Search and Hit Enter

Kenapa Gagal Bayar?

Notorius

Kenapa gagal bayar? pertanyaan itu yang sering dilontarkan oleh masyarakat setelah mendengarkan berita dua tahun terakhir ada beberapa perusahaan asuransi yang tidak mampu membayar klaim nasabahnya. Suatu hari saya ditanya hal yang sama oleh seorang dosen yang menjadi nasabah perusahaan yang gagal bayar. Besoknya saya ditanya juga oleh karyawan Pemda karena belum mendapat penggantian dari salah satu asuransi jiwa. Hari-hari berikutnya ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh teman-teman lain mulai dari PNS, pedagang,  bahkan sampai direktur perusahaan. Tiada hari tanpa pertanyaan “kenapa gagal bayar“. Harapan mereka ada jawaban yang bisa menjadi rujukan untuk bertindak selanjutnya. 

Namun apalah daya walaupun segudang ilmu asuransi yang kami miliki, tetap saja tidak mampu menjelaskan lebih nyaman dengan bahasa-bahasa yang popular. Tentu saja kita tidak mungkin menjawab pertanyaan masyarakat dengan teori-teori asuransi atau prinsip-prinsip asuransi yang hanya dipahami oleh pelaku usaha asuransi saja. Mereka tidak paham dan tidak akan mau tahu apa itu Utmost Good Faith, Claim Reserve, investment, yield, Reinsurance dan lain-lain.  

Kasus geramnya Gubernur Maluku akhir-akhir ini karena merasa dikhianati salah satu perusahaan asuransi menambah panjang isu miring tentang asuransi di masyarakat. Bayangkan sekelas gubernur meminta masyarakatnya agar tidak berhubungan dengan asuransi mana pun dan sebagus apa pun program yang ditawarkannya. Artinya ada jutaan orang yang ada di wilayah kepemimpinannya mendengar himbauan ini. Bila saja masyarakatnya patuh, maka ada potensi pasar asuransi yang akan hilang. Tidak hanya itu, saat ini ada juga beberapa kasus-tuntutan klaim nasabah-nasabah beberapa asuransi yang meminta uangnya bisa kembali baik di Jakarta maupun daerah-daerah. 

Gagal bayar perusahanaan asuransi ini seolah jadi trending topic, seolah asuransi saat ini menjadi terkenal karena “keburukannya”. Bak seorang artis yang terkenal karena kasus miring yang menimpanya.  Fenomena ini disebut Notorius. Dalam Bahasa Inggris Notorius diartikan terkenal karena hal yang buruk. Di dunia bisnis kasus seperti ini memang bisa terjadi. Notorius bisa melumpuhkan brand awareness yang sudah dibangun bertahun-tahun dengan cost yang sangat tinggi dan sumber daya perusahaan yang sangat besar. Begitu bahayanya Notorius ini, bahkan di Amerika ada namanya Notorius Market List, daftar perusahaan-perusahaan berskala besar tapi melakukan transaksi-transaksi ilegal.

Dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam ini akhirnya penulis menduga-duga. Hipotesa pertama,  gagal bayar terjadi karena pengawasan yang lemah. Hipotesa kedua, gagal bayar terjadi karena integritas SDM yang buruk. Mari kita perhatikan satu persatu.

Pengawasan

Hipotesa pertama lebih mempertanyakan kemana peran pengawasan OJK, Asosiasi, KAP, Komisaris Independen, Internal Audit dan lain-lainnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB (termasuk asuransi). Salah satu tools pengawasan OJK adalah adanya laporan-laporan bulanan, triwulanan, semesteran dan tahunan, baik dari aspek keuangan, tata kelola, permodalan, manajemen risiko dan lain-lain. Terlebih lagi OJK mempunya kewenangan untuk melakukan Fit and Proper Test bagi para calon direksi dan komisaris serta pemegang saham pengendali. Jadi rasa-rasanya tidak ada celah sedikit pun bagi perusahaan asuransi untuk melakukan kesalahan tata kelola atau bahkan fraud.

Asosiasi yang berhubungan langsung dengan perusahaan asuransi adalah AAUI (Asosiasi Asuransi Umum Indonesia) dan AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia). Keduanya memiliki fungsi menjadi mitra pemerintah dan OJK dalam hal pembinaan dan pengawasan kegiatan usaha asuransi. Ada lebih dari seratus perusahaan asuransi yang menjadi anggota kedua organisasi ini yang setiap saat berdiskusi membahas perkembangan industri. Ada banyak pertemuan-pertemuan, seminar-seminar, pelatihan-pelatihan yang diadakan asosiasi ini. Rasa-rasanya dengan komunikasi yang inten antara asosiasi dan perusahaan asuransi akan mudah untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang sedang menimpa anggotanya.

