Search and Hit Enter

Andai Anda Ingin Meninggalkan Warisan Dua Milyar Rupiah

Jika Anda pencari nafkah dan berpikir bahwa harta yang Anda tinggalkan kelak buat keluarga (istri dan anak) akan membuat hidup mereka pasti baik-baik saja, mungkin ada benarnya, dan harusnya itu benar.

Sayangnya, seringkali apa yang Anda harapkan tidak selalu sejalan dengan apa yang terjadi. Faktanya, banyak keluarga yang ditinggal oleh pencari nafkahnya, justru menjadi berantakan. Kenapa? Karena mereka berebut HARTA WARISAN.

Serba salah memang, anda meninggalkan harta waris,  keluarga masih mungkin saling bermusuhan, apalagi jika anda tidak meninggalkan harta waris, bisa dipastikan keluarga  mengalami masalah. Siapa yang akan  membayar biaya akhir anda? Biaya rumah sakit, biaya penguburan, upacara adat atau ritual yang berkaitan  dengan kematian dan seterusnya. Dari mana  sumber dananya? Belum lagi kalau ternyata Anda sebagai PEWARIS meninggalkan hutang, siapa yang harus menanggung hutang yang ditinggal? 

Rencanakan Warisan Sejak Dini

Kendati membicarakan warisan ketika PEWARIS masih hidup, oleh sebagian masyarakat sering dianggap tidak beretika, bahkan tabu. Namun sejatinya warisan perlu direncanakan sejak dini.

Ada dua hal yang mendasar dalam merencanakan warisan. Pertama, bagaimana menciptakan harta waris dan yang kedua, bagaimana mendistribusikannya.  

  1. Menciptakan Harta Waris

Lazimnya, harta waris berbentuk rumah, deposito, emas, saham di perusahaan, dan berbagai benda yang di benak setiap orang nilainya /jumlahnya pasti besar. 

Rumah misalnya, merupakan harta yang paling banyak dipilih untuk diwariskan.  Bisa dipahami, jenis harta waris yang satu ini, memenuhi pertimbangan memilih jenis harta waris, dimana  masih bisa dikumulasi dengan baik atau dikembangkan,  sehingga nilai/jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. 

Bagaimana menciptakan harta waris seperti rumah, jika saat ini anda masih berjibaku dengan keperluan sehari-hari? Sekiranya Anda ingin mewariskan rumah senilai 2 milyar rupiah, tentu jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk pengadaanya lumayan besar. Anda harus menyediakan dana tunai  sebesar Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) ditambah dengan biaya-biaya yang berkaitan dengan proses jual beli rumah, seperti biaya Notaris (Akta Jual Beli, Bea Balik Nama, SKMHT, APHT, Perjanjian HT, cek sertfikat).

Memiliki rumah 2 milyar dengan cara mengangsur juga tetap membutuhkan modal yang lumayan besar.  Anda perlu merogoh kantong  cukup dalam berkisar Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah)  hanya untuk membayar uang muka, jika uang mukanya ditetapkan 15%. Belum lagi harus menyediakan dana untuk  biaya bank (Appraisal, Provisi, Asuransi) dan biaya Notaris yang jumlahnya juga mencapai puluhan juta. 

Tidak berhenti di situ, setiap bulan anda perlu menyisihkan penghasilan sekitar Rp 18.000.000,- (delapan belas juta rupiah) selama 15 tahun,  dengan asumsi bunga kredit ada di angka 8-9%. Untuk menyisihkan dana sebesar cicilan tersebut anda harus punya penghasilan berapa perbulan? Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah)?

Dan yang lebih penting lagi, anda tidak boleh alpa membayar cicilan, kalau ingin rumah tersebut tetap menjadi milik anda. Jika ditotalkan, untuk memiliki rumah senilai Rp 2.000.000.000 (dua milyar rupiah), anda harus menyiapkan modal sebesar Rp. 3.588,500.000,- (tiga milyar lima ratus delapan puluh delapan juta lima ratus rupiah). Berikut ilustrasinya. 

