Search and Hit Enter

Seandainya di Dunia Tidak Ada Kerupuk

Nasi panas, sambal ulek dan kerupuk menjadi menu sederhana yang sempurna. Serba karbohidrat yang dibumbui rasa pedas sambal. Sensasi panas nasi yang lembut ditingkahi renyah kerupuk ditambah serangan sambal. Kerupuk dengan sambal atau kecap jadi menu klasik. Kerupuk kekinian dibalut mayonais, coklat, keju, mozarela, saus telur asin atau partner yang lebih heboh lainnya. Makan tanpa kerupuk serasa ada yang kurang. Pangan bertekstur garing ini sangat renyah dan sering memproduksi suara pada saat dikonsumsi. Bahkan sensasi makan kerupuk seakan membawa ke tingkat kesadaran tertentu. Bagi penggemarnya, kerupuk adalah teman sejati yang selalu setia dan tanpa pamrih. Bayangkan kalau tidak ada kerupuk. Akan seperti apa hidup ini?

Konon, kerupuk telah ada sejak seribu tahun lalu di Nusantara. Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman di situs historia.id, kerupuk sudah ada di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau 10 yang tertulis di prasasti Batu Pura. Di situ tertulis kerupuk rambak (kerupuk dari kulit sapi atau kerbau) yang sampai sekarang masih ada dan biasanya jadi salah satu bahan kuliner krecek. Saat ini kerupuk dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, varian rasa dan berbagai bahan baku.

Bagaimana kalau kita tidak pernah mengenal kerupuk. Atau memang kerupuk lenyap dari muka bumi, apa yang terjadi? Anda lesu? Rindu teramat sangat? Kehilangan semangat dan tujuan? Bahkan mungkin jadi kurang waras?

Akankah hilangnya kerupuk menimbulkan pengangguran? Bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi mikro dan makro? Penurunan inflasi bahkan deflasi? Apakah ketidaktersediaan kerupuk bersifat sistemik? Perlukah stimulus atau insentif untuk menjaga stok kerupuk? Yang patut dipikirkan dampaknya terhadap kesehatan jiwa. Seberapa banyak dan sering halusinasi akibat ketiadaan kerupuk? Diperkirakan hilangnya kerupuk menimbulkan ketidakpastian.

Ketidakpastian (uncertainty) sudah lama menjadi objek penelitian, kajian dan gorengan. Meski pun begitu kenyataannya kerupuk tidak harus digoreng dengan minyak goreng. Ketiadaan kerupuk patut diantisipasi. 

Menurut Kamus Bahasa Inggris Collin, ketidakpastian adalah keadaan keraguan tentang masa depan atau tentang apa yang benar untuk dilakukan. Wikipedia mencatat bahwa dalam ilmu ekonomi, ketidakpastian yang dikenal dengan ketidakpastian Knightian adalah kurangnya pengetahuan yang dapat diukur tentang beberapa kemungkinan kejadian, sebagai lawan dari adanya risiko yang dapat diukur (misalnya, dalam gangguan statistik atau interval kepercayaan parameter). Konsep tersebut mengakui beberapa tingkat ketidaktahuan yang mendasar, batas pengetahuan, dan ketidakpastian peristiwa masa depan.

Ketidakpastian Knightian dicetuskan ekonom Chicago University, Frank Knight (1885–1972), yang membedakan risiko dan ketidakpastian dalam bukunya terbitan 1921, Risk, Uncertainty, and Profit.

Bagaimana cara meneliti penyebab, dampak dan antipasi ketiadaan kerupuk? Sebelum sampai pada langkah penelitian, lakukan studi pustaka. Carilah gap atau celah/kekosongan penelitian terdahulu. Pernahkah kerupuk diteliti? Apa hasil penelitian itu dan apa yang kurang dari penelitian itu. Kemudian buatlah pertanyaan penelitian yaitu mengapa kerupuk hilang dari dunia? Dalam beberapa kasus, masalah dapat dipecahkan dengan teknik penyelesaian masalah (problem solving) sederhana. Misalnya dengan teknik 5 Why, Appreciation, Cause Effect Analysis dan Root Cause Analysis.

