Search and Hit Enter

Pedagang, Drama Korea, dan Dana Darurat

Mat Tukul, Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan pecel lele di daerah Depok, Jawa Barat, menjadi langganan saya sejak tahun 2021 sampai saat ini. Dipanggil Mat Tukul, karena mirip sekali dengan pelawak Tukul. Nama aslinya, Ahmad Supriyanto  dan tergolong masih milenial. Mat Tukul seorang yang hanya tamatan SMP, namun mempunyai logika berpikir sarjana dan kepedulian antar sesama. Dia  menjadi pencetus silaturahmi dan kegiatan arisan serta pengadaan kas bagi PKL di daerah sekitar.

Tujuannya untuk silaturahim yang diisi kegiatan menabung dan kas untuk masa depan. Gagasan dan kegiatan ini  berawal karena dulunya dia sering sakit-sakitan dan uangnya habis digunakan untuk berobat. Kemudian Mat Tukul mulai menabung untuk keperluan dirinya bahkan bisa sampai menikah dari hasil menabung.

Setelah menikah sikap berhemat dan kepentingan masa depannya makin diperhatikan. Hal ini terinspirasi dari  drama Korea yang sering ditonton bersama istrinya sesaat sebelum berjualan. Mat Tukul jadi suka drama Korea karena selain tentang percintaan dan keluarga juga paling banyak menyelipkan tentang finansial. Pantas saja, indeks literasi keuangan di Korea Selatan mencapai 66,8% dan literasi asuransinya hampir mencapai 90% (FSS, Bank Of Korea, 2020).

Menurutnya, drama Korea yang paling sering ditonton dan menarik adalah kisah Choi Kang Soo dalam Strongest Deliveryman (2017), seorang pengantar makanan yang akhirnya sukses menjadi CEO sebuah perusahaan aplikasi pengiriman. Dalam perjalanan, banyak rintangan yang harus dihadapi Choi Kang Soo, termasuk persaingan bisnis makanan dan layanan pengantaran. Bersama Lee Dan Ah, keduanya saling bekerja sama dan terus  berjuang dengan menabung, hidup sederhana dan fokus mencari uang. Akhirnya Kang Soo berhasil memiliki banyak uang sebagai modal untuk menjalankan bisnis sendiri.

Inspirasi lainnya datang dari kisah Park Sae ro-yi dalam Itaewon Class (2020) yang mengembangkan bisnis restoran demi mengalahkan orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Dari uang asuransi jiwa yang ditinggalkan ayahnya, Park Sae ro-yi bertekad untuk sukses dan mandiri secara finansial. Ia mulai dengan belajar dan mendirikan restoran hingga akhirnya bisa sukses.

Kisah Choi Kang Soo dan  Park Sae ro-yi membuatnya mengerti perjuangan hidup, membangun  strategi untuk bertahan dalam persaingan bisnis dan mengelola keuangan dengan baik. 

Melalui kas yang diperuntukan sebagai dana darurat antar PKL, Mat Tukul  pernah membantu rekan PKL mengalami musibah kebakaran terhadap gerobak dan mencederai beberapa pedagang tersebut akibat ledakan dari tabung LPG. Parahnya, para pedagang tidak ada satu pun yang mempunyai asuransi kesehatan dari BPJS. Uang kas dan urunan sukarela digunakan untuk sekadar biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit. Namun, kondisinya belum cukup untuk memperbaiki atau membuat kembali gerobak yang telah terbakar dan mengakibatkan tidak cepat untuk dapat berjualan kembali.

Beranjak dari kejadian tersebut, Mat Tukul berpikir bahwa uang kas saja tidak cukup apabila ada kejadian atau musibah yang lebih besar, diperlukan perlindungan atau mekanisme perlindungan finansial lainnya.  

Karena teringat cerita Park Sae ro-yi,  dia mulai mencari tahu apa itu asuransi dan bagaimana mendapatkannya. Menurutnya, asuransi mempunyai tujuan yang sama yakni sebagai dana darurat untuk masa depan, namun bedanya dikelola secara profesional oleh peruahaan asuransi dan harus menyisihkan secara rutin iuran setiap bulan atau tahunan untuk perlindungan jiwa dan harta benda. Selain itu, proses keikutsertaan asuransinya juga mudah dan cepat, dapat lewat perangkat smartphone android dan IOS. 

Akhirnya, Mat Tukul mengambil program asuransi mikro yang disertai risiko jiwa, kebakaran dan gangguan usaha dengan iuran sesuai dengan penghasilannya dan juga  PKL lain pada komunitasnya. Asuransi mikro ini  memang cocok untuk PKL atau juga pedagang lain seperti pedagang pasar tradisional dan pasar modern. Selain itu, asuransi mikro syariah dapat menjadi pilihan bagi pedagang yang ingin membeli produk sesuai keyakinannya. 

Mat Tukul sadar, pentingnya perlindungan atas risiko sama dengan kebutuhan sehari-hari dan merupakan dana darurat yang  lebih utama dari menabung dan pengeluaran lainnya seperti investasi. Baginya proteksi dapat memperkuat perencanaan keuangan. 

Contohnya, dengan mengikuti asuransi mikro stop usaha, kita dapat terlindungi dari risiko-risiko yang berkaitan dengan pedagang dan mampu pulih dengan cepat untuk kembali berdagang dari musibah yang terjadi sehingga menghasilkan keuntungan yang digunakan untuk operasional kembali, menabung,  investasi bahkan keperluan sedekah dan zakat.

Kisah Mat Tukul yang juga terinspirasi dari drama korea, membuat kita kembali mengingat bahwa dana darurat itu sangat penting. Tidak hanya untuk perlindungan dalam mempersiapkan dana darurat, tapi tetap dibutuhkan guna bertahan dan menjaga kelangsungan bisnis.

Penggunaan asuransi menjadi penting bagi pedagang karena merupakan indikator dalam mempercepat pemulihan dan menjadi pilar perekonomian nasional. Pedagang masuk dalam ruang lingkup Unit Kecil Menengah (UKM) yang memberikan kontribusi terhadap PDB Indonesia sebesar 61,97%. UKM masih didominasi hampir 98% oleh sektor informal yakni usaha mikro dan kecil (BPS, 2020). Selain itu, juga menunjang tujuan Sustainable Development Goal (SDGs) dalam memberantas kemiskinan yang akan berakhir pada tahun 2030.***

(Artikel ini bagian dari program “Bulan Menulis Asuransi” dalam rangka Hari Asuransi 2022)

KUPASI – 093, Pendiri Young Indonesian Insurance Professionals (YIIPs), Kepala Pelatihan dan Sertifikasi IIS,  Dosen FEB UPN Veteran Jakarta

No Comments

Leave a Reply

Scroll Up