Search and Hit Enter

Meraup Premi dari Fintech

Banyak bisnis baru yang dimunculkan oleh internet. Masa depan bisnis ditentukan oleh digital. Yang tak mendigitalisasi, bakal tergilas. Yang terlambat mendigitalisasi, hanya mendapat ampas.

Salah satu bisnis atau industri baru yang muncul di Indonesia dalam empat tahun terakhir adalah fintech peer-to-peer lending (P2PL) atau fintech lending. Ada banyak jenis fintech yang hadir di Indonesia. Fintech jenis lainnya sudah muncul lebih dahulu, khususnya untuk tranksaksi pengambilan uang (ATM) dan internet banking. Fintech P2PL hadir dan langsung mencatatkan torehan yang mengagumkan.

Jumlah fintech resmi yang di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia per Juni 2020, ada sebanyak 299 perusahaan. Fintech berjenis P2PL mendominasi, disusul oleh fintech payment, dan jenis inovasi keuangan digital lainnya.

Data OJK hingga September 2020 menyebutkan, akumulasi penyaluran pinjaman di fintech P2PL sebesar 128,7 triliun (naik 113,05% yoy). Jumlah rekening pengguna sudah sekitar 30 juta. Sementara itu jumlah outstanding pinjaman sebesar Rp12,71 triliun. Industri  fintech P2PL tumbuh sangat pesat dengan prosentase pertumbuhannya selalu jauh di atas rata-rata pertumbuhan industri jasa keuangan setiap tahunnya. 

Fintech P2PL tergolong dalam jenis crowdfunding. Kemunculannya diniatkan untuk membantu pendanaan untuk masyarakat yang masuk kategori unbanked & underserved. Mereka adalah masyarakat yang tergolong masyarakat bawah dengan usaha kelas mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak di antara mereka tidak dapat mengakses pendanaan pada lembaga keuangan tradisional dan adanya kebutuhan khusus. Keterbasan mengakses pendanaan menjadikannya tak mudah mengembangkan bisnisnya. 

Di sisi lain, banyak orang yang memiliki uang ingin memutar dan memberikan kontribusi kepada masyarakat kalangan bawah. Orang-orang seperti ini perlu difasilitasi agar dapat dipertemukan dengan kalangan yang membutuhkan pendanaan. Muncullah plaltfom fintech P2PL. Posisinya hanya sebagai platform yang mempertemukan pihak yang membutuhkan pinjaman (borrower) dengan pihak yang memiliki dana dan bermaksud memberikan pinjaman (lender). 

Transaksi dalam fintech P2PL berbeda dengan transaksi pinjaman di bank atau lembaga pembiayaan. Pihak yang pinjam di bank atau lembaga pembiayaan, transaksi pinjamannya adalah kepada bank atau lembaga pembiayaan. Sedangkan di fintech P2PL, pihak yang meminjam (borrower) bertransaksi langsung meminjam ke lender. Transaksi dilakukan melalui internet (website atau aplikasi) tanpa ada pertemuan fisik yang difasilitasi oleh platform fintech P2PL.

Peran Asuransi

Apa hubungannya industri fintech P2PL dengan asuransi? Di industri perbankan, bank menggunakan fasilitas asuransi/penjaminan kredit untuk kredit yang disalurkannya ke debitur. Asuransi/penjaminan kredit adalah salah satu metode dalam mitigasi risiko kredit. Saat debitur gagal mengembalikan kredit sesuai perjanjian kredit, maka perusahaan asuransi/penjaminan kredit akan membayar kerugian sesuai dengan terms & conditions dalam polis kepada bank.

Ada perbedaan utama tranksasi di perbankan dengan fintech P2PL. Di dalam industri fintech P2PL, sesuai dijelaskan di atas, yang memberikan pinjaman/pendanaan adalah lender, bukan perusahaan fintech P2PL. Ini artinya risiko kredit ada di lender. Lender sepenuhnya menanggung kerugian apabila borrower gagal mengembalikan pinjamannya. Platform tidak ikut menanggung risiko kredit dan tidak dibolehkan menjamin risiko tersebut.

Menggunakan jasa asuransi kredit atau tidak adalah opsi bagi lender. Bagi yang tergolong risk taker, dimungkinkan tidak perlu mengasuransikan pinjamannya. Tapi bagi yang menimbang secara matang dan perlu manajemen risiko yang lebih baik, mengasuransi pinjaman adalah pilihan yang tepat. Tentu konsekuensinya adalah membayar premi.