Selanjutnya pera akuntan publik. Akuntan publik  berperan memberikan keyakinan atas kualitas informasi keuangan, dengan memberikan pendapat yang independen atas kewajaran penyajian informasi dalam laporan keuangan. Jadi, apabila ada masalah dalam prosedur dan penyajian data keuangan dari perusahaan asuransi maka akan mudah diketahuai oleh KAP. Terlebih saat ini setiap Kantor Akuntas Publik harus terdaftar di OJK dan diawasi OJK juga. Dengan demikian KAP yang bertugas meng-audit suatu perusahaan asuransi tentunya akuntan publik yang kompeten yang terseleksi secara profesional. 

Pengawasan lain adalah Komisaris Independen di perusahaan asuransi yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 73 /pojk.05/2016 tentang Tata Kelola Perusahaan yang baik bagi perusahaan perasuransian. Dalam peraturan  tersebut disebutkan. Komisaris Independen mempunyai tugas pokok melakukan fungsi pengawasan untuk menyuarakan kepentingan pemegang  polis, tertanggung, peserta, dan/atau  pihak yang berhak memperoleh manfaat. Komisaris independen dalam melakukan fungsi pengawasannya dibantu oleh komite audit dan komite pemantau risiko yang paling sedikit satu kali sebulan melakukan rapat komite. Komite Audit bertugas membantu Dewan Komisaris dalam memantau dan memastikan efektifitas sistem pengendalian internal dan pelaksanaan tugas auditor internal dan auditor eksternal dengan melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perencanaan dan pelaksanaan audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian internal termasuk proses pelaporan keuangan. Sedangkan komite Pemantau Risiko bertugas membantu Dewan Komisaris dalam menjalankan pemantauan terhadap pelaksanaan manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai toleransi risiko yang dapat diambil oleh Perusahaan. Dengan pengawasan yang melekat dan intensitas yang tinggi oleh komisaris independen, rasa-rasanya tidak mungkin akan terjadi pembiaran masalah-masalah internal perusahaan, apalagi sampai terjadi gagal bayar.

Audit Internal (Internal Audit) adalah suatu fungsi penilaian independen yang dibuat dalam suatu perusahaan dengan tujuan menguji dan mengevaluasi berbagai kegiatan yang dilaksanakan perusahaan. Dengan adanya audit internal maka akan  membantu manajemen perusahaan dalam memberikan pertanggung jawaban yang efektif. Dilihat dari keberadaanya, Audit internal lebih tahu kondisi  internal perusahaan ketimbang organ-organ pengawas lainnya karena mereka bekerja di dalam organisasi dan setiap hari bisa melihat semua aktifitas perusahaan. Bila ini berjalan baik tentu akan memberikan masukan-masukan yang konstruktif terhadap pimpinan perusahaan.

Sumber Daya Manusia

Hipotesa kedua mempertanyakan sejauh mana integritas sumber daya manusia (SDM) perusahaan asuransi yang gagal bayar. Seperti kita tahu, kelangsungan suatu  perusahaan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang ada, baik kualitas maupun kuantitasnya. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan perusahaan. Berhasil tidaknya suatu usaha, sebagian besar ditentukan oleh perilaku-perilaku manusia yang melaksanakan pekerjaan. Ketika penempatan Direksi dan karyawannya tidak sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya bahkan tidak memiliki integritas yang baik, maka akan berpengaruh pada hancurnya kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Ada kisah menarik berkaitan dengan integritas SDM ini. Ketika bangsa Tiongkok ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar yang dikenal dengan the Great Wall . Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena kekuatan dan ketinggian tembok tersebut. Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Tiongkok terlibat tiga kali perperangan besar. Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang the great wall. Tiongkok di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok raksasanya, tapi mereka lupa membangun manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.

Dengan hipotesa-hipotesa ini, mungkinkah masalah-masalah gagal bayar asuransi ini karena pengawasan yang tidak jalan? Ataukah karena integritas pelaku usahanya yang buruk? 

Sepertinya perlu adanya  riset dari OJK dan AAUI/ AAJI agar menemukan formula jitu untuk membangun industri yang kita cintai ini agar lebih governance  ke depannya. 

Kita optimis masa depan industri perasuransian tetap bersinar seiring dengan pembenahan tata kelola perusahaan yang terus menerus dilakukan semua pihak dan bonus demografi Indonesia sebagai pangsa pasar yang menarik bagi usaha perasuransian.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Wakil Ketua II, Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti. Komisaris Independen PT. Sahabat Insurance

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up