Search and Hit Enter

21 Hari untuk Berubah

Pagi cerah, matahari baru sepenggalah. Langit Jakarta sejak wabah COVID-19 nampak selalu terlihat biru tenang. Semenjak bekerja dari rumah saya memiliki kebiasaan baru, setiap pagi berleha-leha di balkon, menghirup udara pagi dan menerima asupan vitamin D. Rasanya  nyaman dan tenang menikmati pemberian Yang Maha Pemberi secara gratis.

Pagi ini berbeda dari biasanya, kenyamanan saya sedikit terganggu. Chat ketum di WA KUPASI Sabtu lalu dan pagi ini, membuat saya tidak tenang. Bukan apa-apa, hingga pagi ini saya belum juga menemukan ide. Cerita apa yang menarik tentang work from home yang bisa saya bagikan pada pembaca? Sepertinya  tidak ada yang istimewa. Beberapa teman seprofesi saya, sudah menjalankan bekerja dari rumah jauh sebelum COVID-19 terjadi, kendati hanya sehari dalam lima hari kerja dalam seminggu.  

Jauh sebelum pemberlakuan work from home, saya sering melakukan pekerjaan dari rumah, biasanya terjadi di Januari dan Desember. Ketika saya harus menyiapkan sebuah program pelatihan khusus yang dilakukan dalam jangka panjang minimal 6 bulan misalnya (menyiapkan aturan mainnya, kriteria pesertanya, materinya, ukuran keberhasilannya, target pencapaiannya, dan seterusnya). Dan mulai Oktober 2018 silam, kebiasaan saya semakin terakomodir, sejak perusahaan tempat saya bekerja bergabung dengan perusahaan baru, pun saya sudah membiasakan diri dengan online training, akrab dengan e-polis, dan beberapa aktivitas sales force yang harus dipantau  secara on line. Jujur, bekerja dari rumah membuat saya jauh lebih mudah dan nyaman menemukan dan menuangkan ide dalam format presentasi.

Pada perode Februari hingga November saya jarang berada di Jakarta. Periode tersebut, adalah  bulan-bulan dimana sales force sangat produktif. Tentu saja saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk men-support mereka, sehingga aktivitas mereka bisa lebih dioptimalkan. Jadilan setiap minggu di bulan-bulan tersebut, saya beredar di agency office ataupun di sales office. Perjalanan dinas yang buat saya selalu mengasyikkan.

Sekian lama berkecimpung dalam dunia pelatihan, bukan hanya sekadar memberi nutrisi pada otak saya, tetapi sekaligus terapi melawan potensi  penyakit lupa, sumber mata air yang selau siap menyiram ketidaksabaran, keegoisan, kesombongan, hingga bisa legowo menerima masukan dari siapa pun. Mungkin itu sebabnya saya betah menjadi trainer. Bukan karena tidak ada kesempatan untuk mengembangkan karir.Tidak juga menolak penghasilan yang lebih besar, tapi buat saya menjadi trainer bukan soal karir, bukan juga soal uang, tapi bisikan nurani untuk ‘berbagi’ tanpa memikirkan imbalan. Bagi sebagian orang kedengarannya klise, tapi buat saya menjadi trainer membuat keseharian saya nyaman.

Saat ini saya mengelola Academic Program dan Professional Development. Buat saya pribadi tentu saja ini  tanggung jawab yang cukup besar, menyangkut pengembangan seluruh sales force, tidak terbatas pada ranah kognitif dan afektif semata, namun harus menyentuh sisi  psikomotorik. Tidak hanya mengetahui, menganalisa, lalu memahami, tetapi  mampu  menggerakan seseorang untuk bertindak setelah mendapatkan pelajaran tertentu. Sales force yang heterogen tentu membuat pengembangannya jauh lebih berat. Setiap saat dituntut untuk menemukan ide-ide penjualan, membuat materi-materi  baru baik yang berkaitan dengan issue yang terjadi di seputar industri, atau pun yang memberi dampak terhadap bisnis asuransi.  

Dua Sisi Koin

Perubahan apa pun selalu hadir bak koin dengan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kegiatan training yang dilakukan secara online akan berdampak secara positif. 

