Search and Hit Enter

Asuransi Ibarat Ban Serep

Di Indonesia, pada sebagian besar masyarakat, asuransi masih dianggap bukan barang penting. Sejatinya asuransi itu barang mewah. Dari semua jenis asuransi, minim saja penetrasi asuransi kita. Hanya seperempat populasi kita yang sadar asuransi, memahami betapa berharganya ikut asuransi. Mereka menghayati peran besar asuransi dalam melindungi kehidupan, memudahkan hidup, dan memelihara kualitas hidup. Mengapa? 

Oleh karena kita tidak pernah tahu kapan musibah itu datang menimpa. Sesungguhnya hidup ini penuh dengan risiko. Suatu hari kita pasti menghadapinya. Risiko itu mahal. Belum tentu kita sanggup memikulnya sendiri. Bisa jadi kita menjadi betul tidak berdaya, bahkan untuk menyelamatkan diri kita sendiri sekalipun. 

Asuransi bisa diandalkan untuk membantu hidup kita, hidup keluarga kita, dari kesulitan yang sebetulnya belum tentu bisa kita atasi apabila hidup kita rencanakan. Salah satu rencana besar dalam hidup kita itu, kita ikut asuransi.

Ban serep

Asuransi ibarat ban serep. Ia terlupakan manakala dalam hidup kita segalanya lancar. Ketika menjalani hidup tanpa hambatan, tanpa kendala, atau hadir musibah. Tapi siapa bisa menduga kapan peristiwa yang membuat hidup kita menjadi tidak nyaman itu datang menimpa kita. Tapi pasti datang suatu hari entah kapan. Maka risiko hidup perlu ditatakelola.

Kalau umpama ban mobil kita yang sedang enak-enaknya meluncur, mendadak kempis, tanpa kita bisa menduganya, ban serep yang menjadi juru penolongnya, sehingga perjalanan hidup bisa kita lanjutkan. Kita masih tetap bisa tetap nyaman menjalani kehidupan kita. Terlebih kalau ban kempisnya terjadi malam hari, di tengah hutan, jauh dari pemukiman, sungguh betapa berharga ban serep menolong perjalanan hidup kita.

Tapi ban serep umumnya terlupakan ketika ia tidak dibutuhkan. Betul ia berada di dekat kita, namun sering kita abaikan. Orang pintar merasa perlu mengingat ban serep pelindung hidupnya. Apakah ban serep kita tidak kurang angin, dalam kondisi siap bila sewaktu-waktu dibutuhkan. 

Berkat ban serep mobil kehidupan kita, maka hidup kita jadi lebih tenang, tidak risau, tidak pula perlu khawatir, hanya karena yakin suatu hari ban sereplah yang akan menolong hidup kita, supaya hidup kita senantiasa berjalan lancar, membawa kita hidup tak terkendala oleh kendala kehidupan, terutama oleh musibah.

Life Planner 

Supaya tetap indah, hidup perlu dikelola. Bahkan semenjak masih di awal karier kita. Perlu menyusun rencana yang matang. Pertama, agar lancar karier kita bina. Kedua, supaya perolehan yang kita petik nanti utuh kita nikmati tidak sampai dirongrong oleh musibah atau entah apa yang mau tidak mau bakal kita hadapi juga. Makin besar kita memiliki risiko yang menjadikan kita terkena musibah, makin perlu merencanakan hidup kita dan siapa yang akan menjadi pelindung sampai akhir hayat kita.

Hidup mungkin menjadi sia-sia hanya karena akibat musibah yang harus kita  alami, yang mungkin merusak, bahkan menghancurkan hidup kita. Apabila kita tidak mampu mengatasi biaya pengobatan penyakit yang mengancam nyawa kita, misalnya.

Faktanya lebih besar risiko orang Indonesia untuk terkena penyakit kritis, kelompok penyakit yang butuh ongkos sangat tinggi. Penyakit kritis orang Indonesia terbilang tinggi oleh karena pemeliharaan kesehatan rata-rata kita yang belum tinggi. Kita kurang penuh menjaga dan memelihara kesehatan kita, dan kehadiran penyakit diabaikan tanpa segera mengobatinya, sehingga penyakit apapun berujung penyakit kritis. 

