Search and Hit Enter

Mengapa Ada Asuransi?

Semua orang paham bahwa hidup ini penuh risiko dan tantangan, baik secara individu maupun organisasi dalam bentuk apa pun, termasuk pelaku usaha maupun pemerintahan. Namun tidak semua orang tahu mengapa ada asuransi; padahal keduanya memiliki keterkaitan yang erat.

Mengutip Lifepal tentang Sejarah Asuransi Dunia menunjukkan bahwa asuransi telah ada sejak zaman Sebelum Masehi melalui bidang perdagangan, antara pedagang Babilonia dan Tiongkok untuk jaminan penggantian kerugian terhadap barang dagangan yang hilang di tengah laut atau dirampok. Dalam perkembangan selanjutnya, di tahun 1688 Masehi, muncul inisiatif Edward Lloyd di Lloyd’s Coffee House yang dimilikinya, ketika mempertemukan para pemilik kapal dan nakhoda serta penanggung risiko  atas suatu kapal dengan muatannya yang hendak berlayar. Fungsi pertanggungan risiko atau asuransi tersebut berkembang dan Lloyd Corporation memperoleh pengesahan oleh Parlemen Ingggris di tahun 1871; dan kini tempat tersebut dikenal dengan nama Lloyd’s of London yang menjadi pusat pasar asuransi dan reasuransi dunia. Di Indonesia asuransi bermula sejak kedatangan bangsa Belanda ketika menjajah Indonesia di tahun 1843. Asuransi pada era ini lebih mengarah pada suatu mekanisme untuk mengamankan aktivitas perdagangan pemerintah kolonial pada sektor perkebunan dan perdagangan.

Dari catatan sejarah tersebut, menunjukkan bahwa asuransi sangat diperlukan dalam dunia perdagangan, sebagai penggerak ekonomi.

Artikel ini tidak memfokuskan hanya pada manfaat asuransi secara makro ekonomi tetapi lebih bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang filosofi berasuransi agar kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan; yang pada akhirnya dapat menaikkan rasio penetrasi asuransi di Indonesia yang saat ini masih berada di bawah 3% (bandingkan dengan Singapura yang mencapai lebih dari 8%). Ini berarti bahwa belanja asuransi masyarakat Indonesia masih rendah.

Sejak usia dini, anak diperkenalkan dengan sikap kehati-hatian. Banyak anjuran atau larangan yang diterapkan oleh orangtua kepada anak agar anak tidak dalam kondisi bahaya atau mengalami peristiwa yang tidak diinginkan. Contoh dalam kehidupan sehari-hari: anak balita dibujuk untuk minum vitamin secara rutin dengan paham yang diajarkan agar anak tumbuh sehat dan tidak mudah sakit; anak remaja dilarang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi (ngebut) agar tidak mengalami kecelakaan, dan masih banyak lagi awareness lainnya. Dari porsi orang tua, upaya-upaya yang bersifat anjuran dan larangan ini pun berlaku untuk mereka agar orang tua tidak menghadapi kesulitan keuangan di kemudian hari. Sebagai contoh, orang tua berusaha untuk tetap bisa bekerja agar memperoleh penghasilan. Dari contoh-contoh tersebut dapat dilihat adanya hukum sebab akibat.

Pada dasarnya manusia memiliki sifat khawatir terhadap kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan; atau bahkan dapat berakibat fatal pada kematian maupun kerugian finansial. Peristiwa yang dikhawatirkan itu memang belum pasti akan terjadi, namun jika terjadi dapat menimbulkan kerugian finansial. Inilah yang dinamakan risiko.

Lalu Apa Keterkaitan Risiko dengan Asuransi?

Agar risiko-risiko yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi, manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha mencegah atau mengelola risiko, apakah menggunakan cara mengurangi risiko atau menghindari risiko yang dikhawatirkan tersebut. Tindakan pencegahan atau tindakan-tindakan  pengurangan risiko ini disebut mitigasi risiko. 

