Search and Hit Enter

Bicara Cinta, Bicara Jiwa

Pernahkah Anda jatuh cinta? Tentu.

Sekali, dua kali atau berulang kali? Berhasil atau gagal? Cinta yang baru bersemi atau CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).  Siapa pun Anda, berusia remaja, dewasa bahkan senja, tentu pernah merasakannya.

Saat dua orang saling menyukai, mereka akan sama-sama berusaha untuk semakin dekat, tidak memedulikan waktu dan jarak. Bila usaha tersebut dilakukan terus menerus, perasaan suka itu akan berkembang menjadi cinta. Sebaliknya, bila hanya satu orang yang berusaha sedangkan lainnnya tidak, maka perasaan itu tidak akan tumbuh menjadi cinta.

Apa yang terjadi pada otak seseorang ketika jatuh cinta terhadap orang lain?  Selain perasaan rindu dan selalu ingin berbagi, beberapa riset mengungkapkan bahwa ketika seseorang mulai menyukai orang lain, terjadilah peningkatan kadar hormon di otaknya. Salah satu hormon tersebut adalah oksitosin.

Oksitosin berperan dalam menimbulkan rasa empati dan kesetiaan serta meningkatkan rasa percaya satu sama lain. Hal ini yang berkontribusi terhadap kelanggengan hubungan tersebut karena adanya keinginan untuk saling berkorban dan mengisi jiwa masing masing.  Romantis, bukan?

Tahukah anda mengapa cinta erat hubungannya dengan romantisme?

Ia terkait dengan perkembangan budaya Eropa pada masa revolusi industri.  Waktu itu, masyarakat Eropa mengalami degradasi kehidupan yang monoton, karena kegiatan mereka hanya diisi dengan mengurus keluarga dan bekerja.  Keadaan itu menciptakan masyarakat yang individualis dan rasa kekeluargaan nyaris hilang.

Kondisi ini akhirnya melahirkan berbagai gerakan seni, sastra, dan intelektual yang menentang kakunya norma-norma Eropa. Gerakan tersebut berusaha mengingatkan bahwa emosi adalah hal yang utama karena ia membedakan manusia dengan mesin. Mereka ingin masyarakat bisa kembali menikmati hidup dengan menggali emosi sedalam-dalamnya.

Maka terjadilah sebuah revolusi mental. Era romantisisme berisi karya seni yang melebih-lebihkan emosi manusia seperti rasa takut, takjub, dan cinta.  Era itu lama kelamaan menjalar ke berbebagai belahan dunia termasuk Indonesia. Banyak sastra beraliran romantis yang terbit antara tahun 1930-1950. Semenjak itu dimulailah era romantisme di Indonesia yang masih berjalan sampai sekarang. 

Pengaruhnya begitu kuat mencengkeram hingga melahirkan banyak definisi cinta yang sarat hiperbola melalui buku-buku atau musik bertema cinta.  Akibatnya, cinta dianggap lebih istimewa dari pada emosi manusia yang lain dan ia erat hubungannya dengan jiwa seseorang. 

Dengan cinta, jiwa dapat menjadi tenang atau sebaliknya, menjadi galau.

Jadi, apa itu cinta?

Kata orang ”cinta tidak pakai logika“.  Kata anak-anak milenial “cinta tidak harus memiliki“.  Wah, repotnya apabila “rasa” itu mengendalikan seluruh aktivitas tubuh dan pikiran kita.

Cinta tidak pakai logika, membuat seseorang menjadi nekad dan berusaha apapun agar kekasihnya tetap jatuh cinta padanya. Meski kadang itu tidak masuk akal, kadang beda prinsip atau agama, kadang beda usia, kadang beda status sosial, akan tetap dijalani.

Cinta tidak harus memiliki, kadang membuat seseorang bukan lagi menjadi dirinya sendiri karena pasrah dengan keadaan dan takdir yang dihadapinya.  Ia dapat berujung stress, depresi dan bahkan nekat bunuh diri.

Menurut Wikipedia, “Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.”

Bagi saya, cinta itu adalah suatu bentuk abstrak di dalam tubuh dan pikiran manusia yang tidak mengenal batas dan akan terus ada di sana hingga hidupnya berakhir.

Cinta banyak ragamnya.  Ada cinta pada pekerjaan, hobi, cinta orang tua kepada anaknya yang tak pernah putus sepanjang masa, cinta anak kepada orang tua, cinta kepada sesama manuasia, cinta kepada guru/dosen, cinta kepada teman yang kadang menjelma jadi TTM (Teman Tapi Mesra), cinta kepada lawan jenisnya dan sebagainya.  Hakikat tertinggi adalah cinta kepada Sang Pencipta yang harus dijalani dengan kewajiban yang melekat pada rasa cinta itu.

Sebelum mencintai orang lain, mestinya seseorang belajar mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Sudahkah Anda mencintai diri sendiri? Yang penting adalah memastikan Anda mendapatkan perlindungan untuk diri sendiri karena bagaimana bisa merawat cinta bila Anda sendiri dalam keadaan fisik dan materi yang tidak baik. Oleh karena itu lindungi diri Anda dengan perlindungan jiwa dari berbagai risiko seperti sakit, kecelakaan, maupun meninggal dunia.

