Search and Hit Enter

In Memoriam: SELAMAT BERISTIRAHAT, PAK KETUT SENDRA

Saya mengenal nama Pak Ketut Sendra pertama kali di awal-awal tahun 2000-an. Ketika saya masih memimpin Majalah PROTEKSI (sekarang Media Asuransi). Pak KS – begitu saya biasa menyapanya, adalah satu dari sedikit praktisi asuransi yang rajin menulis artikel. Saya tidak ingat kapan pertama kali kami ketemu langsung. Yang pasti, setiap ada acara asuransi – entah seminar atau gathering, dimana saya dan pak Ketut hadir, ia pasti menghampiri dan menyapa dengan hangat. Ada saja cerita yang mengalir dari mulutnya. Sesuatu yang kerap membuat saya terpingkal.

Pak KS yang saya kenal adalah seorang pembelajar. Gelar akademiknya berderet. Dia menyelesaikan S1 dan S2 masing-masing di 2 program studi yang berbeda. S3-nya di bidang Hukum. Total ia mengantongi 5 gelar akademik. Itu belum termasuk gelar profesi yang juga berderet, sehingga jika Anda diminta menuliskan nama lengkap dan gelarnya, Anda mungkin sedikit bingung dan barangkali ‘bete’ saking ribetnya.

Tidak heran, pak KS pernah mengemban amanah di berbagai posisi. Terakhir yang saya ingat, dia menjadi Sekjen di Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI) dan dikenal cukup handal sebagai mediator, juga menjadi Komisaris Independen PT Berdikari Insurance, sebelum akhirnya memimpin Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti. Di KUPASI (Komunitas Penulis Asuransi Indonesia), pak KS menjadi ketua umum periode pertama (2013-2016).

Saat menjabat Ketum KUPASI itulah kami intens berkomunikasi. Sebagai satu dari 12 pendiri KUPASI, pak KS banyak berdiskusi dengan saya. Ia kerap mampir di kantor ketika saya masih memimpin Yayasan Dharma Bumiputera/STIE Dharma Bumiputera. Kami menggagas sejumlah program, termasuk seminar SJSN di tahun 2014, ketika Jamsostek dan Askes bersalin rupa menjadi BPJS. Oya, saya, pak Irvan Rahardjo (Kupasian), dan pak KS sempat ikut seleksi yang diselenggarakan Pansel untuk mengisi posisi Direksi BPJS. Pak KS memilih BPJS Kesehatan, sementara saya dan Pak Irvan mencoba peruntungan di BPJS Ketenagakerjaan (dan gugur di tahap terakhir).

Satu hal yang saya ingat juga tentang pak KS, adalah kegemarannya mempelajari sejarah kerajaan di Jawa pada masa lampau. Termasuk hal-hal yang bersifat metafisika. Ia pernah mendapatkan gelar adat dari keraton Surakarta (saya lupa persisnya apa), dan secara bercanda sempat saya pertanyakan ke dia bagaimana itu bisa terjadi sementara saya mengenalnya sebagai orang Bali. Pak KS lalu bercerita panjang lebar tentang leluhurnya yang terkait dengan keraton Surakarta.

Saya ingat, suatu ketika dia mampir ke kantor saya, dan tiba-tiba bilang, bahwa selalu ada yang mendampingi saya ke mana pun melangkah. Saya tanya siapa? Dan dia menjawab: kakek saya (padahal kakek saya sudah lama almarhum). Dia bilang, saya banyak mewarisi sifat dan karakter kakek. Sesuatu yang semula saya anggap guyonan lantaran pak KS gak kenal kakek saya. Tapi dia bisa menyebut ciri-ciri fisik almarhum kakek, dan terus-terang saya sedikit tercekat ketika menyadari apa yang disampaikannya cukup akurat. Entahlah, kemampuan apa yang dipunyai pak KS.

Beberapa tahun terakhir, saya ikut prihatin mendengar kabar pak KS. Ia bolak-balik ke Malaysia untuk berobat karena penyakit kanker yang dideritanya. Terakhir, ketika saya (dalam kapasitas sebagai Ketua Umum KUPASI) mengunjunginya ke STMA Trisakti sebelum pandemi mengganas, kami sempat ngobrol berdua di lift, dan dia bilang, penyakitnya sudah lumayan membaik. Ia sudah bisa beraktivitas secara normal. Karena itu, saya cukup lega ketika ia dipercaya memimpin STMA Trisakti. Buat saya, ini semacam penanda bahwa kondisi pak KS baik-baik saja.

Pagi tadi, 17 Juni 2020, kami menerima berita itu langsung dari putranya. Pak KS berpulang ke pangkuan Sang Hyang Widhi Wasa. Jenasahnya dikremasi siang ini juga. Selamat jalan, pak KS. Kami kehilangan, tapi mungkin ini yang terbaik untuk mengakhiri kanker yang menggrogoti tubuhnya. Semoga atman pak KS mencapai kesempurnaan, dan mendapatkan kemuliaan di kehidupan selanjutnya.

Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

Saat ini CEO Maraja Communications, CEO Insurance TV dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Sastra & Gaya Hidup MAJAS. Pernah menjabat Direktur SDM dan Umum Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912, Direktur Eksekutif DPLK Bumiputera, CEO Dharma Bumiputera Foundation yang mengelola STIE Dharma Bumiputera dan Bumiputera Training Center; Kepala Departemen Komunikasi Korporat AJB Bumiputera 1912, dan dosen pada Universitas Prof Dr. Moestopo (Beragama) dan Universitas Paramadina, Jakarta  Selain aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi, ia juga dikenal sebagai pembicara publik di bidang Komunikasi.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up