Search and Hit Enter

Mayoritas Karyawan tidak Menyukai WFH?

Bagi saya, atau mungkin bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, istilah work from home  (WFH) atau kerja dari rumah baru dikenal di masa pandemi COVID-19 tahun 2020 ini. Istilah ini meringkas pengertian yang terkait dengan aktivitas bekerja tetapi dilakukan tanpa berangkat ke kantor atau bekerja namun dengan berdiam diri di rumah. Sesuatu yang baru bagi masyarakat pekerja kantoran pada umumnya. Hal ini terpaksa dilakukan oleh hampir seluruh perusahaan di Jakarta khususnya dalam rangka mematuhi anjuran pemerintah. WFH diyakini sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19.

Pegawai yang melaksanakan WFH tidak perlu berangkat ke kantor tetapi harus tetap bekerja. Menerima perintah atau berkoordinasi, termasuk rapat melalui jaringan internet, baik aplikasi yang dibangun khusus untuk sebuah perusahaan atau menggunakan aplikasi yang secara umum tersedia di layanan internet (Playstore atau IOS). Mengingat anjuran pemerintah tersebut relatif mendadak, maka sebagian besar pegawai melaksanakan WFH dengan persiapan seadanya. Bukan itu saja, aturan main tiap perusahaan pun disiapkan secara spontan tanpa kajian dan persiapan yang matang. Kiranya perlu menjadi catatan bahwa bagi perusahaan-perusahaan BUMN dan yang berkantor pusat di Jakarta, WFH pada umumnya mulai dilaksanakan tanggal 16 Maret 2020.

Bagaimana pendapat para pegawai yang melaksanakan WFH terhadap pelaksanaan WFH ini? Penulis berpendapat  jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut perlu untuk diperoleh karena dapat dimanfaatkan dalam menyusun sistem dan proses kerja yang dapat menjaga kesimbangan antara kepuasan pegawai sebagai pribadi dan sebagai insan perusahaan sehingga dapat menigkatkan dan menjaga produktivitas pegawai. Penulis berkeyakinan bahwa dalam era new normal yang akan berlangsung setelah masa PSBB ini berakhir perusahaan tetap perlu melaksanakan WFH dan oleh karena itu perlu merumuskan kembali sistem dan proses kerja yang new pula.

Apa Untungnya, Apa Ruginya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis mengadakan survey sederhana dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada 132 orang responden. Dari 132 responden tersebut, 82 di antaranya bekerja di luar Jakarta dan tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, namun turut program WFH karena kantor pusatnya di Jakarta. Survey sederhana ini penulis lakukan tanggal 11 sampai dngan 15 Mei 2020 atau hampir 2 (dua) bulan melaksanakan WFH.

Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai responden, kiranya perlu penulis sampaikan bahwa perusahaan yang disurvey bergerak di bidang agensi pemasaran asuransi kerugian dan juga menyediakan jasa penagihan hak subrogasi. Sebagian besar (86%) berusia kurang dari 35 tahun, dengan jumlah pegawai laki-laki hampir sama dengan jumlah karyawan perempuan, yaitu 53% dan 47%. Demikian pula komposisi pegawai berdasarkan status pernikahan, 54% sudah menikah dan sisanya 46% belum atau tidak menikah. Penghasilan mereka Sebagian besar antara Rp4-5 juta (82%), 10% antara Rp5-7 juta dan 11% lebih dari Rp7 sampai dengan Rp20 juta.

Untuk memperoleh referensi dalam melaksanakan survey ini, penulis searching di Google tentang advantages dan disadvantages dari WFH. Hasil searching menunjukkan cukup banyak situs yang memberikan informasi sesuai pertanyaan tersebut. Pada umumnya informasi tersebut diperoleh dari website konsultan HRD. Dari sekian banyak jawaban yang mirip-mirip, penulis merasa apa yang disajikan oleh Michelle Kiss dalam situs Clicktime yang paling sesuai dengan maksud survey yang dilakukan penulis. 