Kondisi yang sama jika anda memilih salah satu instrumen investasi seperti emas untuk merencanakan warisan. Emas senilai Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupia) juga memerlukan modal yang besar, andai pun anda ingin menciptakan warisan dalam bentuk emas dengan cara kredit, juga memerlukan uang muka yang bisa membuat tabungan anda terkuras. Lalu bagaimana kalau anda meninggal dunia sebelum emas tersebut mencapai nilai yang anda ingin wariskan? 

  1. Mendistribusikan Warisan

Harta waris yang didistribusikan minimal mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah harta waris tersebut mudah distribusikan kepada ahli waris, sehingga tidak membuat keluarga bermusuhan dan berpotensi untuk dipertentangkan atau dimasalahkan hingga ke ranah pengadilan?
  • Apakah ada celah harta waris yang ditinggalkan dinikmati oleh orang yang tidak  berhak atau bukan ahli waris anda.
  • Jenis harta waris yang dipilih  tidak dibekukan jika anda meninggal dunia?
  • Apakah diperlukan Surat Keterangan Waris sebagai syarat  memiki harta waris tersebut?
  • Apakah ada biaya yang timbul ketika harta tersebut berpindah ke ahli waris, seperti biaya administrasi dan biaya-biaya lain yang diakibatkan oleh  penundaan atau ketidakpastian?
  • Pajak apa saja yang dibebankan kepada ahli waris saat harta waris berpindah kepemilikan?
  • Apakah pendistribusiannya dilakukan mengikuti aturan yang ada (legal)?

Warisan dalam bentuk rumah sangat potensial menimbulkan pertentangan, jika hanya ada satu rumah warisan sementara anda memiliki tiga orang ahli waris. 

Meminimalisir potensi perselisihan, cara paling mudah mendistribusikannya adalah menjual rumah tersebut, lalu hasilnya dibagi sesuai dengan aturan yang berlaku. Apakah mengacu pada Kompilasi Hukum Islam (KHI)  untuk anda yang muslim, mengikuti Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata), atau menggunakan Hukum Adat. 

Tapi perlu diingat, bukan perkara mudah menjual rumah. Butuh waktu yang lama agar rumah bisa terjual dengan harga yang wajar. Pada kondisi ini akan muncul biaya penantian. Belum lagi pajak yang harus dibayar akibat pemindahalihan kepemilikan.

Warisan berupa rumah juga belum tentu bisa dinikmati ahli waris anda ketika saat meninggal dunia, ahli waris anda masih berusia balita, yang tentu saja memerlukan pengampu untuk mengurus warisan yang anda tinggalkan. Dalam situasi tersebut apakah  ada jaminan warisan anda dinikmati ahli waris anda?

Menciptakan Harta Waris melalui Asuransi Jiwa 

Warisan dibentuk untuk memastikan kelangsungan hidup keluarga setelah PENCARI NAFKAH/PEWARIS meninggal dunia. Asuransi jiwa berfungsi agar keluarga bisa tenang hidup tanpa harus  terpuruk secara ekonomi, karena ditinggal PENCARI NAFKAH/PEWARIS.

Asuransi jiwa  mampu menciptakan harta waris dengan cara yang mudah, murah, dan aman.  Polis asuransi jiwa mencantumkan nama ahli waris beserta prosentase jumlah yang diperoleh  sehingga minim untuk disengketakan, mudah didistribusikan, tidak ada biaya, tidak ada pengenaan pajak, dan yang paling penting tidak memerlukan modal yang besar untuk membentuk warisan. Sayangnya, instrumen ini kurang populer di tengah masyarakat. 

Bagaimana Asuransi jiwa menciptakan waris sebesar Rp 2 milyar rupiah, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Menciptakan harta waris sebesar Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dalam bentuk rumah, butuh investasi kurang lebih Rp 3.600.000.000,- (tiga milyar enam ratus juta). Sementara denan menggunakan asuransi jiwa  hanya dibutuhkan modal sekitar Rp 400.000.000 (empat ratus juta). Ingat, warisan baru muncul untuk dieksekusi ketika PENCARI NAFKAH/PEWARIS sudah meninggal dunia. Sekarang Anda memilih yang mana?***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Program and Sales Trainer Head, FWD Insurance Indonesia.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up