Search and Hit Enter

Mohon Bersabar, Ini Ujian

~ Sebuah kontemplasi menghadapi perubahan dan ketidakpastian ~

“Mohon… mohon bersabar, ini ujian… mohon bersabar, ini ujian, ujian dari Allah, ujian dari Allah, ini adalah perjuangan, mohon, mohon, mohon ditahan emosi, memang mengecewakan, ya…” 

Kalimat di atas sempat viral di jagad maya. Rekaman video tentang seorang Bapak yang mencoba menenangkan seseorang yang terlihat emosional di pernikahan mantannya. Video tersebut menoreh tanggapan beragam. Bukan hanya simpati dan empati yang disampaikan, namun banyak juga yang malah menjadikan pernyataan di atas menjadi sebuah meme

Emosi, kecewa, stress, depresi, marah, mengumpat — apapun yang ingin anda ungkapkan — semua itu merupakan sikap yang (barangkali) manusiawi, ketika kita dihadapkan dalam suatu kondisi yang tidak kita harapkan. Namun, patut kita sadari bersama bahwa unexpected circumstances, adalah hal yang “wajar” dan bisa saja terjadi setiap saat, di mana saja. 

VUCA

Yang terjadi dan akan terus terjadi dalam kehidupan kita adalah VUCA. VUCA sendiri adalah singkatan dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Intinya, kehidupan yang kita jalani dan akan kita jalani adalah penuh dengan perubahan yang sangat cepat, tidak dapat kita duga, kompleks dengan faktor-faktor yang berada di luar kontrol kita, dan bisa bersifat ambigu sehingga sulit bagi kita untuk membedakan antara kebenaran dan realitas.

Sumber: http://binakarir.com/volatility-uncertainty-complexity-ambiguity-vuca/

Kondisi VUCA sendiri di industri asuransi (syariah) tidak serta merta menjadi sesuatu yang “haram”. Ibarat kata, bila tidak ada VUCA, bukan tidak mungkin tidak ada industri asuransi (syariah). Sebut saja faktor uncertainty (ketidakpastian). Hal ini justru yang menjadi dasar keberadaan industri asuransi (syariah). 

Ketidakpastian akan terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian (finansial) dikenal sebagai sebuah risiko. Risiko inilah yang menjadi “nyawa” dari industri asuransi (syariah).  Risiko akan kerusakan suatu harta benda. Risiko akan kematian seseorang. Berbagai macam risiko dihadapi oleh setiap orang, termasuk sedang terjadi saat sekarang ini, risiko terkena wabah. 

Sebagai penyeimbang, beberapa orang barangkali sudah merasakan sedikit peace of mind, manakala mereka sudah mendapatkan “certainty” dimana risiko yang ia miliki sudah terbagi dengan pihak lain baik. Di sinilah asuransi (syariah) hadir memberikan solusi pengelolaan risiko, baik dalam bentuk risk sharing (asuransi syariah) maupun risk transfer (asuransi). Setidaknya dengan kehadiran asuransi (syariah), satu bagian puzzle dari VUCA sudah terkondisikan. 

Ketika VUCA terjadi, semisal kondisi pandemi saat ini, ada beberapa hal mendasar yang wajib kita miliki. Bukan hanya dari sudut pandang organisasi atau perusahaan melainkan juga dari aspek individu. 

Sebagai fondasi awal setiap talent di perusahaan wajib mempunyai kemampuan dasar berupa kompetensi yang mumpuni. Kompetensi yang merupakan kombinasi dari knowledge (pengetahuan), skills (ketrampilan) dan attitude (perilaku). Menghadapi VUCA, setiap insan diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk keluar dari krisis dan situasi yang mencekam. Perilaku positif juga sangat diperlukan. Perilaku negatif, semisal dengan berkeluh kesah secara berlebihan, bukan tidak mungkin justru malah memperburuk keadaan. 

Di awal-awal masa “ujian” perilaku positif memegang peran sangat penting, untuk menentukan sikap selanjutnya. Dengan sikap yang positif, biasanya seseorang bisa lebih adaptive menghadapi goncangan. Sikap ini biasanya bukan diasah dari pengetahuan maupun ketrampilan. Perilaku positif biasanya berasal dari wisdom (kebijaksanaan dan kedewasaan) seseorang dalam bersikap dan didukung dengan keimanan seseorang. 

