Search and Hit Enter

Memutus Rantai Generasi ‘Sandwich’

Tahukah Anda bahwa usia 30-50 tahun merupakan usia rentan terhadap masalah finansial. Jika Anda tidak mempersiapkan perencanaan keuangan untuk masa mendatang, maka Anda akan menjadi bagian dari siklus generasi ‘sandwich’.

Seperti yang dikatakan oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat, dalam jurnalnya berjudul “The ‘sandwich’ generation: adult children of the aging” yang dipublikasikan pada 1981. Dorothy memberi penjelasan bahwa sandwich generation merupakan orang dewasa yang menopang biaya hidup anak-anak mereka, juga menanggung biaya hidup orang tuanya (Sumber: https://www.jstor.org/stable/23712207).

Bagi kita yang masih usia produktif, menyiapkan dana untuk masa depan adalah hal yang mutlak jika nanti kita tidak ingin hidup dengan menanggung beban berat. Anda pasti juga setuju bahwa setiap tahap hidup membutuhkan biaya berbeda. Ketika masih lajang mungkin saja bisa hidup dengan biaya Rp5 juta per bulan. Tapi, akan berbeda ketika sudah hidup berkeluarga. Belum lagi mempunyai anak. Bahkan banyak keluarga yang orang tuanya pun ikut tinggal bersama. Kondisi demikian yang membuat beban biaya hidup menjadi tinggi. Apalagi jika Anda adalah satu-satunya orang yang menopang biaya hidup mereka.

Ketika generasi di atas kita (orang tua) sebelumnya tidak mempersiapkan dana masa tuanya, tentu akan menjadi beban bagi kita di masa sekarang. Memang ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa generasi di atas kita tidak mempersiapkan dana untuk hari tuanya. Bisa karena memang tidak memiliki pengetahuan tentang cara pengelolaan keuangan, bisa juga karena alasan tidak bisa menabung saat masih produktif. Memang bagi yang kondisi keuangannya pas-pasan tentu dibutuhkan usaha lebih keras dan perencanaan keuangan yang matang. Tapi, kalau kita tidak melakukannya sekarang, toh beban itu juga akan terjadi di masa mendatang. Sehingga jika kita menundanya, kita harus melakukan usaha keras itu di mans mendatang saat kondisi fisik sudah mulai menurun bahkan tidak mampu. Pada akhirnya, kita menyerahkan tanggungjawab biaya hidup kita di usia pensiun kepada anak.

Generasi ‘sandwich’ adalah ancaman jika kita tidak memiliki perencanaan yang matang terutama dalam hal keuangan untuk masa mendatang. Mungkin saat ini kita merasa sulit. Tapi, jika kita melihat lebih cermat, tentu ada kebiasaan sehari-hari yang seharusnya bisa kita lakukan untuk menghemat pengeluaran dan mulai menabung. Ambil contoh kebiasaan berikut:

  1. Gaya hidup (Lifestyle)

Umumnya hal ini terjadi di kalangan generasi millenial. Fashion dianggap penting hanya karena merasa malu jika dianggap tidak mengikuti trend. Suka nongkrong di café demi menaikkan image sebagai anak gaul. Hal demikian-lah yang pada akhirnya memicu budaya konsumtif sehingga mengesampingkan kesadaran untuk membuat perencanaan keuangan masa depan.

  1. Budaya hutang atau kredit

Di era modern ini, fasilitas hutang atau kredit mudah sekali dilakukan. Belanja tanpa memiliki uang yang cukup pun bisa dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas kredit yang sudah tersedia pada platform toko online. Bahkan waktu bayarnya pun bisa sistem cicilan hingga satu atau dua tahun. Akibat kemudahan tersebut membuat seseorang cenderung mudah membelanjakan uangnya daripada menyimpannya. Kalaupun ada usaha untuk menyimpan uang, itu pun di simpan pada rekening yang mudah untuk ditarik, bukan pada instrumen tabungan jangka panjang.

Mengamankan Dana Masa Depan

Mungkin Anda berpikir, ah… mana mungkin asuransi bisa menjadi solusi risiko dana masa depan. Hal ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi dunia asuransi untuk mengedukasi mayarakat sadar asuransi. Tapi, setidaknya ada dua hal yang bisa Anda pahami kenapa asuransi itu penting untuk Anda miliki.

Pertama, bahwa asuransi memiliki mekanisme sebagai pengalihan risiko. Maksudnya, asuransi bertujuan untuk mengalihkan risiko dari pihak tertanggung (peserta asuransi) ke pihak penanggung (perusahaan asuransi). Namun, sebagai imbalan atas pengalihan risiko tersebut, tertanggung juga memiliki kewajiban untuk membayar sejumlah uang atau premi yang telah ditetapkan oleh pihak penanggung. Meskipun pihak tertanggung membayarkan iuran, namun kalau dibandingkan dengan manfaat atas kerugian yang terjadi, jumlah iuran ini masih terhitung kecil.

Seperti apakah pengalihan risiko yang dimaksud? Katakan Anda membeli asuransi kesehatan dengan membayar iuran atau premi sebesar Rp500 ribu per bulan. Rencana bayar selama 20 tahun (total Rp120 juta) dengan manfaat yang dijamin berupa perlindungan kesehatan hingga usia 100 tahun. Sebagai imbalan atas premi yang Anda bayar, jika Anda sakit, maka biaya yang dikeluarkan akan ditanggung oleh pihak asuransi. Bahkan jumlah yang ditanggung pun ada yang sesuai tagihan. Misal, Anda sakit keras seperti terdiaknosa sakit kritis stadium akhir dan harus dilakukan operasi dengan biaya Rp500 juta. Maka, pihak perusahaan asuransi akan menanggung biaya tersebut. Bayangkan jika jumlah tersebut harus Anda bayar dari kantong pribadi karena Anda tidak rela mengeluarkan uang Rp500 ribu per bulan selama 20 tahun.

