Search and Hit Enter

Asuransi 4.0, Insurtech untuk Semua Orang

“The top insurers of the future will be those that attract a diverse talent pool and create cultures that are digital-first, committed to agility and open to risk taking” (2020 Global Insurance Outlook from Ernst & Young)

Kutipan dalam sebuah insurance outlook oleh lembaga konsultan profesional dunia EY (Ernst & Young) memprediksi asuransi terbaik di masa mendatang adalah asuransi yang mampu menyatukan talent dan membentuk budaya yang mengutamakan unsur teknologi digital, komitmen terhadap adaptasi perubahan dengan cepat, dan terbuka dalam mengambil risiko. Hal ini sangat relevan dalam situasi pandemik dimana penggunaan teknologi adalah kebutuhan dasar dalam menjalankan bisnis, namun juga tidak melupakan sisi agility-nya. Perusahaan yang mengadopsi agile karena mereka ingin menjadi lebih produktif dan kolaboratif, mendorong pertumbuhan dan pengembangan karyawan secara keseluruhan.

Keterbukaan dalam mengambil risiko sangat mendalam diartikan bagi perusahaan asuransi, bahwa walaupun dalam situasi pandemik saat ini, namun tetap menerima risiko penutupan dengan memanfaatkan keunggulan teknologi digital yang terus berkembang.

Revolusi industri 4.0 yang diartikan dengan era digitalisasi begitu menggema di seantero dunia, menjadi tren pembicaraan hampir satu dekade terakhir. Kondisi pandemik di awal tahun 2020 semakin menegaskan bahwa digitalisasi telah memasuki babak baru di segala bidang, tidak terbatas pada industri tertentu saja. Bagaimana dengan asuransi? Saya memberikan judul tulisan ini dengan Insurance  4.0, tidak bermaksud latah, tetapi ingin memberikan garis yang jelas bahwa industri asuransi yang kita cintai ini juga mesti berbenah dan melakukan reorientasi dalam menentukan arah perannya di masa mendatang. 

Pertumbuhan industri asuransi cenderung mengikuti naik dan turunnya roda ekonomi negara yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini mengartikan bahwa keduanya memiliki dampak yang dapat saling mempengaruhi, tetapi volume asuransi yang jauh di bawah lebih mengartikan bahwa industri asuransi sangat bergantung pada beberapa volatilitas industri lainnya. Masih belum optimalnya bisnis asuransi tentu dapat diartikan positif, bahwa sangat terbuka peluang untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam industri ini.

Insurtech (insurance technology) menjadi alternatif jalur distribusi yang selama  ini popular mengikuti kemajuan teknologi di industri asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membagi Insurtech menjadi 3, yaitu : Insurtech Aggregator/Market Place, Insurtech Intermediaries -Broker/Agents dan The Full Stack Insurtech. Namun demikian, penulis melihat bahwa penggunaan insurtech saat ini lebih terbatas membuat tambahan (baca : alternatif) jalur distribusi saja, hal ini dapat kita analisa dari trend pertumbuhan sejumlah produk atau industri asuransi itu sendiri. 

Pada sejumlah praktik yang terjadi, keberadaan aggregator  membuat sejumlah agen misalkan mengalihkan bisnisnya melalui platform yang menawarkan sejumlah benefit yang dianggap lebih baik saat itu. Pada sisi lain, adanya Aggregator hanya memudahkan masyarakat dalam akses dan membandingkan sejumlah produk asuransi, yang sebelumnya dilakukan dengan cara konvensional saat ini dimudahkan dengan adanya fitur komparasi yang disediakan sejumlah platform. Hal ini bagi masyarakat tentu sangat membantu dalam mendapatkan produk yang dibutuhkan dengan harga terbaik. Namun bagi perusahaan asuransi yang memiliki agen dengan case di atas tentu tidak memiliki pengaruh dari sisi pencatatan premi karena hanya berganti jalur distribusi saja. Bagi industri asuransi fakta ini tentu kurang memberikan dampak sesuai ekspektasi atas adanya peran teknologi untuk menaikkan pertumbuhan dan melakukan efisiensi. Sudah menjadi fakta lain bahwa pada sejumlah produk ketika pemasaran dilakukan melalui channel baru lainnya, muncul biaya akuisisi berlebih yang menjadi issue tersendiri. Hal ini memerlukan analisa kritis tentang bagaimana positioning teknologi dalam industri asuransi.

