Search and Hit Enter

Antara Aku (Penanggung), Kau (Tertanggung), dan COVID-19

Kondisi pandemik COVID-19 sudah berlangsung lebih dari 7 (tujuh) bulan semenjak di umumkan pertama kali di Indonesia pada bulan Maret 2020. Dan semenjak itu pula, berbagai kondisi gejolak ekonomi dan juga mengancam kesehatan dan jiwa masyarakat.

Menurut data Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi  Indonesia minus 5.3 persen pada kuartal II/2020, dan kondisi tersebut berdampak kepada banyak sektor terutama terhadap daya beli dan kesehatan masyarakat. 

Berdasarkan teori ekonomi dan ekonomi asuransi, permintaan asuransi (demand of insurance) dipengaruhi oleh beberapa fahtor, salah satunya yakni pertumbuhan ekonomi. Tumbuhnya perekonomian akan turut meningkatkan permintaan asuransi. Hal tersbeut karena obyek asuransi sebenarnya berupa risiko atas semua aset atau kepentingan baik barang, jasa dan manusia yang menggerakan ekonomi. Kondisi perekonomian yang saat ini melemah berdampak terhadap operasional dunia usaha, baik menjadi menurun bahkan terhenti dan tidak jarang kita melihat atau mendengar di media televisi serta media berita internet bahwa sudah banyak perusahaan-perusahaan berskala besar yang merumahkan bahkan menutup perusahaannya karena sudah tidak bisa lagi menutup biaya produksi dan operasional perusahaan.

Saat sebelum wabah COVID-19 melanda, hampir semua perusahaan asuransi sudah memiliki kerjasama atau MOU dengan perusahaan corporate sebagai salah satu channel bisnisnya, misalkan kerjasama perusahaan asuransi dengan perusahaan maskapai penerbangan guna mengcover bisnis travel insurance, atau kerjasama perusahaan asuransi dengan perusahaan penyedia jasa perjalanan umroh, atas kedua MOU tersebut dipastikan tidak berjalan dengan baik atas hasil yang diharapkan mengingat keterbatasan penumpang yang menggunakan armada penerbangan serta belum diijinkannya pelaksanaan ibadah umroh oleh pihak Kerajaan Saudi Arabia.

Atau yang paling signifikan terdampak adalah sektor retail pada industri asuransi, yakni pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor maupun asuransi kredit, penurunan permintaan atas kedua lini usaha bisnis asuransi sektor tersebut dipicu oleh salah satu faktor masalah “perut”  yang mana terjadi istilah “lebih baik beli beras dari pada bayar cicilan kendaraan atau cicilan kredit pada bank.”

Kondisi-kondisi tersebut di atas membuat risiko menurun, sehingga permintaan terhadap asuransi melemah,  pihak penanggung dalam hal ini pihak perusahaan asuransi akan mengalami penurunan penerimaan premi dari beberapa lini usaha yang diharapkan karena pihak tertanggung pun akan berhitung ulang di dalam mengasuransikan aset-asetnya, apakah risiko akan dialihkan kepada perusahaan asuransi sebagaimana selama ini dilakukan, apakah akan ada adjustment nilai pertanggungan untuk menekan biaya premi, atau apakah semua risiko ditahan sendiri oleh pihak tertanggung mengingat ketiadaan dana atau budget untuk asuransi? Dan kalaupun kembali diasuransikan berapa diskon yang didapat dan bisa dilakukan dengan berapa installment pembayaran preminya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah wajar diajukan oleh calon tertanggung mengingat kondisi pandemik yang terjadi saat ini, tinggallah perusahaan asuransi sebagai penanggung menghitung kembali proporsinya sebagaimana keinginan dari pihak calon tertanggung.

Digitalisasi Asuransi

Menunjuk riset Mkinseypada tahun 2020 terjadi perubahan perilaku di masa pandemi, dimana lebih dari 50% responden semakin menyukai berbenja dikanal digital, kenyataan ini berbanding lurus dengan berbondong-bondongnya perusahaan asuransi masuk ke dalam digitalisasi asuransi mengingat inovasi di bidang digital asuransi lebih condong memenuhi kebutuhan nasabah dan dapat memangkas biaya akuisisi. 

Namun demikian kondisi digitalisasi asuransi yang dianggap sebagai satu satu jalan keluar di dalam menghadapi COVID-19 guna memaksimalkan pemasaran ataupun menaikan branding perusahaan perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Apakah produk yang dipasarkan sudah mendapatkan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pemangku kebijakan pemerintah.
  2. Perusahaan asuransi harus fokus pada pada produk yang langsung masuk pada pengalaman personal nasabah atau produk yang dibutuhkan masyarakat.
  3. Perusahaan asuransi pada saat menghadirkan channel distribusi online, pastikan bahwa saluran tersebut memfalisitasi end-to-end prosess. Maksudnya adalah jangan  aplikasi pada smartphone/internet  untuk pembelian asuransi begitu mudah,  namun pada saat klaim diajukan kembali manual diajukan ke customer service atau bagian klaim perusahaan.
  4. Menggunakan jasa aggregator atau perusahaan insurtech sebagai salah satu distribution channel guna strategi pengembangan pemasaran. 
  5. Menjaga kepercayaan kepada tertanggung, broker, agen, bank dan semua pihak yang menjadi distibution channel asuransi baik dari sisi pelayanan akseptasi, renewal hingga klaim. Dalam industri asuransi, kepercayaan adalah hal yang sangat penting bagi tertanggung.

Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, bahwa masyarakat akan hidup berdampingan dengan COVID-19 (kompas.com/15 Mei 2020), hal ini bukan berarti kita harus berputus asa atau berdiam diri sambil menunggu vaksin COVID-19 ada. Tapi dengan menggunakan protokol kesehatan, dan kemampuan beradaptasi yang baik,  kita tetap harus menjadi manusia yang memiliki innovasi dan stragtegi di dalam menghadapi kondisi apapun. 

Mudah-mudahan pandemik COVID-19 segera berlalu. Kalau pun belum berlalu mungkin kita dapat tanyakan pada rumput yang bergoyang kapan pandemik itu menghilang….***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Manajemen PT Advis Terapan Proteksindo 

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up