Ada dua sistem berpikir yaitu keras (hard) dan lunak (sof)t yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Peter Checkland (1981) mengemukakan bahwa pemikiran sistem keras yang diidentifikasi dalam rekayasa sistem dan analisis sistem memiliki titik awal dalam masalah terstruktur dan mengasumsikan bahwa tujuan sistem jelas dan stabil. Pemikiran sistem ini memiliki cara yang dirumuskan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Di sisi lain, soft system thinking berawal dari masalah tidak terstruktur dalam kehidupan sosial. Perumusan elemen masalah sampai dengan alternatif pemecahannya melibatkan pakar. Prosesnya berupa brainstorming, debat dan penilaian para pakar di bidangnya. Masing-masing hard dan soft system tidak lepas dari kritik.

Katakan ada tiga pendekatan penelitian yang bisa dilakukan. Semata-mata untuk mencari solusi hilangnya kerupuk. Pertama, dengan cara kuantitatif. Semua serba dihitung dalam angka. Peran statistik sangat penting di sini. Pengumpulan data bisa dengan survei atau data sekunder. Banyak yang bisa didapat. Sebut saja tren, prediksi, uji hipotesis, hubungan antar faktor dan sebagainya. Selain itu yang penting penentuan variabel independen dan tidak independen. Cara ini menunjukkan apakah suatu faktor bersifat moderasi atau mediasi. Kalau mau cepat ada cara hitung cepat (quick count). Besaran z, alfa dan t hitung menjadi bagian pendekatan ini. Yang penting metodenya harus sahih dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, memakai cara kualitatif. Banyak pilihannya. Bisa dimulai dengan FGD (Focus Group Discussion). Dilanjutkan dengan wawancara mendalam (in depth interview) atas responden. Pilihan lain dengan etnografi, analisis isi, pembentukan teori (grounded teori) dan lainnya. Tantangannya bagaimana data bisa diolah dan ditafsirkan. Data pendekatan kuantitatif  dapat diolah dengan aplikasi piranti lunak yang banyak tersedia di pasar. Sedangkan data kualitatif memerlukan keahlian khusus dalam pengolahannya. Sifat penelitian kualitatif seringkali unik, khas, kasuistik dan menyajikan wawasan luar biasa. Contoh yang terkenal hasil penelitian kualitatif adalah penciptaan Gillette Razor for Women yang idenya diperoleh dari FGD.

Ketiga, memakai cara campuran. Pendekatannya secara kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif untuk melihat berapa banyak dan trennya. Kualitatif mencari sisi kualitas suatu data atau fenomena. Kuantitatif menjawab apa dan berapa banyak. Sementara itu kualitatif memberikan jawaban mengapa itu bisa terjadi. Contoh pendekatan campuran adalah soft system methodology (SSM) yang memiliki tujuh langkah. Diawali dengan pendekatan kualitatif atau kuantitatif dan umumnya diakhiri dengan cara kuantitatif. Tujuh langkah ini memisahkan dunia ideal atau angan-angan dengan dunia nyata. Pemisahan antara ontologis dan empiris. Ujung-ujungnya terbentuk suatu model atau kebijakan. Saat ini yang paling sering digunakan adalah SAST (Strategis Assumption Surfacing and Testing), ISM (Interpretive Structural Modeling) dan AHP (Analytical Hierarchy Process) yang menghasilkan model atau kebijakan. Metode paling sederhana adalah TOPSIS. Metode ini dipakai untuk melihat faktor bobot permasalahan dan prioritas yang harus diselesaikan.

Semua cara itu semata-mata untuk mencari jawaban mengapa kerupuk hilang dari muka bumi. Dan, bagaimana agar kerupuk tidak menjadi barang gaib. Bukan barang langka tapi benar-benar lenyap. Kemudian hasil penelitian dapat merekomendasi langkah mitigasi mencegah ketiadaan kerupuk dan arah penelitian selanjutnya.

Sekarang bayangkan semua cara di atas dialihkan ke pihak lain. Ketidakpastian, potensi kerusakan atau kehilangan serta mitigasinya ditransfer. Kepada siapa? Pihak lain itu namanya perusahaan asuransi. Mekanisme pengalihan risiko ketidakpastian itu namanya asuransi. Mau?

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up