Menurut Michelle Kiss, WFH memberikan hal-hal yang menguntungkan tetapi pada saat yang sama juga menimbulkan hal-hal yang  kurang menguntungkan bagi pegawai, masing-masing 10 hal. Sepuluh hal yang menguntungkan dengan pelaksanaan WFH, adalah:

  1. Jam kerja yang lebih fleksibel
  2. Lingkungan kerja yang bisa disesuaikan dengan selera pegawai
  3. Dapat menggunakan pakai bebas dengan tetap rapi sekehendak hati
  4. Lebih mudah untuk menghubungi seseorang
  5. Terbebas dari pekerjaan yang biasa ditumpukkan di hari Sabtu-Minggu
  6. Terbebas dari “gangguan” orang kantor
  7. Terbebas dari repotnya transportasi
  8. Lebih hemat
  9. Terbebas dari kemacetan
  10. Bisa lebih lama bersama dengan orang yang dicintai (keluarga).

Sedangkan 10 hal yang kurang menguntungkan dari WFH, adalah sebagai berikut:

  1. Adanya godaan untuk menikmati kegiatan lain, nonton misalnya.
  2. Kesulitan menerapkan pola kerja rutin yang biasa dilakukan di kantor.
  3. Karena berbagai hal, terlalu mudah untuk terlewat tidak mengikuti rapat atau menerima panggilan telepon.
  4. Lebih sering memesan makanan dan ini bisa jadi pemborosan.
  5. Beratnya terlepas dari kenikmatan tidur siang.
  6. Bosan
  7. Bekerja terasa berjalan dengan ritme yang lambat
  8. Kurang pengawasan
  9. Terkadang jaringan internet tidak berjalan sebagaimana harapan
  10. Respon yang lambat saat anda membutuhkan respon yang cepat.

Bagi penulis, referensi di atas tidak digunakan secara langsung untuk menyusun pertanyaan tetapi hanya untuk meyakinkan bahwa terdapat dasar yang cukup untuk menanyakan 5 hal berikut:

  1. Apakah yang menyenangkan dari WFH?
  2. Apakah yang tidak menyenangkan dari WFH?
  3. Apakah yang membuat bekerja lebih efektif dengan cara WFH?
  4. Apakah yang membuat bekerja tidak efektif dengan cara WFH?
  5. Apakah lebih menyukai jika WFH untuk selamanya?

Dua pertanyaan pertama penulis ajukan untuk mengukur WFH dari kepentingan pribadi si responden, sedangkan pertanyaan ketiga dan keempat untuk mengukur pendapat responden dari posisinya sebagai insan perusahaan. Pertanyaan terakhir penulis ajukan untuk memperoleh gambaran kesimpulan dari jawaban-jawaban atas empat pertanyaan sebelumnya. Penulis tidak menyiapkan jawaban yang dapat dipilih oleh responden (open questioner) dengan harapan akan ada jawaban di luar dari apa yang disebutkan Michelle Kiss dan responden menjawab dengan lebih spontan, atau tidak tergiring oleh jawaban yang disediakan. Dari seorang responden dapat diperoleh lebih dari satu jawaban.

97% Karyawan tidak Menyukai WFH

Dari hasil pengolahan data yang terkumpul dalam survey tersebut penulis memperoleh gambaran sebagai berikut:

  1. Atas pertanyaan “apa yang menyenangkan dari WFH ini?”, data menunjukkan bahwa bagian terbesar dari responden menjawab bahwa WFH itu enaknya karena berkumpul dengan keluarga (45%). Sisanya menjawab dengan WFH bisa bekerja lebih santai dan nyaman (13%), menghemat waktu, tenaga dan biaya karena tidak perlu pulang-pergi ke kantor (11%). Cukup menarik ternyata ada juga yang menjawab dengan WFH bisa mengerjakan pekerjaan lain walaupun jawaban itu hanya disampaikan oleh sedikit responden (5%), dan 14% lainnya menjawab dengan pernyataan yang kurang relevan dengan maksud dari pertanyaan ini.
  2. Atas pertanyaan “Apakah yang kurang menyenangkan dari WFH?”, survey memberikan gambaran bahwa 35% responden merasa WFH itu membosankan, 24 % lainnya merasa kesepian, rindu bertemu teman-teman. Sebagaimana pernyataan Michelle Kiss, terdapat 10% yang merasa hidup menjadi tidak teratur, sebanyak 14% bahkan merasa tidak produktif, dan terdapat 8% responden yang merasa pekerjaan kantor “direcoki” pekerjaan rumah tangga. Ada pula yang merasa bahwa WFH ini menimbulkan biaya baru berupa biaya jaringan internet dan penambahan daya listrik (8%).
  3. Atas pertanyaan “Apakah yang membuat bekerja lebih efektif dengan cara WFH?”  responden dengan porsi yang sama yaitu 26% menjawab dapat bekerja kapan saja dan dimana saja (fleksibel waktu dan tempat) dan 26% lainnya menjawab bekerja lebih fokus, mungkin ini yang disebut terbebas dari “gangguan” kantor. Sebanyak 10% responden menjawab bahwa WFH membuat bekerja lebih terencana, efisien (5%), 5% lainnya merasa WFH membuat pengambilan putusan lebih cepat, dan tidak sedikit yang mengatakan tidak ada hal yang membuat WFH lebih efektif dalam bekerja (28%).
  4. Atas pertanyaan “Apakah yang membuat bekerja tidak efektif dengan cara WFH?” sebagian besar responden (28%) mengatakan bahwa WFH membuat tidak dapat  bertatap muka dengan nasabah/kastemer sehingga sulit untuk berimprovisasi saat menjelaskan produk ataupun proses yang harus dilalui untuk memperoleh layanan perusahaan; sebanyak 25% responden menilai bahwa kendala teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil, tidak tersedia printer dan perlengkapan kerja lainnya menjadikan WFH tidak efektif. Selain itu, sebanyak 15% responden menilai WFH ini menyulitkan dalam berkoordinasi, baik antar unit kerja dalam perusahaan ataupun dengan petugas kantor dari perusahaan yang diageni; masih urusan koordinasi, 9% responden merasa bahwa WFH ini sering menimbulkan miskomunikasi, dan hanya 5% menjawab lainnya. Disamping hal-hal tersebut, kiranya juga perlu memperoleh perhatian bahwa sekitar 14% menjawab kurang dapat bekerja dengan efektif karena kesulitan memperoleh akses terhadap data dan dokumen yang diperlukan saat bekerja.
  5. Atas pertanyaan “Apakah lebih menyukai jika WFH untuk selamanya?” jawabannya cukup mengejutkan, karena walaupun melihat ada kelebihannya dari WFH ini, namun 128 responden atau 97% menyatakan tidak menyukai dan hanya 4 responden saja yang menyatakan menyukai jika WFH seterusnya.

Dari jawaban-jawaban tersebut di atas kiranya, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya WFH ini kurang disukai. Kiranya hal ini dapat dimaklumi karena tradisi bahkan nilai budaya yang sudah terbangun bertahun-tahun oleh seluruh lapisan masyarakat bahwa bekerja itu di kantor dan rumah adalah tempat istirahat bukan untuk bekerja. Mengubah cara pandang ini akan menjadi tantangan tersendiri mengingat dalam era New Normal nampaknya WFH akan tetap menjadi pilihan cara bekerja walaupun mungkin tidak dilaksanakan oleh seluruh karyawan tetapi sebagian-sebagian secara bergiliran. Dengan demikian, tetap perlu mengusahakan agar WFH dapat menjadi pilihan dengan tetap menjaga kenyamanan dan produktivitas pegawai.