Tahapan Revolusi Industri 4.0, sebagaimana dicatat Wikipedia, tidak serta merta ada di posisi saat ini. Sejarah mencatat bahwa ketika revolusi industri 1.0 hingga revolusi industri 3.0 ditandai dengan ditemukannya teknologi yang memacu pertumbuhan produktivitas, stabilitas produksi dan penurunan biaya. Memasuki tahun 2011 menjadi permulaan tercetusnya Revolusi Industri 4.0 dimana terjadinya penggabungan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber menandai proses otomasi sejumlah jenis pekerjaan. 

Menurut Listhari Baenanda dari Binus University dalam artikelnya disampaikan bahwa beberapa ciri inovasi yang lahir pada era revolusi industri 4.0 antara lain Internet of Things (IoT), Big Data, percetakan 3D, Artificial Intelligence (AI), kendaraan tanpa pengemudi, rekayasa genetika, robot dan mesin pintar. Bagi sektor manufaktur, dampak revolusi industri 4.0 ini diharapkan menaikkan produktivitas 20%-50% lebih tinggi dari sebelumnya. Menurut Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian tahun 2019, penerapan industri 4.0 diyakini akan memacu produktivitas dan kualitas sehingga produk yang dihasilkan lebih inovatif dan kompetitif’. 

Sektor industri asuransi yang selalu mendapatkan dampak positif atas pertumbuhan dari sektor lainnya membawa mindset baru bagi peta jalan revolusi industri asuransi ke depannya sehingga dampaknya terukur, minimal terlihat dari data pertumbuhan industri. Bahwa adanya penggunaan teknologi pada industri asuransi nantinya menjadi variable baru yang mempengaruhi pertumbuhan ke depan, tidak lagi sekadar hanya perpindahan jalur distribusi saja. Salah satu contoh isu yang belum berujung adalah pengaturan produk asuransi kendaraan dan kebakaran oleh OJK. Di mana saat ramainya geliat kemunculan beragam insurtech beberapa tahun terakhir, muara kompetisi untuk kedua produk tersebut selalu sama yaitu biaya akuisisi. Sehingga adanya insurtech pun juga sekedar meramaikan keriuhan, disruption insurtech bagi industri asuransi seakan disederhanakan pada pola cara yang berbeda saja dalam jalur distribusi namun jauh dari semangat Revolusi Industri 4.0 atas sisi produktvitas dan efisiensi. Ini menjadi tantangan bagi seluruh insan praktisi asuransi yang concern akan pertumbuhan asuransi ke depannya, bagaimana dampak disrupsi teknologi ini mampu menjadikan asuransi lebih punya nilai, bermartabat dan memberikan dampak sosial serta sekaligus ekonomi nasional.

Dari tulisan di atas menyiratkan bagaimana positioning asuransi di antara sektor usaha lainnya di negeri ini, selain menggambarkan lemahnya orientasi pengembangan industri asuransi jika dikaitkan dengan disrupsi teknologi. Contoh di asuransi umum pada produk asuransi kendaraan misalkan yang masih menjadi daya tarik penjualan oleh insurtech, masih sulit lepas dari sensitifitas seputar Price. Perlu kajian kembali atas efektifitas peran regulator dalam mengatur penetapan tarif dan pengaruhnya dalam penjualan asuransi kendaraan sehingga dapat lebih menonjolkan sisi competitiveness product seperti produk lainnya yang dijual dalam menopang dampak positif insurtech. Hal ini karena Asuransi kendaraan bersama asuransi kebakaran merupakan penopang utama LOB di asuransi umum. Penjualan asuransi kendaraan begitu massif oleh insurtech terus masuk ke berbagai jalur distribusi konvensional yang selama ini eksis dalam penjualan produk asuransi kendaraan. Perlu dihindari keberadaan insurtech hanya sekedar mendisrupsi jalur distribusi tanpa memberikan kontribusi pertumbuhan yang signifikan. Perusahaan yang mengandalkan Agen sebagai salah satu jalur distribusi tertua di perusahaan asuransi akan terkena dampak disrupsi ini.

