Search and Hit Enter

Dari Teras Barat Rumahku

Suatu ketika di teras rumah, jelang maghrib. Saya terlena sayup jauh memandang matahari terbenam, merona merah di balik awan berarak. Ternyata malam itu juga indah, mungkin seindah ketika kita akhirnya juga mencapai kematian. Di lantai dua teras barat rumah tuaku nampak jelas redupnya sinar raja siang setelah menerangi sejak subuh di ufuk timur. Terhenyak jelang magrib di teras ini, rahmat Allah mengingatkanku. Inilah waktunya, semakin dekat ke pangkuan Allah SWT. Allhamdullillah.

Empat puluh tahun rentang panjang untuk sebuah rumah yang mulai menampakkan keropos, seiring keriput kulitku yang setia membalut lebih dari 75 tahun. Keriput juga merangsek di sekujur organ tubuh, walaupun (allhamdullillah) masih dianugarahi bisa bergerak terbatas, bahkan aktif webinar sampai menulis di KUPASI.

Mendadak tersadar ternyata saya sudah berhenti bekerja 20 tahun lalu, itulah kenyataannya. Dan tiap tanggal 1, ting, dana pensiun masuk dengan sendirinya di rekening bank. Nah, berapa dari 126 juta pekerja memiliki “tabungan pensiun” seperti saya? Laporan resmi menyebutkan tak lebih dari 12 juta orang, yaitu ASN, TNI, POLRI, pegawai BUMN dan sedikit perusahaan swasta serta yayasan keagamaan.

Artinya ada hampir 100 juta yang bekerja di UKM, usaha skala kecil yang sangat mungkin mereka tidak memiliki tabungan pensiun. Padahal dengan menggunakan UU SJSN, yo Perpres.no.109 tahun 2013 menyebutkan pekerja/ buruh UKM berhak Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua. 

Saya tercenung sambil menarik nafas membaca fakta tersebut. Apakah puluhan juta buruh/pekerja mandiri, sebagian besar saat mencapai usia pensiun – usia panjang, menggantungkan kehidupannya pada lingkungan sekitar? Lalu  masih adakah  asa, semangat kita untuk  memenuhi hak perlindungan tabungan pensiun buruh UKM? Wajib dan harus ada, karena hak itu amanah pasal 28H UUD. Kita wajib menemukan solusi, sebagaimana kita berlomba dengan waktu untuk menemukan atau membuat vaksin covid-19.

Dalam tiga kali pembahasan dengan berbagai pihak termasuk ketua dan anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional, saya semakin meyakini dibutuhkan cara pendekatan baru untuk membuat para pekerja UKM dapat menikmati jaminan pensiun. Cara itu adalah dengan melakukan layanan berbasis digital. Puluhan juta buruh dan pekerja mandiri cukup menggunakan NIK untuk mendapatkan “akun virtual Tabungan Pensiunkoe”. Jadi tidak lagi berbasis pendekatan pendaftaran secara manual dan penegakan hukum semata. Cara ini sebetulnya relatif mudah di era 4.0 saat ini. Hanya dibutuhkan kemauan dan kesungguhan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mewujudkannya. Mungkinkah?

Dari teras barat rumahku, tulisan renungan ini saya kirimkan. Berbasis niat yang memihak pada hak buruh dan pekerja informal, agar saat usia  renta kayak saya, saudaraku di luar sana juga memiliki tunjangan pensiun. Kayak PNS, TNI, POLRI itu lhoo!

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Ketua BPJS Review

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up