal yang kita dapatkan melalui pandemic COVID-19 ini. Protokol kesehatan telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun, menjaga jarak, memproteksi diri dengan menggunakan masker, menghindari kerumunan, selalu memelihara stamina tubuh, berolah raga dan berjemur di pagi hari menjadi kebiasaan baru bagi kita dan juga menjadi bekal menghadapi peristiwa yang sama di kemudian hari.

Ketiga, pembelajaran tersebut harus membawa perubahan cara berpikir, perilaku dan cara kerja yang baru. Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, pandemi COVID-19 telah berdampak terhadap pekerjaan dan usaha kita. Oleh karena itu kita harus melakukan perubahan terhadap cara kerja yang lebih baik, efektif dan efisian. Peristiwa ini mendorong kita untuk terus berpikir sehingga mampu mengeluarkan ide-ide yang baik dan kreatif untuk memajukan perusahaan bahkan di tengah goncangan sekalipun. Tidak kalah pentingnya, kita juga harus mengubah perilaku kita dari kesombongan dan arogansi.

Keempat, bila cara berpikir, perilaku dan cara kerja baru dapat dilaksanakan dengan baik dan terstruktur, maka kita akan bisa melewati masa-masa sulit ini dan akan masuk dalam kondisi normal yang baru yang lebih baik.

Kelima, Hal-hal yang baik yang telah kita terima sebagai pembelajaran harus kita pertahankan dan sebaliknya hal-hal buruk yang pernah kita lakukan sebelumnya harus kita tinggalkan.

Keenam, teruslah bekerja secara produktif agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Itu adalah panggilan dan tanggung jawab kita.

Ketujuh, jika kita telah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, sesungguhnya kita telah mewujudkan tujuan Tuhan dalam hidup kita. Berbahagialah.

“Salam Sehat, Tetap Produktif, Terus Jaga Protokol Kesehatan Demi Keselamatan Kita Bersama.”

(Tulisan ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

Presiden Direktur PT. Jaya Proteksindo Sakti Reinsurance. Ketua Departemen Hukum, Peraturan dan Kepatuhan APPARINDO

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up