Partisipasi Aktif Masyarakat

Perkembangan industri asuransi di dunia termasuk di Indonesia, sebagaimana dicatat Wikipedia, secara singkat terbagi menjadi 3 fase, yaitu: Era Kuno yang dimulai sejak 1750 SM, lalu ada Era Abad Pertengahan dimulai sejak abad ke-12 dan Era Modern yang dimulai sejak Abad ke-17 hingga saat ini. Ketiga era tersebut tentu bisa memiliki cerita yang mendalam dalam kemajuan setiap jamannya, namun penulis ingin melihat dari momentum berbeda atas hal ini. Penulis ingin mengenalkan konsep Asuransi 4.0 menandai kelanjutan tiga fase yang sudah ada dengan sejumlah ide gagasan yang mendasar untuk asuransi di kelanjutan era modern ini lebih berperan dalam berbagai bidang khusus nya terkait konsep insurtech. Secara singkat melalui momentum Hari Asuransi 2020 yang dirayakan serba virtual menyesuaikan kondisi pandemik, tentu industri asuransi harus menentukan arah peta jalan besarnya. Kegelisahan yang penulis sampaikan di awal tulisan mengilhami untuk mendorong penggunaan insurtech ke depan lebih mengedepankan partisipasi masyarakat secara aktif, berkelanjutan dan masif. 

Bagaimana menciptakan suatu aplikasi ataupun sistem insurtech, dimana partisipasi masyarakat dibangkitkan untuk secara sadar terlibat karena kebutuhan. Bahwa keterlibatan masyarakat dengan kemudahan akses yang sudah dibuat sejumlah perusahaan yang masuk ke insurtech saat ini tidak sekadar terjebak pada prinsip pragmatism namun terus berkelanjutan karena merasa bahwa asuransi dapat dijadikan sebagai proteksi dan memenuhi sisi pendapatan apabila ditekuni sebagai profesi atau terlibat aktif di dalam nya. 

Pada prinsip berkelanjutan ini menekankan ke depannya sektor asuransi dapat berdiri sejajar dengan sektor keuangan lainnya seperti perbankan. Partisipasi masyarakat tidak sebatas men-download aplikasi insurtech hanya untuk mendapatkan diskon atau melakukan komparasi layanan, namun aplikasi terus ada di setiap smartphone penggunanya karena kebutuhan yang sekaligus menghasilkan. Ketika partisipasi dan konsep berkelanjutan ini mulai berjalan, maka asuransi akan menjadi sektor yang terus tumbuh secara massif di tengah masyarakat. Aplikasi insurtech nantinya bisa seperti marketplace, aplikasi perjalanan, aplikasi transportasi online seperti Gojek atau Grab yang bertransformasi menjadi aplikasi untuk kebutuhan berbagai hal di tengah masyarakat bukan turut ‘mengemis’ untuk ikut berada di dalam fiturnya. Perlu menjadi perhatian kecil namun penting bagi para praktisi asuransi dan pemangku kebijakan, bahwa era revolusi industri di berbagai contoh bidang model di atas dengan efek disrupsi biasanya dimasuki oleh pemain baru dari luar industri itu sendiri yang akhirnya keterlambatan adaptasi membawa gejolak. 

Prinsip collaboration jangan dilupakan dalam era Asuransi 4.0 ini, harus dibuat lebih sistemik dalam membangun insurtech. Peran regulator dalam menerbitkan sejumlah regulasi sangat penting dalam kemajuannya, begitu pula perusahaan asuransi harus menjadi mengambil peran sebagai leader dalam perubahan menjelma menjadi perusahaan insurtech, agar tidak menjadi pelengkap momentum perubahan. Perusahaan asuransi tidak cukup sekadar adaptasi terhadap gelombang besar revolusi industri 4.0 atau Asuransi 4.0, menurut penulis ini sangat strategis dirumuskan sehingga membuat industri semakin kuat dari dalam. Ketika perusahaan asuransi menjadi pemimpin perubahan, maka perusahaan penunjangnya akan turut terdampak positif seperti reasuransi, broker, termasuk start  up yang ber-evolusi menjadi perusahaan insurtech atas revolusi sistem asuransi di era Asuransi 4.0. Bagaimana melakukan kolaborasi untuk menjadi top insurance seperti prediksi EY di awal tulisan tentu penulis memiliki keterbatasan ruang dalam tulisan ini untuk menjabarkan lebih detailnya. Harapannya ini menjadi pemacu diskusi untuk membangun industri asuransi yang memanfaatkan momentum Hari Asuransi 2020 di saat pandemik sebagai pelecut untuk merespon dengan cerdas dalam arus Revolusi Industri 4.0 dengan peta jalan baru yang dinamakan Insurance 4.0: Insurtech for Everyone.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Area Jakarta 1 Head, PT Asuransi Adira DinamikaTbk.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up