Tidak semua risiko dapat dikelola sendiri, khususnya risiko-risiko murni yang di luar kendali manusia; misalkan, bencana alam (gempa bumi, banjir dll.), meninggal dunia, kecelakaan, kebakaran, risiko akibat tindakan pihak ketiga, dan beberapa lainnya. Untuk risiko-risiko seperti ini, pengelolaannya dapat dialihkan kepada perusahaan asuransi dengan memberikan imbalan berupa premi atau iuran; baik kepada perusahaan asuransi konvensional melalui transfer risiko atau perusahaan asuransi syariah melalui berbagi risiko (risk sharing). 

Sebagai Penanggung yang menerima pelimpahan risiko dari nasabahnya (biasa disebut Tertanggung), perusahaan asuransi wajib mengelola risiko yang dilimpahkan tersebut secara hati-hati (prudent) agar di kemudian hari dapat memenuhi janjinya untuk memberikan ganti rugi (membayar klaim) jika risiko dimaksud betul-betul terjadi. Di sisi lain, Tertanggung juga perlu membaca dan memahami apa yang disepakati dalam kontrak perjanjian asuransi (polis) berikut klausula-klausula serta dokumen lain yang terkait agar tidak terjadi perselisihan di kemudian hari.

Konsep asuransi menganut hukum bilangan besar, semakin besar Tertanggung/peserta asuransi maka akan semakin tepat prediksi perusahaan terhadap jumlah  klaim yang akan terjadi serta besarnya perhitungan preminya. Panjangnya pengalaman dari suatu perusahaan asuransi sangat berperan dalam menghitung angka-angka tersebut.

Apa Manfaat Asuransi?

Masyarakat perlu mengenal bahwa di industri perasuransian terdapat beberapa jenis usaha asuransi, baik konvensional maupun syariah, yaitu asuransi jiwa, asuransi umum, asuransi kesehatan, asuransi jaminan sosial; yang masing-masing jenis memiliki pengaturan dan manfaat yang berbeda karena sifat, mekanisme penutupan, dan serta pengelolaannya yang berbeda. 

Di Indonesia jumlah perusahaan asuransi cukup banyak (data OJK Juli 2020: 128 perusahaan), baik itu  milik publik, BUMN, perusahaan swasta nasional dan swasta patungan (joint venture).

Manfaat utama asuransi, baik untuk perorangan maupun organisasi termasuk badan usaha ataupun pemerintahan, adalah memberikan jaminan perlindungan atas kerugian finansial yang diderita oleh yang bersangkutan sebagai dampak terjadinya peristiwa risiko yang diperjanjikan dalam polis; sehingga tujuan individu atau organisasi tersebut dapat tercapai.

Bagaimana agar asuransi dapat memberi manfaat bagi masyarakat?  

Pertama, perusahaan asuransi harus memiliki SDM yang kompeten dan berintegritas agar dapat menghasilkan inovasi produk yang baik dan dibutuhkan masyarakat serta tidak merugikan Tertanggung. Kedua, perusahaan dikelola secara hati-hati, sehat dan transparan agar dapat memenuhi tanggung jawabnya kepada Tertanggung, pemegang saham  serta pemangku kepentingan lainnya. Ketiga, perusahaan memiliki infrastruktur teknologi informasi yang dapat mendukung proses digitalisasi agar dapat memberikan pelayanan/akses  yang cepat dan mudah kepada masyarakat, khususnya Tertanggung, baik di bidang pemasaran produk, proses penutupan risiko dan proses penanganan klaim. Keempat, perusahaan memiliki permodalan dan dukungan reasuransi yang kuat. Kelima, masyarakat perlu memahami pentingnya asuransi sebagai alat memindahkan risiko yang tidak bisa dikelolanya sendiri atau tidak efisien jika dikelola sendiri. 

Melalui kegiatan literasi keuangan bidang asuransi oleh seluruh asosiasi perasuransian termasuk para pelaku usaha yang menjadi anggotanya; secara bersama-sama dengan regulator (Otoritas Jasa Keuangan);  diharapkan masyarakat semakin sadar berasuransi. 

Mari Berasuransi. Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2020. 

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Saat ini adalah Komisaris Independen PT Asuransi Adira Dinamika. Sebelumnya pernah berkiprah sebagai Direktur Utama PT Asuransi Bintang. Komisaris Independen PT Wana Artha Life, dan Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti. 

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up