Search and Hit Enter

Dari Telemedicine Hingga ber-Zoom Cara Menulis

Memasuki minggu pertama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jakarta, info webinar disusul zoom makin intensif bersliweran di HP. Sebenarnya webinar biasa saya ikuti, terutama kegiatan PERSI, perhimpunan 2600 rumah sakit. Selama ini, setiap webinar berkumpul di markas 5 sampai dengan 15 orang, dengan peserta sedikitnya 200-300 rumah sakit. Sejak Covid-19, ampun, peserta selalu di atas 500-an dan tak jarang ribuan. Maklum topiknya umumnya mengenai Covid-19, dari mulai protokol pelayanan di RS, APD yang langka dan mahal sampai cara menagih biaya perawatan. Ampun deh adminnya. Meleset, kadaluwarsa, ambyar tagihan. Ironis? RS melayani dengan risiko tertular, APD mahal dan langka, saat menagih masih berisiko tidak dibayar.

Sejak pandemi merebak, income RS umumnya drop 50%. Jika yang lalu sampai kini pun tagihan ke BPJS Kesehatan jadi hit pembahasan, kini atensi bertambah pada bagaimana menagih pembayaran layanan Covid-19. Dalam pertemuan zoom berhubungan biaya layanan Covid di RS, dibahas proyeksi Dono dkk dari DERBY University England. Penelitian itu menyebutkan bahwa di bulan Mei, biaya pelayanan kesehatan (yankes) Covid dapat mencapai 89-147 triliun rupiah. Bahkan jauh lebih besar berdasarkan asumsi moderat. Diskusi daring, juga merambah pada telemedicine yang adhoc diatur oleh Kemenkes. Walaupun regulasi telemedicine saat ini ditujukan untuk layanan Covid-19, kecenderungannya di masa datang tidak terhindar untuk melayani yankes kronis lain. Seberapa cepat dan jauh pihak terkait menyesuaikan? 

Buat saya pribadi, pelajaran berharga menggunakan daring, webinar dan zoom di antaranya:

  • Mengikuti webinar mensyaratkan disiplin waktu, apalagi selaku nara sumber, pembahas maupun moderator dan nara hubung.
  • Untuk acara formal seperti RUPS (Tbk, perusahaan terbuka) yang diatur OJK, disiplin waktu dan materi terekam seketika. Jadi menjadi bukti sahih semua unsur aspek yang mengikat. Mudah on time, murah tanpa biaya hotel atau space kantor.
  • Semua pihak terlibat membutuhkan kemampuan berbicara dari mulai nada, intonasi, respons dan tentu saja substansi materi.

Pengalaman mengikuti lebih dari 20 topik selama 15 hari PSBB Jakarta, materi terbanyak yang saya ikuti terkait Covid-19 oleh UGM kerjasama PERSI, InaHea-UI, Kemenkes, BP Jamsostek, Dana Pensiun dan last but not least mengenai “cara menulis” oleh KUPASI. 

Berikut rangkuman terpilih:

Proyeksi 89 Triliun

Dono cs dari Darby University England, memproyeksi bahwa biaya pelayanan kesehatan Covid-19 sampai dengan Mei 2020 dapat lebih dari Rp89 triliun atau setara biaya pelayanan kesehatan 220 juta peserta JKN setahun. Meskipun mendapat kritikan dari Prof. Hasbullah Thabrany sebagai pembahas, bagi saya cukup menggugah perhatian. Saya mengusulkan dibangun “poros Dono-Doni” komandan Percepatan PSBB. Tujuannya mengokohkan tekad, nilai, memutus rantai Covid-19. Apapun pilihan caranya, PSBB atau lockdown, bertujuan mulia, selamatkan rakyat dan biaya puluhan sampai ratusan triliun rupiah.

Telemedicine

Dengan  motivasi antara lain memudahkan pasien dan mengurangi resiko tertular, RS mengembangkan telemedicine. Telemedicine digunakan untuk layanan kesehatan Covid-19. Namun dari diskusi, berkembang kebutuhan regulasi pelayanan kesehatan terpilih lainnya, seperti untuk pengobatan penyakit kronis.

Jangan Tolak Kami

Seminar zoom tentang prosedur klaim Covid-19 diatur oleh Kemenkes. Jelang dan sejak regulasi PSBB, pelayanan kesehatan terduga Covid-19 dilaksanakan serba cepat, darurat. Ringkasnya penanganan Covid dan klaim Covid dalam kondisi tidak normal. Dilakukan semata untuk mencegah penularan dan keselamatan pasien.

Akibatnya dari 100 RS yang mengirim data ke Kemenkes (dari 1000-an RS yang melayani Covid), banyak klaim nyangkut di BPJS Kesehatan. Penyebab pending klaim adalah verifikasi oleh BPJS Kesehatan, antara lain persoalan-persoalan administrasi di tengah periode perawatan.

Hak Dokter dan Nakes

Pengalaman pelajaran berharga lain yang saya ikuti melalui daring seminar juga dari ekonomi kesehatan.

Korban tenaga kesehatan, meninggal dan mungkin cacat total akibat melayani Covid-19,  berhak santunan dari upah sementara tak kerja, santunan kematian 48x upah, beasiswa putra/putri 174 juta, Jaminan Kematian 48 juta plus Jaminan Hari Tua dan Tunjangan Pensiun dari BP Jamsostek. Landasannya bertolak pada Perpres no.7 tahun 2019 serta UU Keselamatan Kerja 1970. Santunan di atas top-up dari santunan meninggal Kepres dalam rangka menangggulangi Covid-19.

Gini lho Cara Nulis

Zoom ini diprakarsai pengurus Kupasi. Diikuti oleh peminat menulis asuransi, dengan nara sumber Ana Mustamin, penulis kawakan sejak SD. Pesertanya bukan millenial yang tidak berkesempatan dekat Jokowi (haha). Walaupun industri asuransi terimbas akibat “salah investasi” Saving Plan JS, umumnya penulis asuransi optimis asuransi tetap menjadi proteksi menghadapi risiko keuangan rakyat dan usaha. Juga asuransi menjadi sumber lapangan kerja dan pemupukan dana jangka panjang perekonomian nasional. Diskusi zoom asyik apalagi bulan puasa. Dari diskusi zoom ini, semangat dan energi menulis asuransi makin subur.

Bagi saya yang berusia 75 tahun, ya memang harus stay at home. Pengalaman PSBB, bisa merupakan kesempatan. Asalkan tidak menjadi lupa pada persiapan “rumah” yang sebenarnya. Insya Allah.

Jakarta, di tengah kurva puncak Covid, Mei 2020

(Tulisan ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

Ketua BPJS Review

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up