Biaya mengongkosi penyakit kritis belum tentu kita siap membayarnya, hanya dengan kemampuan keuangan kita sendiri. Penghasilan yang kita kumpulkan sekalipun belum tentu cukup untuk ongkos berobat penyakit kritis. Kenyataan, penghasilan kita kalah untuk mengejar laju kenaikan ongkos berobat dari tahun ke tahun. Ujungnya, kita tak berdaya melawan penyakit, dan nasib kesehatan kita mungkin berakhir kehilangan nyawa, saking secara finansial kita tak mampu lagi. Pada titik lemah kita itulah, asuransi maju ke depan. Asuransi mengubah nasib kesehatan kita, mengatasi risiko apapun yang kita hadapi.

Ikut asuransi berarti menjadi perencana hidup yang cerdas tata kelola menghitung risiko kehidupan. Hanya dengan menyisihkan sedikit penghasilan memperoleh polis asuransi, memberdayakan kita memikul beban tanggungan risiko kehidupan. Risiko yang bisa jadi tak mungkin kita pikul seorang diri, berapa pun besar tabungan penghasilan kita. 

Kisah pasien harus menjual rumah dan semua hartanya untuk berobat penyakit kritis,  kanker, misalnya, bukankah betapa menjadi tragisnya hidup ini. Sudah bersusah payah kita membanting tulang dari muda, uang yang kita kumpulkan habis untuk ongkos berobat, bahkan belum tentu cukup.

Apalagi bagi masyarakat kebanyakan dengan penghasilan tidak tinggi. Mereka justru kelompok lebih rentan jatuh sakit, lebih besar risiko mengalami penyakit kritis yang ongkosnya cenderung tidak berhingga. Mereka lebih membutuhkan perlindungan asuransi.

Peran asuransi mencakup bukan saja untuk bantu menanggung risiko yang pasti terjadi menimpa hidup kita, melainkan termasuk untuk jaminan pendidikan anak, dan hari tua yang indah. Bagaimana hidup ini dengan bagus kita rencanakan, supaya kelak meraih hari tua yang berbahagia, tanpa harus dirongrong oleh beban risiko penyakit. Asuransi juga bisa melakukan peran sebagai cara kita berinvestasi.

Cita-cita dunia sekarang bagaimana meraih hidup berbahagia. Untuk mencapai hidup yang berbahagia sampai sepanjang hayat, hidup perlu direncanakan. Kitalah life planner pribadi untuk hidup kita. Bagaimana agar cantik mengelola keuangan kita, dan merencanakan, kita perlu bantuan. Barangkali tidak kita temukan cara lain untuk menolong agar hidup kita sejahtera, lalu berbahagia, selain kita berasuransi.

Dunia sudah membuktikan peran sentral berasuransi untuk membuat hidup kita sebagai insan, tetap indah. Tak perlu ada kesangsian, atau menunda meminta bantuannya sekarang. Jangan tunggu musibah terlanjur menimpa kita. Jangan tunggu saat kita tak punya tabungan cukup membayar ongkos berobat kita. Jangan tunggu tak mampu menyekolahkan anak, atau  membiarkan terlepas peluang yang menjamin hari tua yang bisa membuat kita berbahagia.

Ketika semua yang tak nyaman itu datang mengancam kehidupan kita, tak seorang bisa menolong kita. Tidak juga orangtua, bukan pula istri, suami, atau anak kita. Bahkan bukan juga pemerintah kita. Kita sendiri yang akan mampu menolong hidup kita. 

Keputusan kita berasuransi yang akan menolong kita, sebelum itu semua terjadi menimpa kita, merongrong hidup kita yang mestinya bisa dirancang menjadi nyaman, aman, sejahtera, lalu kita berbahagia. Sekali lagi, bukankah tujuan insan di dunia sekarang bagaimana cerdas meraih kebahagiaan hidup. Asuransi hendaknya menjadi teman pengawal hidup kita.

Bahwa hidup ini sesungguhnyalah sangat indah. Asuransi yang memungkinkan membawa kita ke sana.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)

Henrikus Purwo Sukiyan, lahir 13 Juli 1984. Lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, Pernah bekerja di PT Dipa Pharmalab Intersains – PT Chubb Life Insurance, sekarang di PT Padi Hijau Buana.

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up