Search and Hit Enter

Tak Ragu dengan Hal Baru

Jutaan orang tengah merasakan banyak hal baru dalam hidup. Bahkan menjalani sesuatu yang sebelumnya diyakini mustahil dilakukan. 

Yang paling baru, tanggal 24 Mei 2020 lalu. Ribuan laki-laki di Indonesia untuk pertama kalinya menjadi imam sekaligus khatib Sholat Idul Fitri.

Adakah hal ini pernah terlintas di benak para lelaki itu? Jangankan khatib Sholat Idul Fitri, khatib Sholat Jum’at pun banyak yang belum pernah. Tidak berani jadi khatib. Tidak pantas. Tidak mungkin. Orang lain saja. Itulah kira-kira yang terlintas di pikiran kita selama ini.

Tapi realitanya? Ribuan lelaki tersebut bisa. Lancar pidatonya. Ceramah menyampaikan tausiyah di depan keluarganya saat Sholat Idul Fitri di rumah. Bisa jadi, setelah ini, sebagian laki-laki itu menjadi lebih percaya diri menjadi khatib Sholat Jumat.

Iya, banyak hal baru yang kita jalani dalam beberapa bulan terakhir. Hal baru (yang pertama kali) dan bisa jadi tidak akan terjadi lagi di sepanjang hidup kita. Contohnya, menjadi khatib Sholat Idul Fitri tadi.

Jika kita mau tulis hal baru yang kita alami, kemungkinan berderet belasan daftar. Kita menjadi rajin cuci tangan, kemana-mana pakai masker, langsung mandi/ganti baju setelah beraktivitas di luar, dan lebih higienis.

Bekerja dari rumah (work from home/WFH) yang selama ini mustahil atau dianggap belum waktunya, buktinya bisa dilakukan. Banyak kalangan industri perasuransian yang kagum saat Adira Insurance menerapkan WFH tahun 2019 lalu. Kini, semua bisa melakukannya.

Rapat jarak jauh untuk urusan bisnis melalui fasilitas video yang selama ini dianggap kurang nyaman, kini asyik-asyik aja. Bahkan reuni teman SMA atau kuliah yang selama ini hanya ketemu di grup Whatsapp, kini pindah ke Zoom. Tak kalah, ibu-ibu arisan juga pakai fasilitas video call tersebut. 

Tentu saja, silaturahmi Idul Fitri kemarin berjalan mulus meski mudik dilarang. Video call dengan keluarga di kampung menjadi penawar kangen. Sederhana, khidmat, dan tak mengurangi esensi berlebaran.

Selain WFH dan video call, kita bisa tulis deretan hal baru seperti mulai terbiasa kerja tanpa kertas, menahan diri jalan-jalan konsumtif, lebih punya banyak waktu untuk keluarga, atau terbiasa berbelanja secara daring.

Bisa!

Sebelum pandemi Covid-19, yang dulu dianggap sulit dilakukan, ternyata bisa dijalani. Awalnya mungkin agak sulit, butuh penyesuaian, dan akhirnya terbiasa. Bisa!

Kita sudah nyaman dalam posisi status quo. Berada di comfort zone. Sudah enak dengan kondisi yang ada saat ini, tak mau berubah. Padahal sejatinya, dengan hal baru, lebih banyak manfaat yang diperoleh. Contoh, dengan WFH bisa irit ongkos transportasi dan hemat waktu. 

Hal baru yang kita alami dapat terjadi karena ada kondisi yang memaksa. Kita tak punya (banyak) pilihan. Akhirnya yang ada harus dijalankan. WFH, video call, atau cuci tangan adalah pilihan yang harus diambil. Tak ada pilihan lain yang lebih baik.

Penulis teringat sebuah buku berjudul “The Power of Kepepet.”  Buku yang ditulis Jaya Setiabudi tahun 2008 ini menggambarkan hal-hal yang di benak kita mustahil kita lakukan, menjadi dapat dilakukan saat kita kepepet. Tak ada pilihan, harus dilakukan. Dan, buktinya bisa dilakukan.

Dalam dunia bisnis, hal baru adalah keniscayaan. Terlebih dalam persaingan sengit dan perubahan yang sangat cepat. Tak ikut berubah, berarti akan tergulung. Untuk berubah berarti melakukan hal yang baru, setidaknya memperbaiki yang ada.

Zona nyaman akan melenakan. Rhenald Kasali dalam bukunya, Change! (2006), menggambarkan kalau kita sedang berjalan turun akan terasa enak. Sebaliknya, naik itu yang berat. Jadi, bila bisnis kita sudah nyaman, jangan-jangan bisnis kita sedang atau cenderung menurun. 

Kini pikiran kita harusnya mulai berubah. Kata “mustahil” dan mengungkung pikiran kita perlu didobrak. Tak ada yang mustahil, apalagi sedang kepepet. Tak perlu ragu dengan hal yang baru. Untuk berubah, tak perlu harus ada yang memaksa. Apa kita perlu dipaksa seperti oleh pandemi Covid-19 ini baru bisa berubah? Jawabannya adalah tidak.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

Bekerja di Otoritas Jasa Keuangan, salah seorang pendiri KUPASI.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up