Search and Hit Enter

Kesempatan Berkonsolidasi ke Dalam

Pengalaman adalah guru paling utama dalam melakukan suatu tindakan. Namun bagaimana kalau kejadian itu baru pertama kali dijalani? Pastinya terlebih dahulu merujuk ke teori yang ada, atau praktik yang dilakukan orang lain sebelumnya.  Karena pada hakikatnya teori muncul akibat adanya praktik. Rumusan yang lazim,  yaitu praktik, teori, praktik 2, teori 2, praktek 3, teori 3 dan seterusnya. Dari praktik pertama ini pada dasarnya berangkat dari mencoba-coba untuk mencari solusi. Dari situ, dibuatkan simulasi bagaimana cara melakukannya agar lebih tepat dan lebih baik. Ada istilah coba, gagal, coba lagi. Hal ini berbeda dengan sesuatu yang sudah memiliki teori, tinggal praktik mengikuti teori. Hasilnya bisa jadi menyempurnakan teori untuk diterapkan pada praktik selanjutnya.

Tapi pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang, baru pertama kali kita alami. Kita baru berupaya memahami bagaimana sistem penularannya. Bagaiman akibat kontak dengan benda yang terdampak virus, tidak menjaga kebersihan tangan, tidak menjaga kebersihan setelah bepergian, kena percikan saat ada yang batuk dan bersin, bagaimana mencegahnya melalui penggunaan masker, bagaimana agar tidak terjadi interaksi dengan orang banyak, dan bagaimana dampaknya jika tidak melakukan tindakan isolasi diri setelah kembali dari wilayah pandemi. Sampai kemudian pemerintah membuat acuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan protokol kerja dari rumah di antaranya. Semuanya dimaksudkan untuk menjaga penularan Covid-19.

Selama masa pandemi, saya berusaha maksimal bekerja dari rumah sesuai aturan pemerintah pusat dan daerah. Baik itu rapat-rapat bulanan yang dilakukan via Zoom, maupun rapat insidentil lainnya. Namun ada beberapa rapat tetap dilakukan dengan tatap muka, tapi dibatasi maksimal 5 sampai dengan 7 orang, Saat tatap muka, jarak diatur dan diusahakan pesertanya tidak melebihi 10 orang. Begitu pula tempatnya, dipilih yang risiko penularannya paling rendah. Contohnya, kantor saya di sebuah plaza yang pengunjungnya sangat heterogen, itu risikonya cukup tinggi. Karena itu, saat rapat memerlukan tatap muka, saya lebih memilih melakukannya di kantor induk yang relatif penghuninya homogen – hanya karyawan dan karyawati di lingkungan kantor sendiri, tanpa ada karyawan kantor lain.

Dalam kondisi work from home (WFH) semasa pandemi ada hal yang menarik, yaitu terbukanya kesempatan memperbaiki kondisi ke dalam, baik ke dalam perusahaan atau ke dalam keluarga itu sendiri. Sebagai contoh dalam perusahaan, melakukan konsolidasi dengan cara melihat kualitas SDM dan prasarana yang bisa digunakan secara optimal. Memetakan dan mengambil 20% data karyawan yang terbaik untuk diberikan apresiasi berupa usulan kenaikan jabatan atau diberikan insentif. Hal ini saya dan komisaris lainnya sarankan kepada pihak manajemen. Di lain pihak, karyawan yang kurang produktif atau terjelek sebanyak 20% di masing-masing unit diminta juga untuk diberikan coaching. Atasannya diberi kesempatan melakukan pengembangan atas karyawan yang 20% tersebut karena dianggap kurang cakap, sehingga perlu diberikan latihan atau cara-cara kerja yang lebih profesional.

Selain hal di atas, perusahaan diminta kepeduliannya untuk memberikan tunjangan selama pandemi, dan terutama untuk karyawan lapisan paling bawah diberikan lebih besar dibanding yang lainnya. Tentu saja, karena tunjangan ini lahir dari pemikiran pihak Komisaris dan Direksi, maka Direksi dan Komisaris tidak perlu mendapatkan tunjangan Covid-19.

Untuk pembenahan ke dalam keluarga, karena saatnya puasa saya mewajibkan sholat 5 waktu dan sholat tarawih berjamaah, mengingat yang tinggal di rumah sebanyak 7 orang, yakni saya dan istri, 2 anak, dan keluarga yang ikut tinggal serumah. Semuanya telah dewasa dengan kegiatan sekolah, kuliah, kursus dan kerja, sehingga cukup berjamaah dengan imamnya anak yang sudah baik bacaan Alqurannya. Tidak hanya sholat berjamaah, namun semua wajib juga membaca Alquran dimana masing-masing ditugaskan membaca beberapa juz sesuai kesepakatan pembagian bacaan. Dengan demikian, selama puasa diharapkan bisa menamatkan Alquran yang terdiri dari 30 juz dimaksud.

Selama pandemi ini juga, semua keluarga belajar disiplin, mengikuti aturan yang disepakati bersama. Bila sehabis keluar karena situasi yang memerlukan harus keluar misalnya, maka sesampai di rumah harus mandi terlebih dahulu, baju yang dikenakan masuk mesin dan langsung dicuci. Bila ada pembelian yang dilakukan online maka begitu barang sampai di rumah/diterima langsung disterilkan terlebih dahulu. Dalam situasi demikian, saya juga mengajarkan penghematan yang rasional. Contohnya, lampu bila tidak digunakan diusahakan ada kepedulian untuk dimatikan, berusaha masak sendiri dengan menu belajar dari YouTube – masak apa yang diinginkan dicari caranya di YouTube; sehingga jika pandemik selesai, punya pengalaman masak tersendiri.

Pada prinsipnya bila tidak bisa meningkatkan dan melakukan pengembangan keluar karena situasi pandemi, maka satu-satunya pilihan mengembangkan ke dalam itu sendiri. Dengan demikian ada hikmah tersendiri yang bisa diambil dalam situasi WFH. Tentu dengan harapan setelah pandemik selesai, konsentrasi bisa lebih diarahkan ke pengembangan ke luar.

Itulah sekilas WFH selama pandemik dengan tujuan meningkatkan kualitas ke dalam dan setelah pandemik selesai tinggal porsi yang dominan peningkatan ke luar. Mari kita sama-sama berdoa agar Covid-19 bisa teratasi dengan baik, sehingga kegiatan bisa normal, perusahaan bisa mengembangkan usahanya dan perekonomian bisa meningkat kembali secara signifikan. Aamiin YRA.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up