Search and Hit Enter

Menyembunyikan Pengetahuan

Di awal bekerja kantoran, saya beruntung mendapat posisi sebagai MT. Bukan Magister Teknik, ya. Bukan juga singkatan dari mount atau gunung. MT adalah singkatan dari Management Trainee. MT dipersiapkan untuk menduduki posisi manajerial kelak. Kami para MT sangat antusias dan bangga. Kami banyak belajar. Metode pembelajarannya campuran. Di kelas dan sambil bekerja atau on the job training. Materi di kelas beraneka ragam. Visi misi perusahaan wajib diserap. Pengajar di kelas para manajer dari semua unit di perusahaan. Kadang pemberi materi pelajaran berasal dari luar perusahaan. Pengajar dari luar bisa dari perusahaan reasuransi, loss adjuster, profesional atau bahkan tenaga akademis. Materi yang diberikan banyak. Demikian juga tugas kelas. Benar-benar padat. Sambil mengikuti kelas, para MT dirotasi ke hampir semua bagian perusahaan. Kami sangat bergairah. Lelah tapi semangat.

Banyak pengetahuan baru yang kami peroleh di kelas maupun di lapangan saat bekerja. Sayangnya pengalaman kami menimba ilmu dan pengetahuan tidak selalu berjalan mulus atau tidak selalu ditanggapi positif oleh karyawan lain. Banyak yang enggan berbagi pengetahuan. Kalimat umum yang sering terlontar dari karyawan yang lebih senior, “Ngapain pelihara macan?” Intinya kami dianggap macan yang suatu ketika akan memangsa orang yang memeliharanya. Para MT mengancam kelangsungan posisi para senior di masa depan. Sangat mungkin kami menyalib karir mereka kelak.

Fenomena tidak mau berbagi pengetahuan atau bahkan menyembunyikan pengetahuan sungguh sangat menarik. Lalu, apakah penyembunyian pengetahuan itu? Sebelum mengulas terlalu jauh penyembunyian pengetahuan, mari kita simak definisi pengetahuan. 

Pengetahuan adalah suatu keseluruhan ke-“tahu”-an, baik yang telah terpahami dan terakumulasikan dalam khazanah ke-“tahu”-an manusia mau pun yang belum terpahami dan belum terakumulasikan dalam khazanah ke-“tahu”-an manusia.

Dalam perspektif manusia: 1) cakupan pengetahuan tidak terbatas, 2) pengetahuan bersifat akumulatif mencakup lintas ruang dan waktu serta lintas ras, keyakinan, ideologi dan muasal manusia dan 3) pengetahuan mencakup yang telah terpahami dan terakumulasikan dalam khazanah pengetahuan maupun yang belum terpahami atau terbayangkan (Winoto, 2017). Jadi lingkup pengetahuan termasuk yang telah terpahami dan belum terpahami atau bahkan yang belum terpikirkan atau terlihat. Pengetahuan adalah fakta, informasi dan keterampilan seseorang yang diperoleh dari pengalaman. Tulisan ini tak hendak membahas epistemologi.

Lalu, apa itu penyembunyian pengetahuan? Apa saja bentuknya dan apa implikasinya terhadap perusahaan? Penyembunyian pengetahuan adalah upaya yang disengaja oleh seseorang untuk menahan atau menyembunyikan pengetahuan yang telah diminta oleh orang lain (Connelly, Zweig, Webster, & Trougakos, 2012). Penyembunyian pengetahuan tidak selalu berupa tindakan menipu (Takala & Urpilainen, 1999). Penyembunyian ini termasuk perilaku manusia yang negatif.

Ada tiga bentuk penyembunyian pengetahuan: 1) berpura-pura bodoh, 2) penyembunyian yang dirasionalisasi dan 3) menghindar dari memberikan pengetahuan.

Penyembunyian pengetahuan adalah konstruk multidimensi yang terdiri dari tiga aspek tadi. Menurut Connelly et al. (2012), penyembunyian pengetahuan yang dirasionalisasi adalah yang paling ringan. Jenis penyembunyian ini merujuk pada seorang penyembunyi yang memberikan penjelasan mengapa informasi tersebut tidak bisa diberikan. Yang paling parah adalah penyembunyian dengan cara mengelak. Persembunyian dengan cara mengelak terjadi ketika penyembunyi memberikan informasi yang salah atau hanya sebagian. Selain itu berupa janji yang tidak pernah ditepati untuk memberikan  jawaban yang lebih lengkap di masa depan. Penyembunyi pengetahuan yang  bermain bodoh adalah orang yang berpura-pura tidak tahu untuk menghindari memberikan informasi. 