Penyempurnaan WFH

Dengan menggunakan prinsip menguatkan yang positif dan mengatasi yang negatif, maka terdapat beberapa hal yang kiranya perlu dilakukan yang menyentuh 3 P (People, Prosedur dan Peralatan).

Pertama melakukan sosialisasi untuk membentuk nilai-nilai baru dalam pemikiran pegawai yaitu mengenai hal-hal sebagai berikut:

  • Pertama, WFH meningkatkan kualitas hubungan dengan keluarga, terlebih untuk keluarga muda yang masih memiliki anak balita. Dengan WFH ayah/bunda dapat melihat perkembangan anaknya setiap hari dari detik ke detik, tidak seperti selama ini dimana pegawai berangkat sementara anaknya masih tidur dan pulang kantor saat anaknya sudah tidur.
  • Kedua, WFH adalah sarana bekerja dengan cara yang lebih sesuai dengan keinginan hati, entah itu jadwal kerja, tempat, waktu maupun cara berpakaian.
  • Ketiga dengan WFH pegawai tidak perlu repot dengan urusan pindah tempat kerja dari rumah ke kantor setiap hari pulang pergi, mulai dari urusan meninggalkan rumah, memilih moda transportasi, mengeluarkan ongkos, merasakan ketidaknyaman selama perjalanan, Lelah dalam menjaga keamanan dan keselamatan selama perjalanan.
  • Keempat, WFH memberikan kesempatan kepada pegawai untuk mengerjakan pekerjaan lain, termasuk membantu pekerjaan rumah tangga di saat senggang sehingga tidak terjadi lagi pekerjaan yang menumpuk di hari libur.
  • Kelima, WFH juga membantu pegawai bekerja lebih fokus tanpa terganggu oleh kegiatan “kantoran” yang tidak perlu, seperti kedatangan tamu yang bosan di tempat kerjanya kemudian mengajak bergunjing yang tidak perlu atau permintaan-permintaan dari pihak lain yang mungkin salah alamat.
  • Keenam, bekerja di kantor secara bergiliran dapat bermanfaat untuk melawan kebosanan dan rasa sepi, serta mengerjakan hal-hal yang tidak dapat diseleseaikan di rumah.

Selanjutnya perusahaan perlu menyusun pedoman dan aturan cara bekerja dengan WFH yang dapat  menjaga kecepatan proses pelayanan dan tetap memberikan ruang inovasi bagi pegawai, serta untuk mengurangi miskomunikasi. Prosedur yang disusun seyogyanya hingga bersifat teknis dan sudah memasukkan unsur penggunaan teknologi terkini dan sistem-sistem lain yang dapat menunjang WFH.

Last but not least, peralatan menjadi faktor penting dari upaya menjaga produktivitas dan efektivitas kerja. Mau tidak mau sesederhana apapun, pegawai perlu memiliki “ruang kerja” di rumah, perlu memiliki fasilitas jaringan internet yang memadai, dan tentu saja peralatan komputer dengan spesifikasi yang juga memadai tidak hanya untuk mengolah angka dan kata tetapi juga untuk menyimpan data dan komunikasi, baik data maupun personal. Selain peralatan keras, perusahaan juga harus mulai membangun berbagai sistem berbasis elektronik (e-) seperti sistem korespondensi, sistem arsip dan perpustakaan, sistem akuntansi,  dan sistem pencetakan dan legalisasi dokumen-dokumen perangkat bisnis seperti polis, invoice dan sebagainya yang bisa diakses dari jarak jauh. Memang akan diperlukan investasi baru di perusahaan, namun semoga hal ini bisa dibiayai oleh pengalihan anggaran penyediaan gedung, ruang kerja dan pembiayaan lain yang menjadi berkurang atau bahkan hilang karena WFH.

Demikian, semoga bermanfaat.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up