Sayangnya, data resmi dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukkan bahwa pada tahun 2019, tingkat penetrasi asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah yaitu 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal asuransi jiwa mampu meningkatkan rasa cinta dan membantu mewujudkan impian seseorang dan kekasihnya, misalnya melalui produk unit link.

Angka ini masih tertinggal dari negara-negara Asia lainnya seperti Korea Selatan (8,4%), Jepang (6,2%), dan Tiongkok (2,8%).

Bahkan di Tiongkok, ada produk asuransi yang terbilang unik yaitu Asuransi Cinta.  Dengan membayar premi sebesar 599 Yuan atau Rp. 1.1 Juta, tertanggung akan  mendapatkan tebusan sebesar 10,000 Yuan atau Rp 19,7 juta jika ia menikahi kekasihnya dalam jangka waktu 3 sampai 10 tahun ke depan. 

Cara mendapatkannya pun mudah, hanya dengan mengisi dan menandatangani pernyataan bahwa kedua belah pihak berstatus belum menikah dan memastikan bahwa mereka sudah membulatkan niat untuk memilih tanggal menikah.  Jika mereka menikah pada tanggal yang telah ditentukan itu maka uang tebusan bisa bertambah menjadi 10,999 Yuan atau Rp 21,7 juta.

Beberapa berpendapat bahwa perusahaan jenis ini akan bertahan lama karena kebanyakan pasangan bisa dengan cepat memutuskan hubungannya. 

Pernikahan adalah ikatan yang sangat rapuh di kota besar seperti Shanghai belakangan ini. Pernikahan tidak lagi bisa bertahan lama di mana lebih dari 53 ribu orang bercerai di tahun 2014 di Shanghai.  Di Beijing, ada 41 ribu orang yang memutuskan hubungan pernikahan di bawah umur 40 tahun. Rata-rata wanita di Shanghai menikah di umur 32 tahun sedang untuk pria menikah di umur 34,5 tahun.

Ada lagi Saphron, perusahaan asuransi di Filipina, punya sebuah polis asuransi baru bernama “Heartbreak Insurance”. Asuransi ini meng-cover sakit hati akibat putus cinta, gagal kencan, gagal menikah, dan “bencana” cinta lainnya. Dengan premi 300 Peso atau sekitar Rp91.000 saja, seseorang  sudah bisa mengasuransikan dirinya atau orang-orang terkasih yang mungkin punya pasangan menyebalkan sebagai antisipasi sebelum bencana cinta itu datang.

Untuk mendapatkan asuransi ini, seseorang harus memenuhi beberapa syarat seperti usia pemegang polis dan kekasihnya harus lebih dari sama dengan 18 tahun, sudah menjalin hubungan selama 6 bulan, polis harus diaktifkan maksimal 90 hari setelah aktivasi email serta memberikan bukti bahwa ia dan pasangan memang dalam hubungan cinta yang dibuktikan dengan postingan di Facebook atau media sosial lain.

Adakah perusahaan asuransi di Indonesia yang tertarik meluncurkan produk asuransi cinta ini?

Kalau dilihat statistiknya, seorang manusia rata-rata jatuh cinta dalam hidup sebanyak dua kali. Bahkan banyak yang merasa menjalani hubungan bukan dengan cinta sejatinya dan masih terus berusaha mencari pasangan sesungguhnya untuk melengkapi hidupnya.

Penelitian yang dilakukan Elite Daily pada tahun 2012 menunjukkan hasil yang berbeda. Dari 2.000 orang yang menjadi responden penelitian tersebut, terungkap bahwa manusia jatuh cinta empat kali dalam hidupnya. Penelitian tersebut juga menunjukkan, sebanyak 61% responden menyesal telah melepaskan orang yang pernah membuat mereka jatuh cinta.

Menurut Sensus Penduduk Antar Sensus (Supas 2015), jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 269,6 juta jiwa pada 2020.  Jumlah tersebut terdiri atas kategori usia belum produkftif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta jiwa, usia produktif (15-64 tahun) 185,34 juta jiwa, dan usia sudah tidak produktif (65+ tahun) 18,2 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah menjadi 318,96 juta pada tahun 2045.

Apabila setengah dari penduduk berusia produktif jatuh cinta dua kali sepanjang hidupnya, artinya potensi tertanggung sebanyak 92 juta orang.  Dengan premi, katakanlah sebesar Rp 100 ribu saja, potensi total premi yang tersedia adalah Rp 18 Trilliun (ingat setiap orang jatuh cinta dua kali).  Potensi yang besar, bukan?

Polis ini bisa menjadi hadiah dan membuat seseorang lebih berkomitmen kepada kekasihnya dalam sebuah hubungan karena ada tujuan materi yang ingin dicapai selain menghabiskan sisa usia bersama cinta sejatinya.  Uang dari asuransi ini tentu bisa menjadi modal acara pernikahan juga.

Jadi, sudah berapa kali Anda jatuh cinta selama hidup Anda? Apa kini Anda telah bersama dengan cinta sejati Anda? Atau masih mencari cinta sejati? Atau justru saat ini Anda sedang melepaskan orang yang bisa membuat anda merasakan debaran jatuh cinta? Bersediakah  Anda mengasuransikan cinta Anda apabila produk ini tersedia di Indonesia?

Be happy and keep falling in love.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Chief Partnership Distribution Officer, MNC Life Assurance; Ketua Bidang Komunikasi, Kerjasama dan Keanggotaan KUPASI.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up