Apa contoh penyembunyian pengetahuan? Misalnya, seorang karyawan meminta salinan laporan kepada rekan kerja. Rekan kerja itu menjawab bahwa laporan yang diminta bersifat rahasia. Karena itu dia tidak bisa mengungkapkannya. Dalam contoh ini, pengetahuan yang diminta tidak diberikan. Tidak ada unsur kebohongan di sini. Ilustrasi itu adalah penyembunyi yang dirasionaliasi. Penyembunyi yang berpura-pura bodoh berperlilaku seolah-olah tidak memahami pengetahuan apa yang diminta atau bersikap tidak tahu. Contoh lain dari menyembunyikan pengetahuan adalah situasi di mana rekan kerja memberikan sebagian, tetapi tidak semua, dari pengetahuan yang diminta. Di contoh ini, ada perilaku tidak jujur dan termasuk dalam penyembunyi yang mengelak. Para peneliti sepakat bahwa tindakan penyembunyian bukanlah penipuan. Selain itu, menyembunyikan pengetahuan mungkin memiliki niat atau hasil positif misalnya ‘bohong putih’ (Saxe, 1991). Ini adalah tindakan untuk melindungi perasaan pihak lain, menjaga kerahasiaan, atau melindungi kepentingan pihak ketiga. Dengan demikian, penyembunyian pengetahuan tidak selalu berarti negatif.

Mengapa seseorang menyembunyikan pengetahuan atau tidak mau berbagi pengetahuan? Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menyembunyikan pengetahuan timbul karena sikap kepemilikan psikologis pengetahuan (Singh, 2019), persepsi ketidakpercayaan (Cerne et al., 2014; Connelly et al., 2012), mengurangi kreativitas penyembunyi pengetahuan ( Černe et al., 2014), mendorong penyimpangan tempat kerja (Singh, 2019).  Perilaku ini memengaruhi ketidakpercayaan antarpribadi dan menurunkan kinerja penyembunyi pengetahuan.

Organisasi atau perusahaan bukanlah pemilik aset intelektual anggota atau karyawannya. Aset intelektual termasuk pengetahuan sepenuhnya milik karyawan. Perusahaan tidak dapat memaksa karyawan untuk mentransfer pengetahuan mereka ke karyawan lainnya (Barling, 2000). Upaya meningkatkan transfer pengetahuan dapat saja dirancang perusahaan. Namun, karyawan umumnya malas berbagi pengetahuan. Keengganan untuk mentransfer pengetahuan ini tetap ada meskipun karyawan didorong dan diberi penghargaan untuk melakukannya (Bock, Zmud, Kim, & Lee, 2005; Swap, Leonard, Shields, & Abrams, 2001).

Karyawan harus dimotivasi  untuk  berbagi pengetahuan. Istilahnya, berbagi itu keren. Pengetahuan kita tidak akan berkurang bahkan bertambah ketika kita berbagi. Pemahaman ini yang harus terus digaungkan. Yang harus dipersepsikan adalah bawah status dan reputasi seseorang akan meningkat. Status berubah dari pemilik dan penyimpan pengetahuan menjadi kontributor pengetahuan atau guru bagi karyawan lain. Faktor lain yang mungkin mendorong berbagi pengetahuan termasuk: insentif, keadilan dan penciptaan iklim berbagi pengetahuan. 

Seberapa banyak orang yang menyembunyikan pengetahuan? Pada 2006, surat kabar nomor dua di Kanada, The Globe & Mail,  melakukan jajak pendapat pada dari lebih dari 1700 pembacanya. Hasilnya menunjukkan bahwa 76% karyawan menahan pengetahuan dari sesama karyawan. Penelitian Connelly et al. (2012) menunjukkan bahwa menyembunyikan pengetahuan memang terjadi dalam organisasi setiap hari. Ketidakpercayaan karyawan menjadi penyebab utama  karyawan menahan pengetahuan. 

Berbagi pengetahuan tidak selalu merupakan perilaku positif dan menguntungkan. Di sisi lain menyembunyikan pengetahuan tidak selalu merupakan perilaku yang buruk atau menyimpang. Karyawan dapat terlibat dalam persembunyian pengetahuan untuk melindungi kepentingan mereka sendiri atau kepentingan organisasi mereka. Tindakan menyembunyikan pengetahuan kadang ditujukan melemahkan atau membalas karyawan lain. 

Akibat penyembunyian pengetahuan terlihat pada pendidikan asuransi di Indonesia. Dulu karyawan dari negara-negara tetangga kita belajar tentang asuransi dari Indonesia. Banyak yang belajar dan magang di Jasindo. Tapi sekarang kita banyak belajar dari Malaysia dan Singapura. Kita mengirim orang untuk belajar di Malaysian Insurance Institute (MII)  dan Singapore College of Insurance (SCI).

Pertanyaannya masihkah kita menahan pengetahuan di tempat kerja? Apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk memprediksi dan mengendalikan tindakan menyembunyikan pengetahuan? 

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up