Pertama, efisiensi biaya. Sebagai gambaran, setiap kali bepergian (maksimal 3 hari) dalam seminggu misalnya, biaya yang dibutuhkan di kisaran 10 juta rupiah untuk akomodasi dan transportasi (jarak terjauh perjalanan dalam negeri). Biaya ini belum termasuk biaya peserta pelatihan yang berasal dari luar tempat pelatihan dipusatkan.  Dalam sebulan berarti perusahaan harus mengelontorkan dana sekitar 40 juta trupiah. Ini baru satu program dengan satu orang trainer. Pada online training biaya ini bisa dipangkas.

Kedua, efektifitas waktu saat melakukan sosialisasi program baru misalnya. Pada offline training beberapa sales office/agency office harus rela menunggu giliran. Jika yang akan disampaikan berupa issue yang hangat, maka issue sudah dingin ketika tiba pada agency office/sales office yang mendapat giliran belakangan. Mau tidak mau, keputusan untuk mendapatkan update pada kesempatan pertama tentu saja dipilih agency office/sales office yang memberikan konstribusi pernjualan terbesar. Pada online training, hal ini bisa diatasi, agency office/sales office mendapatkan update secara bersamaan.

Ketiga, jangkauan peserta saat pelatihan menjadi lebih luas. Pada offline training hal ini sulit terjadi. Seringkali saya mendapatkan komplain dari agency office/sales office karena mereka jarang dilibatkan dalam pelatihan. Sekali lagi, kendalanya pastilah hitung-hitungan biaya. Mendatangkan peserta pelatihan dari seluruh Indonesia misalnya, juga  membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Keberadaan online training menjadi jalan keluar  yang bijak.

Di sisi lain, online training memiliki tantangan tersendiri. 

Pertama,  bagaimana mengkomunikasikan ide pada peserta pelatihan.  Secara umum,  trainer akan seringkali merasakan kehilangan feel, kesulitan mengangkat mood sendiri, terasa kaku akibat tidak ada angagement secara langsung dengan peserta, komunikasi dua arah juga acapkali  terganggu sebagai akibat jaringan wifi peserta yang sering tidak stabil, belum lagi tampilan format presentasi materi dalam power point menjadi acak pada layar monitor peserta pelatihan, perhatian peserta bisa bias, dan seterusnya. 

Kedua, ukuran evaluasi peserta pelatihan, apakah yang disampaikan bisa dipahami atau belum, sebagai akibat keterbatasan trainer membaca gesture peserta. Mungkin untuk materi sebatas ‘apa’ dan ‘mengapa’ lebih mudah dipahami, tetapi ketika menyentuh materi ‘ bagaimana’, apalagi yang memerlukan exercise, role play, simulation, menjadi tantantangan tersendiri

Ketiga, bagaimana membuat dan menampilkan sebuah presentasi yang singkat, padat, menarik, dan mudah dipahami audience, terutama untuk mater-materi yang sifatnya kompleks,  melibatkan  hitung-hitungan dan menampilkan berbagai istilah produk  yang harus dipahami satu persatu.

Menyederhanakan Cara

Secara pribadi saya merasa sangat diuntungkan dengan penerapan work from home. Setiap hari, saya bisa menjalankan profesi saya selaku trainer  tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga, mengerjakan hobi mendisain busana sekaligus menjahitnya sendiri yang juga menjadi sumber penghasilan tambahan saya, menulis buku kedua saya (yang ini malu kalau terbaca Pak Freddy Pieloor), memasak makanan higienis buat keluarga, yang sebelum penerapan work from home, di luar aktivitas trainer, hanya bisa saya lakukan di Minggu dan Sabtu saja.

Harus diakui, bukan perkara mudah mengubah proses belajar mengajar dari offline menjadi online, selalu ada tantangan yang harus dicarikan jawabannya. Namun,  perubahan yang terjadi  kadang terlihat dan terasa  begitu berat. Untuk membuatnya ringan, sebenarnya cukup dengan menyederhanakan cara melihat, cara berfikir, dan cara bertindak. Dengan begitu, sesuatu yang semula dianggap mustahil, ternyata sangat mungkin terjadi.Kondisi ini memang bisa menutup peluang buat yang lain, namun pada saat yang sama membuka peluang buat yang lain juga. Maka lakukan saja, konon kabarnya hanya diperlukan dua puluh satu hari untuk mengubah sebuah kebiasaan. Seperti alam yang menyuguhkan beragam peristiwa sebagai siklus alami, agar manusia bisa belajar dari setiap kejadian tersebut, dan menjadikannya lebih baik di kehidupan berikutnya.   

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis 2020” dari para Kupasian dalam merespon Pandemi Covid-19)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up