Kedua, bahwa asuransi juga memiliki konsep pengaman dana masa depan. Seperti apa yang dimaksud pengaman dana masa depan? Anda bisa beli asuransi khusus produk tabungan yang hanya meng-cover risiko jiwa. Katakan Anda membayar premi sebesar Rp500 ribu per bulan dengan jangka waktu menabung 10 tahun (total menabung Rp60 juta). Jika tidak terjadi risiko, maka Anda akan mendapat pengembalian tabungan di akhir masa kontrak pertanggungan. Bahkan nilainya pun bertambah karena perusahaan asuransi mengelola dana Anda pada produk investasi.

Sedangkan dari segi manfaat, jika terjadi risiko meninggal terhadap tertanggung, maka ahli waris mendapat santuan uang pertanggungan. Namun, tentu saja masing-masing perusahaan asuransi punya kebijakan tersendiri mengenai besarannya. Bisa saja dengan premi Rp500 ribu per bulan Anda mendapat manfaat uang pertanggungan Rp250 juta. Bahkan bisa juga Rp500 juta tergantung usia masuk.

Hal ini yang membedakan konsep menabung di asuransi dengan menabung pada instrumen produk tabungan non asuransi. Di asuransi, selain Anda mendapat nilai tunai, juga mendapat proteksi. Tapi, menabung pada instrumen non asuransi hanya mendapat hasil nilai tunai dari sejumlah uang yang Anda tabung beserta bunganya.

Terkadang yang membuat kita tidak menyadari pentingnya asuransi hanya karena faktor ketidaktahuan yang sebenarnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang cukup tentang asuransi, coba Anda palajari penjelasan berikut agar Anda lebih memahami jenis asuransi.

Mengenal Jenis Asuransi

Secara umum asuransi terbagi menjadi dua jenis, yaitu asuransi umum dan asuransi jiwa. Manfaat asuransi umum akan memproteksi harta benda seperti rumah, mobil dan lainnya jika terjadi risiko seperti kebakaran, mobil hilang atau rusak akibat kecelakaan. Sedangkan manfaat asuransi jiwa akan memberikan perlindungan terhadap risiko jiwa (meninggal), kecelakaan, kesehatan, dan lainnya.

Langkah selajutnya agar Anda tidak bingung menentukan pilihan, berikut tips memilih asuransi yang sesuai dengan profil risiko anda: 

  1. Pilih asuransi yang preminya sesuai kemampuan

Jika Anda belum mampu membayar premi asuransi yang meng-cover semua jenis risiko, minimal Anda membeli asuransi yang meng-cover manfaat dasar. Misalnya biaya berobat ringan. Sehingga jika terjadi risiko dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, Anda tidak membayar 100% biaya. Jika Anda merasa sudah mampu membayar tambahan biaya, Anda tinggal mengajukan penambahan manfaat pertanggungan agar lebih banyak risiko yang terproteksi.

  1. Pahami ketentuan-ketentuannya

Setiap perusahaan asuransi pasti memiliki aturan dan ketentuan. Pahami keseluruhan dari isi yang terdapat pada buku polis agar Anda tidak merasa dirugikan jika dikemudian hari melakukan klaim yang tidak sesuai. Jika ada istilah-istilah yang tidak dimengerti, tanyakan kepada tenaga pemasar yang melayani Anda.

  1. Sudah dimiliki oleh orang terdekat

Ya, ini juga menjadi hal penting. Dengan mempelajari asuransi yang sudah dibeli oleh orang terdekat Anda, maka Anda lebih banyak mendapat informasi. Baik itu cara pembayaran premi, cara klaim, cara perusahaan asuransi memberikan layanan, kondisi perusahaan sehat atau tidak dan lain sebagainya.

Nah, sederhana bukan untuk memahami konsep asuransi? Anda pasti setuju jika siklus generasi ‘sandwich’ tidak terjadi pada diri Anda, juga generasi di bawah Anda nantinya. Kita pasti juga akan lebih bahagia jika tidak menggantungkan beban keuangan pada anak. Hindari mindset bahwa anak sebagai investasi kita di masa tua karena itu hanya akan menambah beban mereka.

Karena itu, penting di saat masih produktif bekerja mulai melakukan perencanaan keuangan untuk masa mendatang. Memang perlu usaha lebih keras bahkan perlu mengorbankan waktu, tenaga, hingga pikiran. Namun, hal ini akan jauh lebih baik daripada nantinya mengalami banyak masalah keuangan. Ingat! Orangtua bukanlah dana darurat Anda, anak bukanlah dana pensiun Anda.

Dengan memiliki asuransi, Anda dapat mengalihkan biaya atas risiko yang terjadi kepada perusahaan asuransi. Selain itu, memiliki asuransi juga dapat membantu Anda mempersiapkan dana masa depan, bahkan bisa memberikan warisan bagi generasi penerus Anda. Dengan melakukan langkah bijak ini, maka Anda sudah memutus rantai generasi ‘sandwich’. ***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Financial Consultant, PT Generali Indonesia.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up