Platform fintech P2PL diharuskan menyediakan opsi bagi lender untuk memilih atau tidak memilih asuransi yang disediakan. Pilihan asuransi ada di preferensi lender. Sama dengan saat kita bertransaksi pembelian barang di e-commerce, pembeli punya hak untuk memilih barang diasuransikan atau tidak. 

Bagi pelaku industri asuransi, pasar fintech P2PL adalah potensi pasar yang sangat besar. Terlebih pertumbuhannya sangat tinggi. Saat ini beberapa perusahaan asuransi sudah menjadi rekanan untuk menutup risiko pinjaman macet di transkasi fintech P2PL.

Ada anggapan bahwa menutup risiko pinjaman macet ini tinggi risikonya. Industri asuransi tentu dapat memahami dan menyiasati bagaimana menutup risiko yang masuk dalam kategori risiko tinggi. Untuk menilai tinggi rendahnya suatu risiko yang ada dijamin, ada beberapa hal yang bisa dilihat dalam transaksi fintech P2PL. 

Pertama, besarnya pinjaman macet. Nilainya dapat ditanya ke platform fintech P2PL atau dilihat di sisi kanan atas di website platform tertulis “TKB90”. TKB90 adalah tingkat keberhasilan bayar peminjam hingga 90 hari sejak jatuh tempo. Ini mengukur kemampuan bayar peminjam. Jika mendekati 100%, maka berarti semakin bagus karena pengembalian pinjaman hingga 90 hari sejak jatuh tempo mendekati 100%. Jika tertulis TKB90 = 95%, artinya pinjaman yang macet (tidak dibayar melebihi 90 hari sejak jatuh tempo) sebesar 5%.

Kedua, scoring system dan artificial intelligence (AI) yang dimiliki platform. Sistem skoring dan AI ini adalah andalan platform fintech P2PL. Posisinya mengganti analisis kredit yang umumnya dilakukan oleh manusia. Semua analisis dilakukan oleh mesin dengan dukungan data (big data) yang dimiliki platform. Untuk meningkatkan kemampuan sistem skoring ini, patform membutuhkan big data  yang didapat dari banyak sumber.

Ketiga, model bisnis yang dimiliki fintech P2PL. Ada bentuk pinjaman dengan jenis multiguna dan ada yang produktif. Pinjaman multiguna umumnya nilai pinjamannya tidak besar. Dokumen dan persyaratan pinjaman biasanya sederhana dan mudah (umumnya hanya foto KTP dan foto/video singkat). Untuk model pinjaman produktif banyak macamnya, misalnya untuk UMKM, pertanian, atau perikanan. Sebagian fintech P2PL dengan model pinjaman produktif ada yang mensyaratkan kolateral. Nilai yang dipinjamkan biasanya lebih besar dari pada pinjaman multiguna.

Keempat, seperti lazimnya sebelum menutup risiko, perusahaan asuransi perlu melakukan know your customer. Dalam konteks tranksasi yang dibahas di sini adalah mengenal rekam jejak dan reputasi platform fintech P2PL dan orang/bisnis di belakangnya. 

Kesiapan Perusahaan Asuransi

Menutup risiko kredit membutuhkan kemampuan memahami sifat bisnisnya. Terlebih risiko kredit dekat dengan moral hazard. Bahkan dalam referensi buku era dulu untuk ujian sertifikasi perasuransian, risiko kredit ini sempat dimasukkan dalam risiko spekulatif.

Ada satu prasyarat lagi agar transaksi asuransi pinjaman di industri fintech P2PL lancar, yakni membutuhkan kesiapan teknologi informasi perusahaan. Perusahaan perlu melakukan koneksi melalui application programming interface (API). Dengan terintegrasinya antara perusahaan asuransi dengan platform fintech P2PL, proses asuransi kredit akan makin mudah dan nyaman.

Yang pasti, ada banyak model bisnis yang berubah akibat digitalisasi. Ada potensi besar yang harus ditangkap oleh pelaku industri asuransi agar tak terlambat mengantisipasinya. Perkembangan cepat industri fintech P2PL hanyalah sebagian dari perubahan besar saat ini dan masa mendatang yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri asuransi.

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2020)

Bekerja di Otoritas Jasa Keuangan, salah seorang pendiri KUPASI.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up