Halalan Thoyyiban

Seiring dengan perilaku positif di atas, Yuswohady — seorang pakar pemasaran, penulis lebih dari 40 buku pemasaran — menyebutkan bahwa trend perubahan selama dan pasca pandemi, salah satunya adalah mendorong gaya hidup halal dan thoyyiban. Halal berarti sesuatu yang dapat dikonsumsi seseorang sesuai syariah. Thoyyiban berarti higienis dan baik untuk dikonsumsi manusia. 

Menurutnya, hal ini beranjak dari bayangan muram pasar Wuhan di Tiongkok, yang menunjukkan proses penyiapan dan pengolahan makanan, yang tidak mengikuti prinsip-prinsip halal dan thoyyiban. 

Alhasil, pamdemi menjadi “berkah di balik musibah” dan mengingkatkan kesadaran masyarakat (muslim) mengenai pentingnya halal dan thoyyiban dalam penyiapan dan pengolahan makanan yang dikonsumsi. Dalam keseharian, kita bisa melihat pergeseran konsumsi masyarakat, dari kuliner “kekinian” menuju kuliner “sehat dan higienis”. 

Yuswohady juga merujuk Undang-Undang nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang akan semakin mendorong revolusi pasar dan konsumsi terhadap produk halal (dan thoyyiban) yang tidak dapat terbendung lagi. Alhasil ini pun turut mendorong shifting ke arah “kebaikan” dan “manfaat” ketimbang sekadar “gaya”.

Apakah kita akan mampu me-manage seluruh dampak VUCA tersebut?

Kembali ke pembahasan seputar VUCA, secara pribadi, penulis memandang bahwa dampak VUCA tidak mungkin dapat dikendalikan oleh diri pribadi kita semata. Kita hanya bisa melakukan hal-hal dan tindakan preventive untuk mengantisipasi agar dampak VUCA tersebut tidak terlalu membebani kita (secara finansial). 

Man proposes, God disposes. Manusia (hanya) bisa berusaha, namun tetap Tuhan juga yang menentukan. 

Beyond the limit of human knowledge. Di atas langit ada langit. 

Bagi seorang yang beragama, di sinilah ujian sesungguhnya dalam keimanan yang bersangkutan. Terlepas dari segala upaya dan usaha yang bisa dilakukan, tetap saja di punghujungnya adalah mengharapkan keridhaan sang Maha Pencipta. 

Karenanya, kembali perilaku positif dalam menghadapi dan menerima VUCA, adalah key point untuk menentukan langkah selanjutnya. 

Mega Shift  

Yuswohady dalam seminar yang diadakan oleh Dewan Asuransi Indonesia dalam rangka Hari Asuransi tahun 2020, menyebutkan adanya 4 megashift perubahan perilaku masyarakat dalam menyikapi pandemi. Sebagaimana terlihat dalam screen capture di bawah ini. 

Sumber:
Screen Capture Webinar Adaptasi Industri Perasuransian dalam Penyelamatan Ekonomi di Masa Pandemi, Jumat 9 Oktober 2020

Yang pertama adalah tentang gaya hidup baru dengan (hampir) seluruh aktivitas dilakukan di rumah, baik itu bekerja, belajar, bermain dan beribadah. Perubahan kedua adalah pola konsumsi masyarakat yang (kembali) bergeser untuk fokus pemenuhan kebutuhan pokok yaitu makan, minum, kesehatan dan keamanan jiwa raga. Sebagaimana digambarkan dalam piramida kebutuhan (Maslow), Yuswohady memprediksi bahwa asuransi (syariah) pun akan menjadi kebutuhan dasar bagi setiap orang.  

Pola ketiga berupa mendorong masyarakat untuk mengurangi (bahkan menghindari) kontak fisik secara langsung dengan orang lain dan beralih dengan menggunakan media virtual atau digital. Sikap adaptive akan perubahan ini penting diambil oleh perusahaan untuk tetap dapat menjangkau (calon) nasabahnya. 

Selama beberapa dekade tercipta stigma bahwa pemasaran asuransi (syariah) harus dilakukan secara face to face. Alhasil, pandemi dengan waktu yang singkat berhasil menggugurkan stigma tersebut. Lebih jauh, penulis melihat dengan berkurangnya interaksi fisik di industri asuransi (syariah), bisa jadi membawa arah perbaikan dan kebaikan, dengan mengurangi risiko terjadinya riswah (gratifikasi).

