Search and Hit Enter

Pengecualian dalam Polis

Dalam dunia asuransi, salah satu sesi pelatihan berat adalah bedah polis. Membongkar isi perut polis asuransi. Panjang dan membosankan. Apalagi kalau durasi pelatihan sehari penuh. Bisa dipastikan sesi setelah makan siang akan sangat menantang. Peserta pelatihan mengantuk karena perut penuh. Energi banyak terpakai untuk mencerna makanan. Sedikit energi tersisa untuk mengikuti pelatihan. Peserta sulit berkonsentrasi. Istilah yang sering dipakai adalah ‘limang watt’. Lima watt saja. Mata meredup karena kurang energi. Ibarat lampu lima watt. Ini diperparah dengan trainer yang membosankan. Memang sesi ini sangat menantang.

Bedah polis sering dimulai dengan membahas struktur polis asuransi. Dilanjutkan dengan penjelasan isi polis. Alurnya urut dari halaman pertama sampai terakhir. Garing. Peserta yang rasa ingin tahunya rendah akan kecapaian sendiri. Bosan dan sulit fokus. Akibatnya materi pelatihan hanya sedikit terserap.

Bagian terpenting dari bedah polis adalah jaminan asuransi (insurance coverage) dan pengecualiannya (exclusion). Kerugian atau kerusakan apa saja yang diganti. Klaim apa saja yang tidak dijamin. Umumnya isi jaminan polis sangat singkat. Sedangkan bagian apa yang tidak dijamin atau pengecualian diuraikan panjang lebar. Dengan kalimat lain, biasanya daftar pengecualian lebih panjang dari daftar jaminan asuransi.

Bisa dikatakan sangat langka ada peserta pelatihan yang penasaraan dengan pengecualian. Kenapa ya tidak dijamin polis? Mengapa polis memiliki pengecualian? Apa ada polis yang tidak punya pengecualian?

Secara umum pengecualian dikelompokkan menjadi tiga, yaitu i) pengecualian atas penyebab kerugian, ii) polis mengecualikan barang atau objek, dan iii) polis tidak menjamin bahaya (hazard) tertentu.

Lalu, kenapa harus ada pengecualian?

Setidaknya ada enam alasan mengapa polis mengecualikan suatu kerugian.

Pertama, objek pertanggungan seharusnya dijamin oleh produk asuransi lain. Misalnya, dalam Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia (PSAKI), pencurian selama kebakaran dikecualikan. Tertanggung harus membeli asuransi pencurian agar peristiwa kerugian karena pencurian dijamin. PSAKI juga tidak menjamin klaim atas uang yang hilang. Peristiwa kerugian ini seharusnya diasuransikan dengan Asuransi Uang.

Kedua, sifat kerugian tidak termasuk dalam karakter risiko yang bisa diasuransikan. Ada tujuh karakter risiko yang dapat diterima oleh asuransi yaitu 1) peristiwa kerugian tiba-tiba, tidak dapat diprediksi sebelumnya dan murni kecelakaan (fortuitous), 2) nilai kerugian harus bisa diukur dengan uang (financial value), 3) tertanggung harus memiliki kepentingan atas objek yang diasuransikan (insurable interest), 4) tidak bertentangan dengan norma umum (not against public policy), 5) hukum bilangan besar dipenuhi (law of large number), 6) merupakan risiko murni (pure risk), dan 7) risiko partikular (particular risk). Contoh sederhana peristiwa kerugian yang sifatnya tidak mendadak adalah barang menjadi aus dan usang. Ada yang tidak bisa dinilai dengan uang seperti nilai sentimental barang. Seseorang tidak dapat mengasuransi cincin pernikahannya berdasarkan nilai emosional dan sejarahnya. Cincin yang harganya Rp. 10.000.000 tidak bisa diasuransikan dengan harga pertanggungan Rp. 1.000.000.000. Objek asuransi harus memiliki hubungan dengan tertanggung yang sah secara hukum. Ini dimaksudkan untuk menghindari pihak yang tidak berkepentingan mengasuransikan barang milik orang lain. Jadi, seseorang tidak dapat membeli asuransi untuk rumah tetangganya. Sesuatu yang bertentangan dengan norma sosial dan aturan hukum tidak mungkin diasuransikan. Umpamanya, pedagang barang illegal membeli asuransi atas barang dagangannya itu. Mengapa harus memenuhi hukum bilangan besar (law of large number)? Setidaknya ada dua tujuannya. Demi skala ekonomi dan karena alasan statistik. Untuk membuat statistik diperlukan data yang jumlahnya memadai. Risiko murni adalah risiko yang memiliki dua kemungkinan kejadian. Terjadi peristiwa kerugian atau tidak terjadi. Tidak ada unsur keuntungan atau spekulasi di sana. Sementara itu, risiko partikular adalah risiko individual. Sifat kerugiannya individual atau peristiwa kerugian hanya menimpa ke satu orang atau entitas.

Ketiga, kerugian bersifat katastrofik seperti perang dan bencana alam. Kategori pengecualian ini lazim terdapat di semua polis asuransi. Julukannya compulsory exclusion atau paramount clause. Pengecualian ini wajib ada di semua produk asuransi.

Keempat, jaminan asuransi dapat diberikan namun perusahaan asuransi memerlukan informasi dan premi tambahan. Contohnya adalah jaminan asuransi kredit di atas usia tertentu.

Kelima, perusahaan berupaya membatasi paparan (exposure) terhadap kerugian. Yang masuk dalam kelompok ini adalah pembatasan jaminan atas kerugian tertentu seperti pengecualian pencurian mobil di luar garasi tertutup.

Keenam, sifat kerugiannya spekulatif misalnya risiko bisnis. Selisih nilai keuntungan yang melesat dari target tidak bisa diasuransikan. Kegagalan bisnis adalah contoh lain dari kategori pengecualian ini.

Bisakah tertanggung meminta suatu pengecualian dijamin? Bisa. Bagaimana caranya?

Cara paling mudah adalah meminta pengecualian dihapus. Kalau perusahaan asuransi tidak setuju dengan cara ini, gunakan jurus endorsemen. Jurus yang cukup sakti. Ini dilakukan dengan melampirkan ketentuan tambahan di polis. Endorsemen menganulir bagian yang tidak dijamin polis. Bisa juga ditambahkan lampiran perluasan jaminan. Intinya memberikan tambahan jaminan asuransi. Yang tadinya tidak dijamin menjadi dijamin. Perubahan ini tidak gratis. Bahkan kadang perusahaan asuransi menolak permintaan perubahan. Kalau pun menerima, dengan penambahan beberapa persyaratan lain. 

Pusing? Bagaimana jika bagian-bagian polis ini kontradiktif, saling bertentangan? Sebenarnya klaim diganti atau tidak? Asuransi mengenal istilah contra proferentem rule. Aturan tentang ambiguitas isi polis. Artinya, bila ada bagian polis yang membingungkan, menimbulkan ambiguitas atau multi tafsir, maka tertanggung akan diuntungkan. Penafsirannya akan mengikuti pemahaman Tertanggung.

Jadi, ketika membeli asuransi, pahami apa yang dijamin dan yang tidak dijamin oleh polis. Bila Anda merasa memerlukan jaminan tambahan atau penghapusan sebagian pengecualian polis, segera lakukan negosiasi dengan perusahaan asuransi.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up