Search and Hit Enter

Cost of Risk

Kita mengenal banyak terminologi cost (biaya). Mulai dari cost of capital, cost of fund, cost equity, cost of debt dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak istilah cost, mungkin yang paling akrab bagi kita adalah living cost (biaya hidup). Sementara itu, dunia asuransi berkutat dengan cost of risk. Menariknya, walaupun maha penting, konsep cost of risk sering tidak dipahami. Mohon diingat, istilah-itilah dalam tulisan ini sesuai konteks asuransi.

Apakah itu cost of risk? Istilah ini mempunyai nama lain risk premium atau pure cost of premium. Gampangnya, cost of risk atau biaya risiko adalah biaya untuk membayar klaim. Besarannya adalah senilai ganti rugi yang diberikan jika suatu klaim terjadi. Nilai risk premium ini harus cukup untuk membayar klaim yang diperkirakan akan terjadi. Untuk dicatat, peristiwa klaim bisa datang kapan saja. IRMI (International Risk Management Institute) mendefinisikan cost of risk sebagai berikut.

“Cost of risk is the cost of managing risks and incurring losses. Total cost of risk is the sum of all aspects of an organization’s operations that relate to risk, including retained (uninsured) losses and related loss adjustment expenses, risk control costs, transfer costs, and administrative costs.”

Begini kurang lebih terjemahan bebasnya. Biaya risiko adalah biaya untuk mengelola risiko dan kerugian yang timbul. Biaya risiko total adalah jumlah semua aspek operasional sebuah perusahaan yang terkait dengan risiko, termasuk kerugian yang ditahan sendiri (tidak diasuransikan) dan biaya perhitungan kerugian, biaya pengendalian risiko, biaya untuk mengalihkan risiko dan biaya administrasi.

Cost of risk ini dihitung pada saat perusahaan asuransi menjual produknya. Proses panjang dilalui sebelum sampai pada risk premium. Cost ini menjadi bagian utama dalam premi asuransi. Selain pure cost of premium, komponen premi adalah biaya pengelola, biaya kontijensi dan keuntungan yang diharapkan perusahaan asuransi. Lalu dari mana sumber perhitungan pure cost of premium? Sumbernya ada dua, internal dan eksternal. Data klaim masa lampau dan data penutupan asuransi dari perusahaan sendiri. Ini disebut data internal atau data primer. Kalau data itu tidak cukup atau tidak tersedia, data eksternal atau data sekunder bisa dipakai. Data yang digunakan adalah data selama 5 tahun atau lebih. Makin lama datanya makin baik. 

Dengan pemahaman bahwa tidak ada tertanggung yang sama persis karakter risikonya, premi setiap tertanggung akan beda. Benarkah demikian? Fakta bicara lain.

Praktik yang terjadi selama ini di industri asuransi umum mirip jargon “cek toko sebelah”. Kecuali asuransi kendaraan dan harta benda yang tarif preminya diatur, semua tarif premi produk yang lain diserahkan kepada masing-masing perusahaan asuransi. Di sinilah aktuaris berperan. Aktuarislah yang akan mengolah data untuk pembentukan cost of risk dan pada ujungnya premi asuransi. Bagaimana kalau perusahaan tidak memiliki aktuaris? Bisa jadi tarif didasarkan perhitungan sebisanya. Malah mungkin tidak ada dasarnya. Tarif berdasarkan wangsit. Seringkali tarif mengikuti kompetitor. Tentu dengan harga lebih murah. Karena kompetitor tidak rela kehilangan bisnis, mereka menawarkan harga yang lebih rendah lagi. Dan, begitulah perang tarif dimulai. Situasi yang dijuluki Red Ocean strategy. Samudera medan kompetisi menjadi merah. Semua pemain berdarah-darah. Bahkan pemenang kompetisi pun telah terluka parah. Pada akhirnya keadaan menjadi lost-lost (semua kalah). Perusahaan asuransi bisa menghindarinya dan membuat Blue Ocean Strategy. Strategi samudra biru tanpa persaingan yang melelahkan dan penuh luka.

Dengan premi yang sedemikian murahnya, sanggupkah perusahaan membayar klaim? Apakah cadangan klaim cukup? Bagaimana jika pada saat klaim terjadi, dana tidak cukup untuk membayar klaim? Nilai klaim mungkin melebihi prediksi. Atau klaim muncul lebih cepat daripada penumpukan cadangan premi. Siapa yang akan menanggung defisit dana ini? 

Akhirnya terjadilah praktik gali lubang tutup lubang. Cadangan premi lini usaha lain atau produk lain dipakai untuk menalangi kekurangan dana. Tidak cukup juga? Saatnya mencari pendanaan dari sumber lain. Misalnya pinjaman atau suntikan dana.

Thomas L. Wenck (1987) meyimpulkan dalam tulisannya di The Journal of Insurance Issues and Practices, Vol. 10, No. 2 halaman 35-48, premi asuransi yang tidak memadai menjadi salah satu sebab perusahaan asuransi tidak solven,tidak sehat keuangannya. Insolvensi perusahaan asuransi telah lebih dari 150 tahun menjadi subjek penelitian di Amerika Serikat. 

Selain harga asuransi yang tidak tepat, ada beberapa penyebab perusahaan asuransi insolven. Di antaranya adalah pencadangan yang kurang, investasi yang buruk dan peristiwa katastrofik.

Para guru Ekonometrika sering bilang “all econometrics models are wrong but some is useful”.

Meminjam kalimat guru ekonometrika, mari berpikir bahwa semua model dan konsep asuransi salah namun ada beberapa yang berguna. Salah satu konsep yang berguna adalah cost of risk.

Sekarang saatnya back to basic. Terapkan konsep cost of risk dengan benar.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up