Perubahan yang terakhir diulas Yuwohady adalah akan terbentuknya masyarakat yang penuh empati, welas asih dan sarat solidaritas sosial. Kondisi ini sudah terlihat sejak awal masa pandemi melanda Indonesia. Ketika goncangan (ekonomi) melanda, terlihat banyak aksi massa penggalangan dana untuk membantu sesama yang sedang dilanda kesulitan (ekonomi). Masyarakat pun banyak tergerak untuk membantu sesama. Pembagian makanan, masker, hand satinizer, atau alat kesehatan lain, menjadi pemandangan umum di setiap pelosok. Bahkan aksi donasi secara online pun semakin populer di kalangan milenial. 

Burden Sharing

Istilah burden sharing menjadi (semakin) populer di telinga kita. Seiring dengan dampak pandemi yang meruntuhkan sendi perekonomian dan sosial di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pola “berbagi” yang dikedepankan, menggiring alam bawah sadar dan hati nurani kita untuk bergerak dan menolong orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Bahkan Pemerintah pun tidak segan-segan menggunakan istilah “berbagi” ini dalam program penyehatan kembali perekonomian nasional. 

What Next?

Kondisi sebagaimana uraian di atas juga mendorong terjadinya megashift dalam pola pikir dan perilaku masyarakat Indonesia. Kecenderungan untuk lebih intense dalam “berbagi” (sharing) mengarah kepada pola asuransi yang berbasis “sosial” dengan value propotition untuk “menolong orang lain” ketimbang “buat saya sendiri”.  

Selama ini, kita melihat dan merasakan pola promosi dan penjualan asuransi (syariah) mengarah kepada egosentris bagi pemegang polis dengan menawarkan proteksi bagi diri pemegang polis semata. Namun dalam beberapa waktu terakhir sudah terlihat pergeseran pola konsumsi para pemegang polis. 

Setidaknya ini yang terlihat di industri asuransi syariah. Produk asuransi syariah yang memberikan manfaat “kepada orang lain” terlihat semakin populer. Contoh sederhana yang terlihat adalah produk wakaf. 

Sebagai pengingat, wakaf adalah berupa donasi yang diberikan seseorang. Wakaf ini hampir serupa dengan sedekah, namun perbedaan terletak pada durasi manfaat atas obyek yang didonasikan. Apabila sedekah memberikan manfaat sesaat (misal membagi makanan), maka manfaat wakaf terus berjalan seiring utilitas dari obyek yang diwakafkan, misalnya tanah atau bangunan untuk tempat ibadah. Selama masyarakat masih beribadah di tempat tersebut, maka manfaat wakaf akan terus berjalan. Bagi seorang muslim, diyakini kebaikan wakaf akan terus mengalir walau seseorang sudah berada di alam kubur. 

Fenomena wakaf ini sedemikian dahsyatnya. Negara pun memberikan perhatian khusus untuk itu. Hal ini pun terlihat di perbankan syariah yang juga turut memasarkan cash waqf linked sukuk. Artinya, produk yang dikaitkan dengan pemberian manfaat kepada orang lain (bukan bagi dirinya sendiri) semakin populer dan menjadi gaya hidup baru. 

The Next Level of (Sharia) Insurance 

Berbagai uraian di atas, kombinasi antara perlindungan (protection), manajemen risiko (risk management), berbagi (burden sharing) dan manfaat (helping others) seakan adalah sebuah utopia. Sepertinya “terlalu bagus” bila konsep tersebut ada.

Betulkah begitu? 

Selamat datang di era berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Welcome to the next level of (sharia) insurance. Sebuah konsep asuransi (syariah) yang mengedepankan value untuk berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. 

Asuransi syariah adalah pengelolaan risiko dengan konsep berbagi berupa tolong-menolong. Terdapat beberapa manfaat yang bisa diperoleh apabila seseorang menerapkan asuransi syariah. Manfaat pertama bisa diperoleh seseorang apabila di saat ia mengalami musibah, ia “beruntung” dimana ia mendapati orang lain yang bersedia dan siap menolongnya. Manfaat kedua adalah bagi seseorang yang tidak mengalami musibah, maka ia pun “beruntung” mempunyai kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan menolong orang yang sedang mengalami kesusahan. 

Lebih dahsyatnya lagi, konsep ini terbuka bagi semua pihak. Tanpa memandang latar belakang, gender, usia, agama, sikap politik, ras, suku bangsa, warna kulit, pekerjaan, jabatan, strata ekonomi atau perbedaan apapun. Semua keragaman berbuah keindahan. 

Salam Berbagi dan Bermanfaat bagi Sesama! 

Mari Berasuransi Syariah! 

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) dan Ketua Yayasan Asuransi Indonesia.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up